
Juna, jawab!
Suara Bu Ranti rasanya menggetarkan seluruh isi di dalam rumah itu. Nadia dengan gerakan cepat memakai dres yang baru saja ia ambil. Dirinya harus segera pergi untuk melihat apa yang terjadi yang ia rasa ada di lantai bawah.
Perasaan suaminya itu baru beberapa menit yang lalu ada di kamar, menanyainya apakah masih lama di kamar mandi atau tidak. Dan sekarang Nadia mendengar Bu Ranti beberapa kali meneriaki nama suaminya itu.
“Katakan, apa kamu sudah tidak waras masuk ke kamar mandi yang ada orangnya?!” seru Bu Ranti dengan kemarahan di wajahnya. “Dan kenapa kamu....” Bu Ranti tidak habis pikir dengan yang dilihatnya barusan.
“Jangan berpikir yang macam-macam, Bu. Aku tidak ada niat sedikit pun seperti yang ada di pikiran Ibu. Dan Ibu tahu betul aku tidak mungkin melakukan hal memalukan begitu,” kata Juna tidak terima.
Nadia yang baru sampai merasa bingung mendengar percakapan ibu dan anak itu. Dan semakin bingung melihat Juna dengan pakaiannya yang basah dan dikelilingi oleh banyak busa.
“Sayang, kamu lagi cuci selimut?” Karena Nadia melihat di samping Juna ada selimut yang terendam. Hanya Bu Ranti dan Juna yang ia lihat di sana. Entah masalah apa yang diperdebatkan oleh mereka.
“Lalu kenapa kamu bisa menindih Aru?”
Nadia menutup mulutnya yang seketika menganga. “A-apa, Bu?” tanyanya. “Juna menindih Aru?”
“Aku sudah bilang, aku terpeleset, Bu. Aku tidak sengaja. Aku sudah sekuat tenaga supaya tidak terjatuh dan menabraknya. Tapi busa sialan ini sangat licin.”Juna dengan kesal menendang busa yang ada di depannya. “Sejak kapan kamar mandi ini menjadi tempat untuk menyuci?” gerutunya kesal. “Dan kenapa juga dia telan jang?” batinnya jengkel.
“Jangan menyalahkan apapun dan siapapun, Juna! Kamu yang salah. Kamu yang tidak punya sopan santun dengan tidak mengetuk pintu lebih dulu!”
Tanpa menunggu jawaban, Juna dengan segala kekesalannya menutup pintu dengan keras. Ia sudah terlalu lama menunda yang seharusnya tidak perlu ditunda selama itu. Mengabaikan Ibu dan Nadia yang menggedor pintu dan menyerukan namanya secara bertubi-tubi.
Juna rasa kejadian tadi tidak sepenuhnya salahnya karena Aru juga tidak mengunci pintu dari dalam. Dan sekarang Ibunya itu terlalu berlebihan memarahinya.
“Kita masih perlu bicara!” tegas Bu Ranti dengan memberikan ketukan keras pada pintu kamar mandi tersebut. Setelahnya ia pergi dari sana, diikuti oleh Nadia yang mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.
*
*
Saat tiba di meja makan untuk sarapan, Bu Ranti hanya melihat Bu Nita seorang diri sedang menata hidangan di sana. Biasanya Aru tidak pernah membiarkan Ibunya itu bekerja sendirian. Aru hanya akan berani meninggalkan Ibunya bila ada orang lain bersama sang ibu.
“Ehm... Aru di mana, Bu Nita?” tanya Bu Ranti hati-hati. Sebagai seorang wanita yang pernah muda, tentu Bu Ranti tahu bagaimana perasaan Aru saat ini.
Seorang gadis yang belum menikah, tiba-tiba ada laki-laki melihatnya telan jang dan lebih miris menyentuhnya pula. Siapapun orang yang mengalami itu tidak akan mudah untuk melupakan atau memakluminya meskipun itu adalah insiden yang tidak di sengaja.
“Aru pergi, Bu Ranti. Katanya dia mau mencari kerja.” Suara Bu Nita terdengar lemah dan bergetar. Bukan karena takut. Orangtua mana yang tidak syok dan sedih melihat anak gadisnya mengalami kejadian seperti tadi.