
Tidak terhitung sudah berapa banyak kata terimakasih keluar dari mulut Arunika kepada Bu Ranti. Ternyata malaikat tak bersayap itu memang ada, pikirnya. Bu Ranti dan Juna adalah dua malaikat nyata yang mungkin akan diingat Aru sampai seumur hidupnya.
Bu Ranti yang tadinya sudah berpamitan pada Aru dan hendak pulang sebentar ke rumah, dibuat terkejut saat rombongan dokter mendatangi mereka, mengatakan akan menangani Bu Nita dan memberikan pelayanan terbaik sekarang juga.
Bu Ranti dan Aru benar-benar terkesiap sekaligus bingung mendengar hal itu. Mereka belum membayar sepeser pun biaya pengobatan untuk Bu Nita. Seperti kata dokter yang menangani tadi, mereka harus menyelesaikan biaya rumah sakit setidaknya bayar setengah dulu baru pasien akan ditangani.
Bu Ranti mengembuskan napas lega, tersenyum puas setelah diberitahu bahwa putranya-lah yang telah menanggung semua biaya itu. Arjuna ternyata tahu cara membalas budi terhadap Bu Nita.
*
Beberapa bulan kemudian.
“Aku ke kamar mandi yang di bawah saja,” gumam Juna saat baru saja ia mendapat jawaban dari Nadia, bahwa istrinya itu masih butuh waktu lama untuk keluar dari kamar mandi yang ada di kamar mereka. Dirinya sudah tidak sanggup lagi menahan lebih lama feses yang mendesak ingin dikeluarkan.
Dengan kakinya yang tidak memakai alas, ia melangkah cepat melewati setiap ruang di rumah orangtuanya itu. Bahkan sekarang ia terlihat berlari saking tidak kuat lagi menahan yang seharusnya sedari tadi sudah dibuang.
Juna mendengar dengan jelas Ibunya sedang berbicara tentang kehamilan saat dirinya sudah dekat dengan area dapur. Dan langkahnya refleks berhenti tatkala Ibunya itu membicarakan kondisi Nadia yang susah hamil kepada orang lain.
“Kata Mala, Nadia punya masalah dengan rahimnya. Itu sebabnya Nadia susah hamil.”
Kalimat itu sukses membuat rahang Juna mengetat. Mengapa Ibunya itu bisa begitu enteng memberitahu orang lain tentang Nadia yang susah hamil. Apa untungnya memberitahu orang lain kalau istrinya susah hamil, batin Juna kesal menggebu-gebu.
“Kalau Nadia gagal lagi dengan program bayi tabung kedua ini, saya tidak tahu solusinya apa lagi, Bu Nita.”
Juna membuang napas yang terasa panas karena bercampur amarah. Akhir-akhir ini Juna mudah tersinggung bila percakapan itu mengarah pada rumahtangganya yang tak kunjung diberi keturunan.
Tujuh tahun usia pernikahannya dengan Nadia, dua tahun terakhir emosinya berhasil dibuat naik-turun akibat teman-teman dan kerabatnya menanyai kondisi kesehatan mereka karena belum juga ada anak yang lahir.
Menikah itu cukup ada suami dan istri yang saling mencintai, lalu menikmati hidup dengan bahagia apapun rintangannya.
Namun semakin ke sini hatinya juga terusik dengan pertanyaan tentang Nadia yang belum hamil juga. Belum lagi ia teringat dengan permintaan terakhir sang Ayah sebelum meninggal, supaya mereka segera memiliki anak agar Ibunya tidak merasa sedih dan kesepian jika Ayah sudah tiada.
Sebelum dirinya beranjak dari tempatnya berdiri, Juna mendengar suara Ibunya lagi, “Saya sangat ingin memiliki cucu, Bu Nita. Saya ingin di usia senja ini ada cucu yang bermain di pangkuan saya, tertawa dengan saya. Saya tidak mau hidup kesepian seperti ini sampai saya meninggal nanti.”
Bahu Juna melemas seiring dengan suara Ibu yang terdengar gemetar menahan tangis di akhir kalimatnya. Yang tadinya ia hendak memperingatkan Ibunya supaya tidak mengumbar-umbar kekurangan Nadia pada sembarang orang, kini dirinya ingin memeluk tubuh Ibunya itu dengan erat.
Namun niatnya urung sebab dari balik pintu, ia melihat Bu Nita sudah mengusap bahu Ibunya, mengucapkan kalimat penenang yang meneduhkan hati.
Juna kembali melangkah menuju tempat tujuannya semula setelah dipastikan Ibunya sudah tenang.
‘Hajatnya’ itu benar-benar tidak bisa diajak bekerjasama untuk menunggu sebentar lagi. Rasanya seperti sudah ada di ujung.
Dengan gerakan cepat, ia membuka dan mendorong pintu kamar mandi yang biasanya selalu kosong.
Busa-busa yang melimpah memenuhi lantai kamar mandi menyambut kedatangannya. Ia bahkan sampai tergelincir karena kakinya yang tidak memakai alas itu sudah masuk selangkah. Di detik berikutnya terdengar teriakan wanita yang memekakan telinga.
Entah karena lantai kamar mandi yang sangat licin, atau terkejut mendengar teriakan yang membuat telinga berdenging, atau karena melihat Aru yang berdiri di sana tanpa ada kain apapun yang menutup tubuhnya, Juna tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya.
Berkali-kali ia tergelincir dan sekuat tenaga ia mencoba supaya tidak terjatuh. Namun, semakin ia berusaha untuk segera keluar dari kamar mandi sialan yang telah berubah menjadi kamar busa itu, kakinya seakan sedang berlari di atas treadmill, tidak berpindah tempat.
Juna tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya lagi saat busa-busa itu berhasil membuatnya tergelincir panjang. Belum lagi harus menahan rasa ingin bab dengan sekuat tenaga. Tanpa bisa ia hindari, tubuhnya menabrak tubuh Arunika yang kini sudah berjongkok, membuat Aru berteriak lebih keras lagi.
“Juna, apa yang kamu lakukan?!”