
Nadia menatap tidak percaya dengan apa yang diputuskan suaminya itu. Dengan mudahnya Juna mengatakan akan menuruti apa yang diminta Bu Ranti, tanpa peduli dengan perasaannya.
“Juna! Kam–”
“Stt!” Juna meletakkan jari telunjuknya di bibir. “Bu, aku ingin bicara dengan Nadia sebentar.”
“Baiklah.”
Bu Ranti tersenyum sembari menatap punggung Juna yang menarik tangan Nadia, kemudian kedua orang itu hilang ditelan pintu kamar. Setidaknya ia berhasil membuat Juna patuh untuk tidur di kamar Aru malam ini.
“Ibu?!” Juna terkejut melihat Ibunya masih setia berdiri di sana saat dirinya baru saja membuka pintu kamar. “Kenapa Ibu masih di sini?”
“Tentu saja menunggumu untuk diantarkan ke kamar Aru.”
Juna mendelik tidak percaya. “Aku bisa sendiri ke sana, Bu.”
“Memangnya kamu tahu yang mana kamarnya?” Juna diam karena kamar tamu di rumahnya ini lebih dari lima. “Sudahlah, ayo! Tidak usah banyak bicara lagi. Ibu harus memastikan sendiri kamu benar-benar tidur di kamar Aru malam ini.”
Dengan tangan yang ditarik, Juna berjalan pasrah mengikuti langkah Bu Ranti. Sementara di ambang pintu di belakang tubuh mereka, Nadia menatap kesal berselimutkan marah pada suami dan mertuanya.
Meskipun Juna sudah meyakinkannya bahwa ia hanya akan tidur saja dan tidak mungkin melakukan yang tidak-tidak, tetap saja ia khawatir apalagi Bu Ranti sekarang terlihat begitu gencar mendekatkan Juna dengan Aru.
“Aku tidak akan membiarkan Juna tidur dengan perempuan itu,” gumamnya dengan berpikir keras, cara apa yang akan dilakukan untuk menggagalkan rencana mertuanya yang tidak memikirkan perasaannya itu.
*
“Aru, mulai malam ini dan malam-malam selanjutnya, Juna akan tidur di kamar kamu.”
“Apa, Bu?!” Juna yang terkejut, bahkan matanya sampai melotot seperti mau keluar dari tempatnya. Sedangkan Aru tetap tertunduk dan bergeming. Manalah ia berani untuk membantah perintah Bu Ranti.
“Apanya yang apa? Kamu tidak dengar?”
“Ibu tidak bilang kalau aku akan tidur di sini lebih dari satu malam.”
“Ini Ibu sudah bilang.”
Juna mengusap wajahnya dengan gusar. Berdebat dengan Ibunya tidak akan membuatnya menang.
“Selama Ibu ada di sini, kamu akan tidur di kamar ini bersama Aru. Sana masuk!”
Karena tidak ingin berdebat lebih lama lagi dengan Ibunya, Juna masuk ke dalam kamar tersebut dengan perasaan kesal.
Bukannya ia setuju untuk tidur hingga beberapa hari di kamar ini dengan Aru. Ia hanya tidak mau sampai terjadi keributan yang membuat Nadia akan mendengarnya. Dirinya tadi sudah bersusah payah membujuk istri tercintanya itu supaya mau mengiyakan kehendak Ibu. Juna tidak mau lagi meributkan hal yang sama dengan istrinya itu.
Tetapi sayang, Nadia yang sedari tadi sudah berdiri di belakang pilar mendengar semuanya. Hati wanita itu tidak kalah kecewa dan marah seperti yang dirasakan Juna akan ucapan Bu Ranti.
Nadia semakin meradang tatkala melihat pintu kamar itu dikunci dari luar oleh Bu Ranti, dan kuncinya dibawa pergi oleh mertuanya yang kini sudah berubah menjadi jahat pada dirinya.