
Bu Ranti tersenyum sendiri di tempat duduknya sambil memperhatikan Arunika yang dengan cekatan membantu Bu Nita memasak untuk sarapan mereka.
Bukan tanpa alasan Bu Ranti tersenyum. Saat tadi membuka pintu kamar pengantin baru itu yang semalam sengaja dikuncinya, ia mendapati Aru sudah bangun dengan wajah segar dan penampilan rapi. Itu artinya Juna tidak semena-mena padanya.
Meskipun Bu Ranti yakin tidak ada kontak fisik diantara mereka berdua seperti yang dilakukan pengantin baru pada umumnya, tetapi membuat mereka bisa tidur di satu kamar yang sama, bukankah tahap awal yang bagus untuk keberhasilan hubungan mereka ke depannya.
Setelah semua makanan sudah tersaji di atas meja, saat itu pula Juna dan Nadia datang. Bukan karena kebetulan, tetapi mereka berdua dipanggil oleh Julia atas perintah Bu Ranti.
“Kalian ini seperti raja dan ratu saja. Datang setelah semua sudah siap di atas meja,” umpat Bu Ranti kesal. Bu Ranti sebenarnya hanya kesal pada Nadia, karena selama menjadi menantu, Bu Ranti tidak pernah melihatnya memasak atau pun mengerjakan pekerjaan rumah lainnya.
“Kami memang raja dan ratu. Bukankah kami pemilik rumah ini?” Nadia menjawab dengan angkuh disertai seringai tipis di sudut bibirnya.
Bu Ranti terdiam sembari mengamati raut wajah Nadia yang tampak ceria. Bukan karena tersinggung atas jawaban Nadia. Bu Ranti mengingat dengan jelas bagaimana kesal dan marahnya Nadia tadi malam, karena ia memaksa Juna untuk tidur dengan Aru. Jadi mustahil rasanya bila Nadia telah ikhlas menerima kejadian semalam.
“Seharusnya kamu bangun lebih awal. Membantu memasak atau pekerjaan rumah lainnya. Istri macam apa yang bangunnya jam segini. Atau jangan-jangan kamu malah dibangunkan oleh Juna.”
Nadia tersenyum pongah sambil menggeser kursi untuk ia duduki. Dengan santainya mengambil piringnya yang tertelungkup dan mengisi nasi goreng di atasnya. “Apa gunanya ada pembantu kalau aku juga harus turun tangan melakukan pekerjaan rumah, Bu?” balas Nadia sinis, sesinis matanya yang sekilas melirik Aru yang berdiri tertunduk di samping Ibunya. “Bukankah tugas istri yang paling utama melayani dan memenuhi SE-MU-A yang dibutuhkan suaminya?”
Entah mengapa Bu Ranti merasa Nadia menjadi semakin congkak. Seperti bukan Nadia yang dikenalnya. Membuat rasa tidak suka pada wanita itu semakin bertambah. Ingin membalas ucapan Nadia, tetapi urung sebab Juna sudah terlebih dulu menegur Nadia supaya tidak berbicara lagi.
“Bu Nita, Aru, kalian duduklah juga.” Bu Nita dan Aru tampak enggan untuk duduk karena merasakan aura ketegangan di sana.
“Ya, kalian ikutlah duduk bersama kami. Ikutlah sarapan bersama kami. Jangan sungkan. Bukankah kalian sudah menjadi tanggungjawab suamiku mulai sekarang? Aku ti–”
Nadia menahan tangan Juna yang bersiap akan meninggalkan meja makan. “Aku tidak akan berbicara lagi,” ujar Nadia sembari mengerucutkan bibirnya manja.
Sementara Bu Ranti menghela napas sembari menggeleng-gelengkan kepalanya menyaksikan tingkah Nadia yang kekanakan.
*
Nadia tersenyum lega menatap mobil yang membawa Bu Ranti dan Bu Nita pergi dari rumahnya. Ya, hari ini adalah hari yang paling ditunggu-tunggu oleh Nadia untuk menyaksikan kepulangan mertuanya ke tempat yang semestinya.
Selama seminggu ini ia berusaha meredam emosinya menghadapi sang mertua. Ia dipaksa ikut mengerjakan pekerjaan rumah yang sama sekali tidak pernah dikerjakannya.
Berbeda dengan Arunika yang menatap sendu kepergian Ibunya. Bagaimana tidak sedih, selama hidupnya dia belum pernah berpisah rumah dengan Bu Nita. Belum lagi kondisi kesehatan Ibunya yang tidak diperbolehkan terlalu capai oleh dokter, sedangkan Ibunya itu akan mengerjakan semua pekerjaan jika tidak diperingatkan.
Meskipun Bu Ranti sudah meyakinkannya bahwa Ibunya akan dijaga deengan baik, tetap saja Aru merasa cemas. Tetapi Arunika tetaplah Arunika. Dia tidak memiliki kekuatan untuk sekadar meminta supaya tinggal bersama Ibunya.
“Kamu mau ke mana?!” sembur Nadia pada Aru yang bermaksud hendak masuk ke dalam rumah, setelah mobil yang ditumpangi Bu Ranti dan Bu Nita hilang dari pandangan mata.
“Saya ma–”
“Ikut denganku!” Tanpa mau mendengar apa yang hendak dikatakan Aru, Nadia dengan angkuhnya berjalan melewati Aru bahkan dengan sengaja menyenggol tubuh kurus itu.