
Hingga pagi buta menjemput, Arunika belum juga bisa memejamkan mata. Ia merasa khawatir sendiri dengan surat perjanjian yang sudah ditandatanganinya kemarin.
Aru bangkit dari tempat tidurnya lalu merapikannya. Kamarnya persis di samping kamar Julia. Ya, Nadia mengatur ulang semua yang sudah ditentukan oleh mertuanya. Kamarnya tidak lagi di kamar tamu. Tetapi itu bukan masalah buat Aru.
Setelah selesai membersihkan diri, Aru pergi keluar. Seluruh ruangan masih tampak remang-remang pertanda Julia belum bangun.
Aru pergi ke ruang belakang, di mana tempat pencucian berada. Baju kotor tidak terlalu banyak tetapi Aru memutuskan untuk mencucinya.
Seperti saat masih tinggal di rumah Bu Ranti, Aru mengerjakan apa saja yang menurutnya harus dikerjakan, supaya rumah tersebut bersih dan rapi sedap dipandang mata.
“Loh, loh. Ibu Aru sudah bangun, ya. Saya jadi tidak enak ini.” Julia dengan logat Jawa-nya datang menghampiri Aru yang tengah memasak.
“Iya, Mbak, saya tadi bangunnya terlalu cepat,” bohong Aru. “Mbak panggil nama saya aja, ya,” pinta Aru untuk kesekian kalinya.
“Tidak bisa begitu, Bu. Ibu Aru adalah majikan saya. Saya tidak mungkin hanya memanggil nama saja.” tolaknya. “Hm, baunya enak. Rasanya juga pasti enak ini,” puji Julia yang menatap dan membaui nasi goreng buatan Aru yang hampir masak.
Aru tersenyum, “Semoga saja, Mbak.”
“Saya ke belakang dulu kalau begitu, Bu. Mau cuci baju dulu.”
“Tidak perlu, Mbak. Saya sudah mencucinya tadi.”
“Ibu sudah mencuci? Saya jadi tambah tidak enak ini.” Wajah Julia semakin merasa bersalah.
*
*
Empat orang yang ada di rumah itu sedang duduk di kursinya masing-masing, menikmati sarapan mereka.
Ada yang berbeda dengan rasa makanan yang mereka makan. Tentu berbeda karena yang memasak bukan lagi Bu Nita. Tetapi bagi Si Tuan Rumah tidak begitu masalah karena rasanya tidak terlalu buruk.
Saat sedang menikmati sarapan masing-masing, terdengar suara batu yang tergigit dengan nyaring. Orang yang merasakan sial di paginya itu adalah Juna.
Juna mengambil tisu dan melepehkan semua makanan yang ada di mulutnya hingga tak bersisa. Bagaimana tidak, batu yang tergigitnya cukup besar sampai membuat gigi-giginya terasa ngilu.
“Sayang!” seru Nadia saat melihat Juna pergi ke lantai atas.
“Aku akan ke kamar mandi sebentar,” ujar Juna dengan satu jari tangan masuk ke mulut, seperti mencoba membersihkan sisa-sisa batu yang masih ada di giginya.
Nadia menatap iba pada suaminya itu. Siapa saja pasti kesal jika mengalami yang dialami Juna. Mendengar bagaimana nyaringnya suara batu tadi, membuatnya ikut merasa ngilu.
Nadia membanting sendoknya yang sedari tadi dipegang, “Masakan siapa ini?!” serunya dengan menatap marah pada Aru dan Julia.
“I-itu masakan sa-saya—”
“Saya yang memasak tadi.” Aru memotong ucapan Julia.
Nadia semakin marah karena kedua orang yang ada di seberangnya terlihat mencoba untuk saling melindungi. “Aku tanya siapa yang memasak makanan berbatu ini?!”
“Saya yang memasak,” jawab Aru semakin menundukkan kepalanya. Entah kenapa hal sial ini menghampirinya.
“Owh, kamu.” Nadia memutari meja dan berdiri di samping Aru. “Inikah menantu yang sangat disayangi Bu Ranti itu?” Nadi tersenyum mengejek. “Menantu yang memasak batu untuk dimakan suaminya?” Senyuman miring Nadia semakin lebar.
“Kau harus menghabiskan semua sisa makanan yang ada di meja ini, sekarang!”