
“Untuk apa kamu kemari?”
Meskipun tidak bisa dipungkiri hati Bu Ranti teramat senang dengan kedatangan putranya itu, tetapi tetap saja ia masih kesal mengingat sikap Juna beberapa waktu lalu yang membuatnya sedih.
Entah darimana Juna tahu kalau dia ada di sini. Padahal ia tidak memberitahu siapapun tentang ke mana mereka pergi.
“Untuk bertemu Ibu.”
Bu Ranti tersenyum miris nyaris sinis. “Tapi Ibu tidak mau bertemu denganmu.”
“Bu....” Juna memelas berusaha menyentuh tangan Ibunya. Namun Bu Ranti menghindar dengan mengajak Bu Nita untuk segera pergi dari sana.
“Bu, Juna setuju dengan permintaan Ibu waktu itu.”
Refleks langkah Bu Ranti berhenti dan menatap putranya yang melihatnya dengan raut wajah sedih dan pasrah. Sedih karena beberapa kali melakukan panggilan pada gawai Ibunya, Bu Ranti tidak menerima panggilan itu. Dan sekarang ponsel Ibunya malah tidak aktif.
“Permintaan mana yang kaumaksud?” Bu Ranti ingin memastikan, apakah yang dipikirkannya saat ini sama dengan maksud putranya.
“Lebih baik kita bicara di rumah, Bu.”
Meskipun masih marah, Bu Ranti menyetujuinya. Ada banyak pekerja yang berlalu lalang. Tidak mungkin ia mendebat Juna di sini apalagi hal yang akan mereka bicarakan tentang masalah rumahtangga.
Setelah memberi arahan pada salah satu orang kepercayaannya yang akan mengirim hasil kebun ke pasar, Bu Ranti mengajak Juna, Bu Nita dan juga Aru untuk pulang.
Sampai di rumah, Bu Ranti cukup terkejut karena Nadia ternyata ikut juga. Mengingat Nadia pernah mengatakan tidak akan mau lagi datang ke desa ini.
Dulu saat Nadia pertama kali datang ke desa ini–tepatnya setelah beberapa minggu pernikahan mereka, ban mobil yang mereka tumpangi terjebak lumpur dan tidak bisa bergerak. Saat itu hujan sangat lebat. Mau tidak mau mereka harus berjalan kaki menembus hujan, melewati jalanan yang banyak lubangnya dan penuh dengan lumpur.
“Ternyata kau ikut ke sini juga,” ketus Bu Ranti melewati Nadia yang sedang berdiri di teras rumah. Bu Ranti tidak bisa berpura-pura bersikap baik lagi pada menantunya itu.
“Iya, Bu,” jawab Nadia lembut.
Bu Ranti tidak menyahut karena malas berbicara dengan wanita itu yang sialnya adalah menantunya sendiri. Terus berjalan masuk ke dalam dan mendudukkan tubuhnya pada salah satu kursi yang ada di ruang tamu, rumah tua peninggalan orangtuanya tersebut.
“Bu Nita, Aru, kalian di sini saja, ya, bersama dengan saya.” Bu Nita dan Aru yang tadinya berniat untuk langsung menuju ke belakang segera mengurungkan niat. Tidak mungkin mereka membantah permintaan majikan.
Sementara Nadia menatap tidak suka pada ibu dan anak itu. Mertuanya berbicara lembut kepada mereka, sedangkan pada dirinya begitu ketus. Benar instingnya selama ini. Kehadiran Aru dan ibunya akan membawa masalah dalam kehidupan rumahtangganya.
“Katakan, apa maksud kalian datang ke sini?” sarkas Bu Ranti lagi tanpa mau melihat wajah putra ataupun menantunya.
Juna menghela napas. Seperti yang sudah-sudah, jika dirinya ikut terpancing emosi maka bisa dipastikan akan ada perdebatan lagi. Juna sudah lelah mendebatkan hal yang sama, yaitu tentang bagaimana cara mendapatkan keturunan.
“Aku akan menuruti kemauan Ibu untuk menikah lagi.”
“Benarkah?” Mata Bu Ranti seketika berbinar indah. Namun binar itu hanya sebentar karena melihat tatapan Nadia yang tajam pada putranya.
Bu Ranti teringat dengan ucapan Nadia, jika Juna harus menikah lagi maka mereka pun harus berpisah dulu.
“Kalau Nadia tidak mengizinkan kamu menikah lagi, lebih baik ka—”
“Nadia sudah setuju, Bu. Iya, ‘kan, Nad?” Juna menyenggol tangan istrinya yang menatapnya tajam. Padahal dia sudah mewanti-wanti istrinya itu supaya tidak bersikap dan berulah yang membuat Ibunya curiga.
“Iya, Bu. Aku rela kalau Juna menikah lagi.”
Bu Ranti tahu kalau Nadia tidak rela. Tetapi tidak mengapa. Walaupun kata rela keluar dengan terpaksa dari mulut Nadia, itu sudah cukup membuat Bu Ranti senang.