
Nadia berjalan mondar mandir di dalam kamarnya, memikirkan cara bagaimana dirinya bisa masuk ke dalam kamar yang mengurung Juna bersama dengan wanita yang terpaksa diterimanya sebagai madu, Arunika.
Entah apa yang mereka lakukan sekarang. Bisa saja Bu Ranti sudah menyiapkan sesuatu yang bisa menjebak Juna di kamar itu. Membayangkan yang tidak-tidak, membuatnya semakin frustrasi. Ia berteriak, menarik kasar selimut dan bantal dan melemparnya ke sembarang tempat.
Belum puas melampiaskan kemarahannya, Nadia berjalan menuju meja rias dan menyapu alat-alat kosmetiknya dengan tangan hingga menimbulkan suara gaduh.
Nadia terduduk di kursi yang ada di depan meja rias tersebut dengan napas tersengal-sengal dan sorot mata menyala-nyala.
Nadia kemudian bangkit diikuti dengan menggebrak meja di depannya. Menatap wajahnya yang terlihat menyedihkan di pantulan kaca meja rias.
Oh, ayolah. Madunya itu hanya seorang gadis jelek dan pendek dan lagi tidak memiliki harta secuil pun. Gadis itu bukan tandingannya dari segi apapun.
Seharusnya ia berterimakasih pada Bu Ranti karena memilihkan wanita seperti Aru menjadi madunya. Karena mana mungkin Juna bisa tertarik pada wanita yang levelnya jauh di bawahnya.
Nadia menyeka air mata yang sudah berani menggenang di sudut matanya dengan jari telunjuk. “Aku akan menendang gadis itu dari kamar itu.”
“Aww...” Namun saat ia baru saja berjalan bermaksud untuk pergi dari kamarnya, kakinya menginjak sesuatu hingga membuatnya mengaduh.
“Sial!” umpatnya setelah melihat serpihan alat kosmetik menancap di telapak kakinya. Ia menarik serpihan itu dan melemparnya dengan kesal.
“Julia!” Berkali-kali ia memanggil pembantunya itu, namun tidak kunjung datang membuatnya semakin meradang. “Ju–” Teriakannya tertahan saat terpikirkan sesuatu karena menyebut nama Julia. “Lebih baik aku yang ke sana dan menanyakannya.”
*
“Nadia?” Juna pikir yang membuka pintu kamar adalah Ibunya. Ia senang bukan main.
Nadia juga turut tersenyum sembari menghampiri Juna yang berdiri di samping tempat tidur dengan berjalan tertatih.
“Kakimu kenapa? Dan bagaimana kamu bisa mendapatkan kunci kamarnya?”
Nadia tidak langsung menjawab. Ia melirik Aru yang juga berdiri di sudut sana, tertunduk dengan tangan saling menggenggam. Ia juga melihat ada selimut yang tergelar di lantai di dekat kaki Arunika. Pastinya itu akan dijadikan sebagai alas tidur mengingat di kamar ini tidak ada sofa.
Nadia semakin melebarkan senyumnya, menyadari tidak ada hal yang aneh di kamar ini dan tidak ada yang aneh juga pada diri Juna maupun Arunika.
“Kakiku hanya sedikit terluka. Dan kuncinya,” Ia menujuk Julia yang ternyata juga ikut ke sana. “Julia menyimpan kunci cadangannya.”
Nadia melepas pelukannya dan berjalan mendekati Aru. Ia harus bergerak cepat jangan sampai Bu Ranti tahu keberadaannya saat ini. “Kamu tidur di kamar Julia.”
“Tapi, Bu....”
“Aku bukan Ibumu!” Nadia mengembuskan napas dengan gusar. Ia berkacak pinggang memandangi wajah Aru yang sepenuhnya tidak bisa dilihat. Gadis itu selalu menunduk bila berhadapan dengannya.
“Kamu tidur bersama Julia. Besok pagi sebelum jam lima, kamu datang lagi kemari. Jangan bilang pada Ibu kalau aku datang ke kamar ini dan kamu tidur bersama Julia. Kamu mengerti?”
“Iya,” jawab Arunika singkat.
“Kamu paham, Julia?” Nadia mengingatkan Julia lagi, karena tadi dia juga sudah berbicara tentang rencananya dengan wanita yang sudah berumur itu namun belum menikah juga.
“Iya, Bu, saya paham.”
“Bagus.”
Arunika bingung. Saat Julia memanggil Nadia dengan sebutan Ibu, Nadia tidak marah.
“Sekarang kalian pergi. Ingat, sebelum jam lima kamu sudah di sini.”
Arunika mengangguk dan bersiap hendak pergi dari sana.Tetapi suara Nadia menahan langkahnya.
“Oh, iya. Sebelum kalian tidur, bersihkan dulu kamar kami.”
“Kamar yang mana, Bu?” tanya Julia bingung.
“Kamarku dan Juna. Kamu pikir kamar kami ada berapa?” balas Nadia kesal.
“Baik, Bu.” Meskipun bingung, Julia mengiyakan. Bingung karena ini masih malam. Biasanya pekerjaan itu ia lakukan esok hari saat majikannya sudah pergi bekerja.
“Kamu juga bisa membantu Julia,” ujar Nadia penuh ejekan.
Arunika mengangguk. Mereka pergi dari sana dan menuju kamar yang akan mereka bersihkan.