Oh Arunika

Oh Arunika
Bab 12



Author


“Aru, apa benar yang dikatakan Bu Ranti?” Pertanyaan Bu Nita kemudian terdengar gusar bercampur khawatir setelah mendengar dan menyelami pernyataan Bu Ranti.


Arunika yang juga terkejut atas pemberitahuan Bu Ranti, perlahan bahunya turut melemas seiring dengan pertanyaan ibunya yang menuntut jawaban. Ia dibuat bingung, haruskah menjawab dengan jujur atau berkelit agar tidak membuat ibunya kepikiran.


“Aru, jawab pertanyaan Ibu! Apa benar kamu ditangkap karena memiliki utang pada orang-orang itu? Kamu berutang untuk apa? Dan siapa orang-orang itu?” tanya Ibu beruntun. “Jangan-jangan... apa mereka suruhan Master?” Ibu menutup mulut dengan satu tangannya, takut kalau yang baru saja diucapkan benar.


Seketika air mata Aru luruh di pipi saat melihat wajah ibunya yang ia cintai berubah pucat. Ibunya telah mengira kalau dia-lah yang berutang dan itu membuatnya sedih.


Sepasang mata sayu Ibu juga telah dilapisi oleh kristal bening. Tubuh Aru semakin meluruh disertai isakan yang tidak bisa ia kendalikan. Seperti yang sudah-sudah, Aru tidak akan bisa menyembunyikan apapun dari ibunya. Apalagi masalah utang begini.


“Aru, jawab Ibu! Jangan buat Ibu bingung. Apa kamu berutang pada Master?” Suara Ibu ikutan bergetar. Sudut ujung matanya telah tampak setitik cairan bening yang sudah siap untuk jatuh.


Dan setahu Ibu, Aru tidak mungkin meminjam uang pada orang itu kalau tidak dalam keadaan terdesak seperti misalnya harus membayar utang Bapak pada orang lain.


Sekarang Bapak sudah tiada dan suaminya itu sudah tidak memiliki utang pada siapapun. Ibu sudah melunasi utang yang masih tersisa sehari sebelum kecelakaan nahas tersebut. Namun, melihat Arunika yang menangis seperti ini membuat Ibu berpikir kalau memang benar putrinya tersebut memiliki utang.


“Bu Nita, coba tenang dulu.” Bu Ranti sesaat menenangkan Bu Nita yang terus mengguncang bahu putrinya. Memintanya untuk duduk di tempat semula dan memberikan usapan pada punggung asisten rumah tangganya itu.


“Bapak punya utang?” Bu Nita bertanya antara terkejut dan tidak percaya. Utang yang mana, pikirnya.


“Iya, Bu. Bapak punya utang. Sepeda motor yang dipakainya saat kecelakaan dulu, itu adalah milik Master yang dipinjam. Sepeda motor itu hancur. Jadi mereka meminta ganti rugi.”


Kejadian tadi siang terlintas lagi di benaknya, saat kawanan preman tersebut mengejar dan menyakitinya tanpa peduli Aru merintih kesakitan. Betapa kejam hidup ini menyiksanya. Tidak terbayang kehidupan macam apa yang akan dijalani bila dirinya benar-benar dijual.


“Ya Tuhan, Bapaaaak! Sudah mati pun sempat-sempatnya kamu meninggalkan masalah untuk kami!” Bu Nita histeris. Segera Arunika berdiri, memeluk ibunya dengan erat.


“Sudah, Bu, tolong jangan menangis,” pinta gadis itu meskipun dirinya sendiri juga masih menangis.


“Iya, Bu Nita. Tidak perlu menangis. Saya akan membantu untuk membayar utang itu.” Bu Ranti ikut menimpali karena sudah tahu bagaimana perekonomian keluarga tersebut.


“Tapi, Bu... utang kami sudah terlalu banyak kepada Bu Ranti. Bagaimana kami akan melunasinya?” Arunika menanggapi antara senang dan bingung. Keluarganya sudah terlalu banyak meminta bantuan berupa materi kepada wanita baik tersebut.


“Iya, Bu Ranti. Kami sudah terlalu sering meminjam uang Bu Ranti,” timpal Ibu di sela isakannya. “Kami merasa tidak enak.”


Bu Ranti tersenyum hangat, “Tidak usah segan begitu, Bu Nita. Saya sudah menganggap Bu Nita seperti keluarga saya. Saya akan membantu sebisa saya. Besok kita ke rumah orang itu, ‘ya.”