
“Bu, kami akan pulang sekarang.”
Bu Ranti yang saat itu sedang berada di dapur, duduk mengiris bawang seketika menghentikan kegiatannya. Ia melirik putranya yang berdiri menjulang di seberang meja yang menjadi pembatas diantara mereka.
Bu Ranti juga melihat dengan jelas tangan putranya itu menenteng sebuah tas yang ukurannya lumayan besar.
“Kalian pulang sekarang?” tanyanya tidak percaya.
“Iya, Bu, kami pulang sekarang.” Nadia yang menjawab.
“Kalian tidak mendengar apa yang tadi Ibu katakan?”
Bu Ranti mengangkat dagunya untuk melihat wajah putra dan menantunya yang berdiri bersisian. Ia tidak menyangka, ancaman satu jam yang lalu yang ia layangkan tidak membuat pasangan suami istri itu merasa takut kehilangannya. Bahkan kini anak dan menantunya itu terlihat rapi, pertanda mereka akan pergi dan benar-benar tidak mengindahkan permintaannya.
“Bu, ka—” Juna langsung mencengkram lembut tangan istrinya, sebagai isyarat supaya dirinya saja yang berbicara. Ia takut kalau Nadia yang berbicara, bisa-bisa mereka berdebat lagi dengan Ibunya.
“Tolonglah, Bu. Beri kami kesempatan. Kalau kam—”
“Bukankah sebelumnya kamu sudah berjanji, kalau bayi tabung ini gagal maka kamu akan menuruti permintaan Ibu?” Raut wajah Bu Ranti terlihat sedih dan kecewa.
“Bu, apa Ibu tidak sadar kalau Ibu sedang bersikap kekanakan?!” sentak Nadia membuat hati Bu Ranti semakin teriris mendengarnya. Sementara Juna menyentak tangan istrinya itu yang malah memancing keributan lagi.
“Ini adalah masalah rumahtangga kami, Bu. Kalau kami belum diberi keturunan sampai sekarang, itu artinya karena memang belum waktunya. Sudah aku bilang, Ibu seharusnya tidak ikut campur terlalu dalam apalagi sampai menyuruh Juna untuk menikah lagi.”
Nadia mengungkapkan kekesalannya tanpa peduli Juna meneriaki namanya supaya berhenti bicara. Ia menghempas tangan suaminya itu yang sedari tadi mencengkram kuat lengannya.
“Kamu sudah bicara keterlaluan pada Ibu, Nadia!” Padahal tadi Juna sudah mewanti-wanti supaya Nadia bisa mengontrol emosinya saat berbicara dengan Ibu. Tetapi lihatlah, cairan bening telah melapisi kedua bola mata ibunya karena ucapan sang istri.
“Lebih keterlaluan mana, aku atau Ibu?!” seru Nadia menantang. Tidak lupa senyuman getir ia sematkan di ujung bibirnya. Wanita itu benar-benar ingin mengeluarkan rasa sakit di hatinya. “Aku juga maunya dengan mudah bisa hamil. Kamu sendiri tahu, segala cara sudah kita lakukan, kan?” Kini cairan bening pun turut melapisi kedua bola mata cantik Nadia.
“Seharusnya Ibu mengerti perasaanku saat ini. Bagaimana jika Ibu yang ada di posisiku? Apa Ibu akan sanggup membiarkan suaminya yang dicintai menikah lagi?”
Dan kalimat itu sukses membuat air mata jatuh di pipi Bu Ranti. Tidak hanya Bu Ranti, semua orang yang ada di sana merasa sedih dengan apa yang dialami pasangan suami istri itu, termasuk Bu Nita yang berdiri mematung di depan kompor dan juga Arunika yang bergeming di balik pintu kamarnya.
Nadia mengerjapkan mata, lalu menghapus setitik air yang menetes dari sudut matanya. “Aku akan pergi. Terserah kalau kamu memang mau menikah lagi. Tetapi sebelum kamu menikah, kamu harus menceraikan aku dulu.”
Tanpa berkata lagi, Nadia melangkahkan kaki, membawa tubuhnya yang seakan hancur, sehancur hatinya saat ini.
Juna memanggil-manggil istrinya, namun Nadia tidak peduli. Juna yang mulanya bingung, akhirnya mengejar langkah sang istri. Di rumah ini ada Bu Nita yang bisa menenangkan dan menemani Ibunya. Sementara istrinya tidak memiliki siapa-siapa lagi. Ia takut istrinya berbuat yang tidak-tidak.
Lama Bu Ranti tergugu sedih di tempatnya, beliau meminta supaya diantarkan ke kamar.
Bukannya ia tidak mengerti dan memahami apa yang dirasakan Nadia, menantunya. Hanya saja, baik Nadia ataupun Juna tidak tahu kalau Nadia benar-benar tidak akan bisa mengandung, bahkan mustahil melahirkan bayi dari rahimnya sendiri. Dokter Mala yang mengatakannya.
Dokter Mala bukanlah sembarang dokter. Beliau adalah lulusan universitas ternama di Inggris dan sering melakukan seminar di berbagai kota penting yang terkenal di dunia.
Entah obat kimia apa yang telah dikonsumsi Nadia dulu untuk membuat tubuhnya terlihat menarik, saat ini Dokter Mala tengah menyelidikinya. Dan karena mengonsumsi obat keras itu, rahim Nadia tidak bisa menerima pembuahan ataupun transfer embrio dengan baik.