
“Akhirnya....”
Baik Juna maupun Arunika serentak menatap pada Nadia yang terlihat senang setelah mobil yang ditumpangi Bu Ranti dan Bu Nita hilang di pandangan mata pagi itu.
“Kenapa kamu?” tanya Juna bingung dengan sikap Nadia.
“Nggak kenapa-kenapa,” ujarnya dengan senyum penuh yang masih belum hilang dari sudut bibirnya. “Hari ini aku ikut ke toko, ya,” katanya lagi sembari menggamit lengan kokoh milik Juna dengan manja.
“Ikut? bukankah biasanya kamu betah di rumah untuk bersih-bersih dan—”
“Pokoknya hari ini aku ikut dengan kamu ke toko!” serunya memotong perkataan Juna. “Karena pulangnya nanti kita akan menemui seseorang,” ungkap Nadia menurunkan intonasi suaranya dengan raut wajah senang.
“Siapa?”
“Nanti juga kamu akan tahu.”
Merasa dirinya tidak diperlukan di sana, Arunika berniat untuk masuk ke dalam rumah saja, membereskan apa yang perlu dibereskan. Untuk apa juga ia tetap berdiri di sana mendengar dan menyaksikan kemesraan dua sejoli yang memang adalah pasangan serasi jika dilihat dari paras mereka.
“Terus siapa yang akan menemani—”
Juna melirik Aru yang hendak masuk ke dalam rumah.
“Kamu nggak apa-apa tinggal sendiri di rumah, ‘kan, Aru?” Suara Nadia menghentikan langkah Aru, membuat gadis itu berbalik dan menghadap pada kedua orang yang terlihat masih berdiri dengan posisi berdempetan itu.
“Iya, saya tidak apa-apa sendiri di rumah.”
“Tuh, kamu dengar, ‘kan, Ar. Dia nggak apa-apa ditinggal sendirian,” imbuh Nadia dengan suara manja. “Lagipula pekerjaan rumah hari ini tidak terlalu banyak.”
“Ya sudah, terserah kamu saja. Aku ke kamar dulu, mau mengambil laptop.”
Setelah kepergian Juna, Nadia berjalan menghampiri Aru sambil bersedekap dengan tatapan mengintimidasi.
Arunika menunduk. Dugaannya benar kalau selama ini Nadia bersikap baik terhadapnya hanyalah sandiwara belaka. Dari tatapannya saja Aru bisa melihat kalau wanita itu tidaklah tulus menerima kehadirannya.
“Seperti yang pernah aku perintahkan, kerjakan semua pekerjaan rumah. Jangan ada debu yang menempel di rumah ini walau secuil pun. Apa kau masih mengingat itu?”
Arunika mengangguk.
“Dan satu lagi yang perlu kau tahu—” Nadia mendekatkan bibirnya pada telinga Aru, “—Jangan pernah bermimpi kau akan bisa mengandung keturunan Juna. Sekeras apapun usaha Ibu untuk mendekatkan kalian berdua, aku tidak akan membiarkan hal-hal yang tidak kuinginkan sampai terjadi. Ingat itu!”
*
“Siapa dia?” tanya Juna to the point saat Nadia mengajaknya ke meja yang sudah ditempati oleh seorang wanita tua di sebuah kafe. Wanita yang memiliki penampilan aneh menurut sudut pandang Juna.
“Saya Ning. Saya akan membantu mengatasi masalah yang sedang kalian hadapi saat ini.”
Juna menoleh pada istrinya, meminta penjelasan akan maksud perkataan yang bernama Ning itu.
“Mbah Ning memiliki klinik alternatif, Ar. Aku ingin mencoba berobat di tempatnya. Selama ini aku hanya memeriksa kondisi rahimku pada dokter. Tidak ada salahnya, ‘kan, kalau aku mencoba berobat dengan jalur alternatif juga? Siapa tahu dengan berobat di sana aku bisa segera hamil.”
Juna terdiam. Sejauh pengetahuannya, pengobatan secara alternatif memiliki risiko terhadap kesehatan. Karena sebagian besar jenis pengobatan itu belum melalui tahap uji klinis, sehingga belum diketahui keamanan serta efektivitasnya dalam pengobatan penyakit.
“Kamu setuju, ‘kan, Ar?”
Juna menatap Nadia yang sorot matanya penuh permohonan itu dengan bimbang.
“Bapak tidak perlu khawatir. Sudah banyak pasien kami yang berhasil memiliki momongan.” Ning yang melihat keraguan di wajah Juna ikut untuk meyakinkannya.
“Iya, Ar. Saudaranya teman aku dulunya berobat di klinik Mbah Ning ini dan sekarang dia sudah punya anak, kembar lagi.”
Melihat raut wajah istrinya yang penuh harap, dengan berat hati Juna mengizinkan Nadia untuk berobat pada wanita yang di kepalanya dililitkan kain itu.