Oh Arunika

Oh Arunika
Bab 41



Julia yang berdiri, yang juga ada di sana sedang merapikan meja makan terperangah, sampai menghentikan gerak tangannya.


Jika Aru yang mengerjakan semua pekerjaannya, lalu dia mengerjakan apa? Apakah dirinya akan dipecat? Kalau iya, bagaimana nasib keluarganya di kampung sementara selama ini dirinya-lah yang menjadi tulang punggung keluarga. Ingin menanyakan hal itu pada Nadia, tetapi majikannya itu sudah lebih dulu berbicara.


“Kamu mau tidak?!” sentak Nadia dengan menatap tajam pada Aru yang terlihat bingung.


“Saya mau saja, tapi bagaimana dengan....” Aru melirik Julia yang nampak sedih dan bimbang.


“Kamu tidak perlu memikirkannya. Dia akan bekerja di rumah temanku.” Nadia berdiri dari tempat duduknya lalu bersedekap. Tidak lupa senyuman mengejek disematkan di bibirnya. “Mulai besok kamu kerjakanlah semua pekerjaan rumah. Ingat, jangan sampai ada debu yang menempel di sudut mana pun dan di setiap barang yang ada di rumah ini. Kamu mengerti?”


Aru mengangguk, “Iya,” jawabnya.


“Dan kamu, Julia. Berkemaslah sekarang. Aku akan mengantarkanmu ke rumah temanku malam ini juga. Letakkan saja piring kotor itu. Biar dia yang mencucinya.” Setelah berkata demikian, Nadia semakin melebarkan senyumnya merasa puas dengan semua kata-katanya, sebelum akhirnya ia melenggang pergi dari sana.


*


pov Arunika


Aku tidak masalah jika diminta untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Yang membuatku sedih adalah aku tidak akan memiliki teman lagi di rumah ini.


Setelah Bu Ranti dan Ibuku pergi, Mbak Julia juga akan pergi meninggalkanku.


Kuakui yang kulakukan tadi salah, pergi dari rumah sampai setengah hari dan tanpa meninggalkan pesan pula akan pergi ke mana.


Aku terlalu optimis bisa mendapat pekerjaan hari ini juga sampai lupa waktu. Aku pikir kalau aku terus mencoba mencari kerja dari satu tempat ke tempat lain akan ada yang menerimaku. Nyatanya pandemi yang sedang melanda bumi saat ini membuat banyak perusahaan, toko, warung makan dan lain sebagainya tidak menerima tenaga kerja.


Dengan sedih aku membantu Mbak Julia mengemasi pakaiannya. Setelah selesai, kupeluk erat tubuh Mbak Julia. Walaupun kebersamaan kami hanya sebentar, Mbak Julia sudah membuatku merasa nyaman tinggal di sini. Tanpa sadar air mataku meluruh. Yang kupikirkan, bagaimana nanti akan menjalani hari-hari di rumah ini tanpa dirinya.


“Masih belum selesai sedih-sedihnya?”


Mendengar suara itu, segera kuurai pelukan dan kuhapus air mata. Bu Nadia... maksudku Nyonya Rumah ini berdiri di ambang pintu dengan wajah sinis menatapku.


Aku maklum dengan sikapnya itu. Siapa yang tidak sakit hatinya jika suami menikah lagi dan lebih parah harus satu atap dengan madunya.


Aku membantu Mbak Julia membawakan tas.


“Mau ke mana kalian? Itu....”


Pak Juna yang datang dari pintu depan menatap tas besar yang kami bawa dengan heran.


“Ini... Julia akan bekerja di rumah temanku yang lagi butuh pengasuh itu, lho.” Istri Pak Juna itu berbicara manis. Berbeda saat berbicara dengan kami tadi, atau lebih tepatnya hanya denganku saja.


“Tapi kenapa harus Julia? Siapa nanti yang akan mengerjakan pek—”


“Untuk mengurus pekerjaan rumah kita, kamu tidak usah khawatir. Nanti aku akan mencari yang lain.”


“Tap—”


“Udah kamu tenang aja, Sayang. Aku akan mengurusnya nanti. Sekarang aku harus mengantar Julia dulu.”


Nyonya Rumah yang cantik rupawan itu mencium pipi suaminya di depan kami tanpa rasa enggan. Aku merasa cukup tabu karena selama ini aku tidak pernah melihat mereka begitu di hadapan orang lain.


“Bye, Sayang,” ujarnya manja.


Aku turut mengantarkan Mbak Julia ke mobil. Meletakkan tasnya di bagasi dan selanjutnya memeluknya. Entah kapan kami akan bertemu lagi. Namun mengingat aku yang tidak memiliki gawai, rasanya tidak akan mungkin bisa berkomunikasi apalagi bertemu dengannya.


Aku berdiri mematung di tempat. Melihat Mbak Julia masuk ke dalam mobil. Mesin mobil dihidupkan, tidak lama setelahnya dimatikan lagi. Tidak lama juga istri Pak Juna keluar dan menghampiri suaminya yang baru kusadari berdiri tidak jauh di belakangku.


“Sayang, kamu ikut, ya. Aku takut nanti pulang sendiri.” Aku merasa dia seperti sengaja bersikap manja. Tapi entahlah.


Pak Juna menghela napas sampai terdengar di telingaku. “Ya sudah, ayo.” Sesaat Pak Juna berhenti di dekatku, “Kami pergi dulu. Kamu jangan pergi ke mana-mana!” titahnya datar namun penuh peringatan. Seperti biasa aku hanya tertunduk dan mengangguk.


Saat mereka telah melewatiku, istri Pak Juna setengah menoleh, memberi lirikan dan senyuman yang tidak enak dipandang mata.