
“Halo,” sapa Aru dengan suara bergetar setelah menempelkan ponsel milik Juna di telinganya.
Bukan tanpa sebab ia merasa grogi. Sudah pasti mertuanya itu tahu ia pergi dari rumah dalam waktu yang cukup lama. Itu terbukti dengan Juna memberikan ponsel padanya untuk berbicara langsung dengan Bu Ranti.
“Aru, itu kamu?” Suara Bu Ranti terdengar penuh harap di seberang sana.
“Iya, Bu, ini saya.”
“Syukurlah kamu sudah pulang. Ibu cemas sekali begitu tahu kamu pergi dari rumah dan tidak bilang ke mana akan pergi. Memangnya kamu pergi ke mana?” Bu Ranti terdengar bernapas lega sekaligus penasaran ke mana menantunya itu pergi. Karena selama mengenal Aru, gadis itu tidak pernah pergi tanpa pamit.
“Aru... Aru tadi... pergi ke rumah teman lama, Bu,” ujarnya gugup. Entahlah, ia tidak ingin Bu Ranti mengetahui apa yang sebenarnya dilakukannya tadi. Feelingnya mengatakan Bu Ranti akan marah jika mengetahui ia pergi mencari kerja.
“Oh, begitu.” Suara Bu Ranti terdengar tidak percaya, terbukti setelah berkata demikian beliau terdiam beberapa saat. “Lain kali kalau mau pergi, bilang akan pergi ke mana, ya,” pesan Bu Ranti setelah terdiam cukup lama.
“Iya, Bu,” sesal Aru. “Maaf sudah membuat Bu Ranti khawatir,” ucapnya penuh penyesalan. Tidak menyangka akan dikhawatirkan sampai sebegininya. “Ibu saya ada di sana tidak, Bu?” Karena ia pun ingin mengabari ibunya dan meminta maaf.
“Bu Nita menunggu saya di meja makan. Saat ini saya sedang di kamar. Saya tidak memberitahunya kalau kamu pergi dari rumah. Takut nanti Bu Nita cemas dan akan mempengaruhi kesehatannya.”
Arunika tertunduk dalam. Semakin merasa menyesal. “Sekali lagi maafkan saya, Bu, sudah membuat Ibu khawatir. Terimakasih juga tidak memberitahukan ini pada ibu saya.”
Setelah meminta maaf berkali-kali, panggilan itu pun berakhir. Arunika bisa sedikit bernapas lega karena ibunya tidak tahu kepergiannya. Andai saja tahu, Aru tidak bisa membayangkan bagaimana paniknya ibunya itu.
Saat hendak mengembalikan ponsel kepada pemiliknya, Aru baru sadar sudah tidak ada lagi orang di sana.
Mendengar suara Nadia yang berasal dari area dapur, Aru bergegas ke sana.
“Sudah puas kamu bikin semua orang panik?” sembur Nadia galak.
Siapa yang tidak kesal. Tadi saat Bu Ranti menelepon mereka, kebetulan Juna dan Nadia sedang mengadakan pertemuan dengan seorang pemilik kafe. Mereka berencana akan membeli kafe itu untuk dijadikan sebagai cabang toko kue mereka. Bagaimana jika pemilik kafe itu menjual kafenya pada orang lain karena langsung ditinggal begitu saja.
Aru tertunduk. “Maafkan saya.”
Bermaksud ingin menyembur Arunika lagi, namun tidak jadi karena mendapat pelototan tajam dari Juna. Nadia semakin meradang. Namun saat ia teringat dengan rencana yang baru saja dipikirkannya, ia langsung tersenyum. Menatap Aru penuh arti, saat gadis itu hendak duduk di tempatnya setelah disuruh oleh Juna.
“Kamu ingin sekali bekerja, ya?” tanya Nadia dengan manis pada Aru yang sedang mengumpulkan piring dan wadah bekas makan mereka. Juna sudah pergi entah ke mana karena mendapat panggilan telepon.
“Iya,” jawab Aru dengan wajah tertunduk.
“Aku ada pekerjaan untukmu.”
“Benarkah, Bu?” Pupil mata Aru berbinar dengan cerah saat ia mengangkat wajahnya. Namun detik berikutnya rasa senang itu menguar entah ke mana, sebab menyadari kesalahannya yang memanggil Nadia dengan ‘IBU’. “Maaf.”
Nadia yang merasa kesal hanya menghela napas. Entahlah, rasanya ia tidak sudi dipanggil oleh Aru demikian.
“Kamu akan bekerja di rumah ini. Apa kamu mau?” Nadia tersenyum penuh arti, melupakan rasa kesalnya.
“Iya, saya mau.” Aru tampak antusias sekali. Dia siap menerima pekerjaan apapun itu asalkan halal.
“Mulai besok, kerjakanlah seperti yang dikerjakan oleh Julia selama ini. Se-mu-a-nya. Mencuci, menyapu, mengepel, ya... seperti yang kamu lakukan di rumah Ibu. Kecuali memasak. Kamu tidak usah memasak.” Nadia menekankan kalimat terakhirnya. “Apa kamu mau?”