
Seminggu setelah kejadian Juna pergi mengejar Nadia tanpa meninggalkan kata ataupun menenangkan Ibunya terlebih dulu, sejak saat itu pula wajah Bu Ranti semakin hari terlihat semakin murung.
Wanita yang hanya memiliki satu anak itu lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam kamar, menatap pada halaman rumah seakan menantikan kedatangan Juna.
Layar ponselnya juga selalu ia pandangi, tetapi putra yang sangat disayanginya itu tidak pernah menelepon atau mengiriminya pesan. Kesedihan Bu Ranti semakin bertambah dengan hal itu.
“Bu, sudah waktunya makan siang.” Suara seorang gadis membuyarkan lamunannya.
Bu Ranti yang semula menatap nelangsa pada pelataran rumahnya kini tersenyum, namun terkesan dipaksakan. Ia turut melangkah menuju meja kecil yang ada di kamarnya itu, mengikuti Arunika yang juga menuju ke sana. Sejak kepergian putranya, Bu Ranti memilih untuk makan di dalam kamar saja.
Bu Ranti memandangi Arunika yang sedang memindahkan makanan yang dibawanya di atas meja.
“Aru, apa kamu sudah mendapat pekerjaan?”
“Belum, Bu,” jawab gadis itu lemah. Meskipun gadis itu tersenyum, tetap saja tidak bisa menutupi kesedihannya.
“Ibumu sedang apa?”
“Ibu juga sedang makan, Bu.”
Bu Ranti menatap kagum pada Arunika. Semenjak Bu Nita keluar dari rumah sakit, anak gadisnya-lah yang ambil alih mengurus rumah besar ini. Arunika hanya membiarkan Ibunya memasak karena dirinya tidak bisa memasak enak seperti masakan Bu Nita.
Bukan hanya kagum tentang sikap Aru pada Ibunya, Bu Ranti juga kagum dengan sikap gadis itu yang tidak mempermasalahkan kejadian di mana Juna melihat dirinya telan-jang bahkan sampai menabraknya. Arunika hanya menghilangkan diri dalam satu hari, setelahnya ia bersikap seperti biasa seolah tidak terjadi apa-apa.
“Ayo, Bu, dimakan. Jangan melamun terus.” Suara lembut Arunika lagi-lagi membuyarkan lamunan Bu Ranti.
Ibu yang tengah merindukan anaknya itu tersenyum. Senyumannya berada diantara senang dan miris. Arunika yang notabenenya adalah orang lain, bila waktu makan sudah tiba, maka gadis itu akan mengantarkan makanan untuknya.
Meskipun itu memang sudah tugas Arunika, namun Bu Ranti sangat senang mendapat perhatian kecil seperti ini. Sementara putranya sendiri, jangankan datang kemari, menanyai kabarnya saja melalui telepon tidak ada.
“Kamu juga langsung makan, ya.”
*
Arunika menatap kagum pada pemandangan hijau yang ada di kedua sisi tubuhnya. Pemandangan indah yang kedua kali dilihatnya selama hidup. Yang pertama saat perpisahan sekolah kelas 6. Entah bagaimana cara Ibunya dulu membayar uang darmawisata, padahal Bapaknya selalu merampas uang hasil kerja Ibu.
“Kamu suka, Aru?”
“Iya, Bu Ranti. Pemandangannya indah. Udaranya juga sangat segar.” Arunika yang seperti anak kecil, mengeluarkan tangannya ke luar jendela mobil, demi untuk menyentuh tumbuhan liar yang tumbuh di pinggir jalan.
Bu Ranti tersenyum, demikian juga Bu Nita. Namun senyum Bu Nita seketika lenyap, berganti dengan tatapan sendu pada putrinya yang duduk di depan, di samping Pak Sopir.
Sudah lama sekali ia tidak mengunjungi rumah yang menjadi tempat beliau dibesarkan itu. Terlalu sibuk memikirkan dan mengurus keperluan program bayi tabung untuk putra dan menantunya, membuatnya lupa dengan kampung halaman.
Bu Ranti menekan tombol on/off pada ponsel yang sedari tadi ada di genggaman. Tidak ada notif pesan ataupun panggilan dari Juna, membuat senyuman yang tadinya terukir indah berangsur menyurut. Tanpa diketahui Aru, dua wanita paruh baya yang duduk di belakang tengah bersedih dengan sebab yang berbeda.
*
Arunika dengan semangat yang menggebu-gebu ikut memanen kentang yang ada di kebun milik keluarga Bu Ranti. Ternyata selama ini meskipun Bu Ranti nampak tidak bekerja, beliau memiliki penghasilan dari hasil kebun keluarganya. Aru pikir Bu Ranti mendapatkan uang dari putranya.
Sebulan berada di desa ini, membuatnya betah karena selain pemandangan yang hijau dan udara yang sejuk, Arunika jadi memiliki kesibukan. Tidak seperti di kota, yang jika sudah selesai mengerjakan semua pekerjaan di rumah besar milik Bu Ranti, ia akan galau segalau-galaunya karena memikirkan pekerjaan yang belum juga didapatnya.
Dan di desa ini, pagi-pagi buta dirinya bahkan sudah ada di kebun saking semangatnya untuk bekerja. Tidak peduli jika pakaian ataupun tubuhnya kotor karena terkena tanah.
Sementara itu, tidak jauh dari tempat di mana Aru tengah mengumpulkan kentang-kentang ke dalam karung, terlihat Bu Ranti sedang duduk di sebuah gubuk terbuka bersama Bu Nita.
Mereka memandangi para pekerja dan juga Aru yang terlihat semangat bekerja.
“Arunika semangat sekali.”
“Iya, Bu Ranti.”
“Bu Nita beruntung punya anak seperti dia. Selalu ada di samping Bu Nita.”
Bu Nita tidak menjawab. Ia memang sangat bersyukur memiliki anak seperti Aru. Tetapi saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk memuji putrinya. Ada hati ibu lain yang sedang sedih karena merindukan anaknya, yang entah bagaimana kabarnya sekarang.
Sudah lebih dari sebulan mereka di sini, tetapi sekalipun Bu Nita tidak pernah mendengar Bu Ranti berbicara melalui sambungan telepon dengan putranya. Bahkan akhir-akhir ini, Bu Ranti tidak pernah lagi memegang alat pintarnya itu.
Bu Ranti tampak menghapus setitik air yang menggenang di sudut mata. Sebab teringat dengan takdir rumahtangganya yang ditinggal mati oleh sang suami. Kalau saja suaminya masih hidup, ia tidak akan merasa kesepian dan tidak perlu iri terhadap orangtua yang lain, di mana anaknya selalu ada untuk mereka.
“Eh, mobil pengangkut barangnya sudah datang, ya.” Bu Ranti tersadar karena mendengar deru mobil pengangkat barang yang terdengar sangat berisik.
“Saya malah jadi menangis.” Bu Ranti segera menyusut jejak air mata yang ternyata sudah turun di pipi entah sejak kapan.
“Ayo, Bu Nita, kita ke sana,” katanya lagi sembari beranjak dan menunjuk para pekerja yang sudah bersiap untuk mengangkat kentang ke mobil pengangkut barang itu. Terlihat jelas kalau beliau sedang berusaha menutupi kesedihannya.
“Bu, kenapa Ibu menonaktifkan hp Ibu?”
Suara dan pertanyaan itu seketika menghentikan langkah Bu Ranti dan Bu Nita. Bibir Bu Ranti pun turut bergetar saat tahu betul siapa pemilik suara itu. Demikian juga dengan kedua bola matanya yang kembali dilapisi cairan bening.