
Arunika mengembalikan telepon pintar milik Julia setelah puas bertukar suara dan juga puas memandangi wajah ibunya. Miris sekali hidupnya. Belum bisa memiliki benda kecil berbentuk persegi panjang itu sampai saat ini.
Tadinya dia menanyakan kabar sang ibu melalui telepon rumah. Julia yang saat itu mendengar Aru begitu merindukan ibunya, menyarankan supaya Aru melakukan panggilan video dengan menggunakan ponsel miliknya.
“Mbak, terimakasih banyak, ya. Nanti kalau saya sudah bekerja, saya akan mengganti pulsanya,” kata Aru dengan tidak enak hati karena sudah memakai benda pintar itu cukup lama.
“Iya, Bu Aru. Tidak usah sungkan. Kalau Ibu perlu apa-apa bilang saja sama saya, ya.”
Baik sekali Mbak Julia itu. Dalam hati Aru berdoa supaya hal baik selalu menghampiri Mbak Julia.
“Mbak, apalagi yang harus kita kerjakan?”
“Sudah tidak ada, Bu. Semua pekerjaan sudah selesai. Hanya tinggal memasak saja untuk makan malam nanti,” jawab Julia berbohong. Karena sebenarnya masih ada perintah dari Nadia yang belum dikerjakan. Tidak mungkin bukan, Aru yang adalah juga majikannya di rumah ini terus-terusan ikut mengerjakan pekerjaan yang merupakan tanggungjawabnya sendiri?
Meskipun Aru sudah berulang kali mengatakan supaya tidak segan untuk dimintai tolong, tetap Julia merasa enggan. “Ibu istirahat saja.”
“Oh, begitu, ya, Mbak.” Aru tersenyum merasa senang karena ada niat di hatinya. “Kalau saya pergi keluar rumah sebentar, boleh tidak, Mbak?”
“Tentu saja boleh, Bu.” Julia tidak habis pikir, bisa-bisanya Aru meminta izinnya untuk pergi.
“Terimakasih, ya, Mbak.” Aru pergi dari sana dengan hati yang senang. Berharap saat nanti di luar bisa menemukan apa yang ia cari.
*
Hari sudah petang, hampir menjelang malam saat Aru tiba di rumah. Wajahnya tampak kusut demikian juga dengan pakaiannya.
Ia menelan saliva saat menyadari mobil milik Juna sudah terparkir di garasi. Biasanya mereka—Juna dan Nadia pulang saat menjelang makan malam.
“Itu dia orangnya yang dari tadi ditunggu-tunggu.” Nadia yang melihat Aru masuk langsung menyambut gadis itu dengan tatapan mengintimidasi. “Dari luarnya saja dia kelihatan polos dan lugu. Tapi lihatlah, baru satu hari dia tidak diawasi, sudah berani keluyuran. Apa begini kelakuan kamu yang sebenarnya.” Nadia yang kesal segera menghampiri Aru yang berdiri mematung sambil menunduk.
Sebelumnya Bu Ranti lebih dulu menelepon ke rumah, ingin berbasa-basi dengan Aru makanan apa yang akan di masak untuk makan malam nanti. Saat bicara dengan Julia dan menanyakan keberadaan Aru, Julia bingung menjawabnya karena Aru sendiri tidak memberitahu ke mana akan pergi dan lagi mengatakan hanya pergi sebentar.
“Maaf, Bu,” sesal Aru.
“Ibu, Ibu. Aku bukan Ibumu!”
Aru terdiam.
Nadia bersedekap, “Aku heran kenapa Ibu bisa menyukai wanita seperti dia. Tidak kaya, tidak pintar, tid—”
“Nadia!” Juna menyela ucapan Nadia yang jelas menyakiti perasaan Aru. Entahlah, istri pertamanya itu semakin tidak memiliki sikap dan sifat yang baik.
“Kamu darimana?” tanya Juna pelan namun terasa dingin di pendengaran Aru. Tentu saja dingin, karena Juna pun merasa kesal pada Aru. Dari cerita Julia, Aru pergi dari siang tanpa mengatakan ke mana akan pergi. Tidak hanya Nadia, ia pun disemprot oleh Ibunya tadi.
“Sa-saya tadi pergi mencari kerja.”
“Apa? cari kerja?” Nadia tertawa mengejek. “Siapa yang ma—”
“Nadia. Biarkan aku yang bicara!” seru Juna dengan penuh peringatan. Melihat Juna yang serius, Nadia langsung merapatkan bibirnya. “Apa sudah ketemu?” Juna melirik Aru yang selalu saja menunduk bila diajak bicara.
“Belum.”
Helaan napas Juna terdengar dengan jelas. “Begini saja. Bagaimana kalau ka—”
Perkataan Juna harus terhenti karena suara ponselnya yang terdengar nyaring. Juna mengambilnya dari saku celana dan di layarnya terpampang nama ibunya. “Ini. Bicaralah dengan Ibu.” Pria beristri dua itu menyerahkan ponselnya pada Aru dan diambil oleh Aru dengan tangan gemetar.