
Seperti biasa Arunika bangun pagi lalu merapikan tempat tidur dan mencuci wajahnya supaya segar.
Tadi malam ia sulit untuk tidur nyenyak karena terganggu oleh suara-suara aneh dari kamar sebelah, kamar milik Nadia dan Juna.
Ya, kamar tidurnya berada persis di sebelah kamar pasangan suami istri itu. Nadia yang memintanya untuk tidur di kamar tersebut. Alasannya tentu saja supaya lebih mudah untuk memantau jangan sampai Juna menjamah Aru saat suaminya itu tidur di kamar Arunika.
Arunika bukanlah anak baru lahir kemarin yang tidak tahu suara aneh apa tadi malam. Meskipun tidak pernah pacaran dan bahkan tidak pernah merasakan yang namanya jatuh cinta, Aru cukup mengerti tentang begituan.
Saat pekerjaan mencuci sudah selesai, waktunya untuk menyiapkan sarapan karena matahari sudah mulai memancarkan sinarnya.
Aru membuka lemari pendingin. Di sana ada sisa makanan tadi malam. Aru mengeluarkan semuanya dan memutuskan menghangatkan makanan itu untuk dijadikan sarapan.
Tidak berapa lama semua makanan sudah hangat. Aru melihat ke arah tangga. Belum ada tanda-tanda Juna maupun Nadia muncul dari sana.
Arunika tidak lupa dengan kata-kata Nadia semalam yang menyuruhnya untuk tidak memasak. Tetapi karena sudah terbiasa menyiapkan sarapan setiap pagi, Aru melakukannya. Lagipula tidak masalah jika mereka tidak memakannya. Makanan itu bisa ia makan lagi untuk makan siang nanti.
“Hai Arunika. Selamat pagi.”
Sapaan hangat itu mengejutkan Aru dari lamunannya dan seketika beranjak dari duduk. Ia menunggu sampai tidak sadar melamun. Dan yang paling membuat Aru terkejut, tidak ada Bu Ranti di rumah ini tapi Nadia tetap menyapanya dengan ramah.
“Selamat pagi Mbak, Mas,” balas Aru dengan canggung. Bu Ranti meminta dirinya untuk memanggil kedua orang itu dengan sebutan seperti itu.
Tampak Nadia dan Juna datang menghampiri. Seperti biasa mereka terlihat mesra atau lebih tepatnya Nadia yang menggandeng Juna mesra.
Wajah Nadia tampak segar dan ceria, penampilannya juga sudah rapi dengan tas di tangannya. Mungkin mereka akan pergi, pikir Aru.
“Kamu masak lagi, ya?”
“Oh, begitu. Tapi kami tidak akan memakan masakanmu. Kau tidak lupa itu, kan?” Senyuman Nadia benar-benar tidak sedap dipandang.
“Kami akan pergi. Kamu tidak apa-apa di rumah sendiri?” Sebelum Nadia berbicara lagi yang bisa menyakiti hati Aru, Juna lebih dulu mengajaknya bicara.
“Iya. Saya tidak masalah di rumah sendirian, Mas.”
Tiba-tiba hati Nadia merasa kesal mendengar kata mas dari bibir Aru untuk Juna. Padahal kemarin-kemarin ia tidak merasa begitu. Panggilan itu terasa lembut membelai telinganya.
“Saya mungkin tidak akan makan di rumah. Karena kejadian dulu, gigi saya menjadi sensitif dan saya tidak mau kejadian sama terulang lagi. Saya harap kamu mengerti.”
Arunika mengangguk paham. Kejadian dulu memang kelalaiannya karena tidak cermat akan kebersihan bahan makanan yang dimasaknya. Mungkin Juna trauma memakan masakannya, pikirnya begitu.
Sementara Nadia tersenyum puas mendengar penuturan Juna.
“Kalau kamu butuh sesuatu kamu bisa memintanya pada Nadia atau pada saya.”
Lagi-lagi Arunika mengangguk.
Setelah merasa tidak ada lagi yang perlu dikatakannya, Juna mengajak Nadia untuk pergi.
Arunika duduk kembali untuk memulai sarapannya. Baru saja ingin mengisi piringnya dengan lauk, suara high heels Nadia terdengar mendekat. Benar saja, wanita itu datang menghampiri Aru.
“Oh, iya, aku lupa memberi tahumu sesuatu. Tadi malam aku dan Juna tidak sengaja mengotori seprei dan selimut. Jadi tolong kamu cucikan seprei dan selimut itu, ya.” Dengan bangganya Nadia memberi tahu itu.
“Mungkin setiap malam kami akan terus mengotorinya. Aku harap kamu tidak terganggu dengan suara kami saat sedang mengotorinya, ya. Maaf, ya, Aru.” Wajah Nadia dibuat semenyesal mungkin. Namun kemudian ia tersenyum puas setelah mengatakan itu dan berlalu pergi dengan melenggak-lenggok.