Oh Arunika

Oh Arunika
Bab 46



Arunika menatap hidangan yang ada di meja dengan sesekali menelan air liurnya. Lebih kurang sudah dua jam ia menunggu dan kini waktu menunjukkan hampir pukul sembilan malam, tetapi Juna dan Nadia belum juga menunjukkan tanda-tanda kepulangan mereka.


Perutnya sudah sangat lapar. Bagaimana tidak lapar, tenaganya habis terkuras untuk membersihkan setiap isi ruangan di rumah besar ini hingga tidak ada debu yang menempel sedikit pun, seperti yang diperintahkan Nadia. Belum lagi mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang lainnya.


Jika pukul sembilan lebih kedua orang itu belum pulang juga, Aru akan makan duluan saja.


Saat menunggu di ruang tamu pun, Juna dan Nadia masih belum menunjukkan kedatangan mereka padahal jam di dinding sudah menunjuk pada angka sembilan lebih lima belas menit.


Arunika berdiri dan melangkah menuju dapur. Ia mengambil piringnya lalu mengisinya dengan nasi dan lauk pauk yang telah dimasaknya dengan sepenuh hati. Seperti yang selalu dipesankan oleh ibunya, kalau ingin masakannya disukai oleh banyak orang, maka ia harus memasaknya dengan setulus hati.


Saat akan menyuapkan suapan pertama, Aru mendengar suara deru mobil. Dan Aru tahu betul suara mobil milik siapa itu.


Arunika beranjak untuk pergi ke depan menemui dua orang yang sedari tadi ditunggunya. Tampak Juna dan Nadia berjalan mesra memasuki rumah. Lebih tepatnya Nadia yang dengan agresif memeluk lengan Juna meskipun Juna sudah berulang kali melepas tangan Nadia dari tubuhnya.


Juna bukan tipikal suami yang suka memperlihatkan kemesraan di hadapan orang lain. Ia merasa risih bila dilihat orang dipeluk seperti itu. Apalagi ada Aru di sana, gadis yang merupakan istri keduanya.


“Ada apa kau menyambut kami?” Nadia menyunggingkan senyum yang tidak enak dipandang mata, lantas melingkarkan tangannya pada pinggang Juna dan menyenderkan kepala pada lengan suaminya itu. Seperti ingin memberitahu Aru bahwa meskipun Juna adalah suami perempuan itu juga, tetapi hanya dirinya seoranglah yang berhak atas diri Juna.


“Saya menunggu untuk makan malam.” Seperti biasa Arunika menunduk.


Arunika mengangguk.


“Bukankah sudah aku katakan kau tidak usah memasak?!”


Arunika semakin tertunduk dalam. Ia pikir perintah itu sudah tidak berlaku lagi. Sebab selama ini ia membantu ibunya memasak dan hasil masakannya itu dimakan oleh semua orang termasuk Juna dan Nadia.


“Nadia, kenapa bicaramu kasar begini?” Juna melepas tangan Nadia dari pinggangnya. Ia tidak habis pikir dengan sikap istri yang dicintainya itu. Selama ini ia melihat Nadia sudah bersikap baik terhadap Aru dan sekarang kembali lagi seperti dulu.


Jujur saja, Juna memang sudah menerima keberadaan Aru karena melihatnya setiap hari di rumah. Tetapi bukan berarti dia telah mencintai istri keduanya tersebut. Cintanya hanya untuk Nadia seorang.


Juna menatap Aru yang tertunduk dalam. “Kami tadi sudah makan malam di luar. Kamu makanlah sendiri. Maaf sudah membuatmu menunggu kami.”


Arunika mengangguk dan berlalu pergi dari sana untuk melanjutkan makannya yang tertunda. Tetapi suara Nadia membuatnya memelankan langkah.


“Kau jangan pernah memasak lagi karena kami tidak akan memakannya. Kau tidak akan pernah bisa memasak seperti ibumu. Jadi kalau kau memasak, masaklah hanya untukmu saja.”


Arunika masih mendengar Juna menegur istri tersayangnya itu. Karena siapa saja yang mendengar perkataan Nadia, dapat menyimpulkan kalau Aru tidak bisa memasak. Namun Arunika tidak terlalu ambil pusing. Perutnya terasa sangat melilit dan meminta ingin segera diisi.