
Nadia meletakkan ponsel mahalnya dengan kesal di atas meja setelah melakukan panggilan video. Bagaimana tidak kesal. Beberapa hari ke belakang ia harus tetap memerankan sandiwaranya dengan berpura-pura baik di hadapan mertuanya dan di hadapan Bu Nita juga tentunya, ibunya Arunika.
Sungguh ia sudah sangat muak dengan berpura-pura seperti ini. Yang biasanya Nadia pergi bersama Juna atau pergi dengan teman-temannya, kini dirinya terpaksa harus mendekam di rumah bersama Aru.
Tentu saja ia tidak ingin terjadi lagi kejadian tempo hari di mana ia dimarahi oleh Bu Ranti karena meninggalkan Aru di rumah sendirian. Atau yang lebih parah Bu Ranti bisa saja tiba-tiba langsung ada di rumah ini. Dan Nadia tidak ingin hal itu sampai terjadi. Bisa gagal semua rencananya bila Bu Ranti pulang lebih awal.
“Seperti anak kecil saja. Setiap hari harus video call,” sungut Nadia setelah melabuhkan bokongnya di kursi. “Kamu ngapain masih di sini? sana pergi!” usir Nadia pada Aru yang masih berdiri di sana.
Tanpa disuruh untuk kedua kalinya Arunika segera beranjak dari sana.
“Sabar Nadia, sabar.” Nadia mengusap dadanya karena teringat dengan pesan Mbah Ning supaya bisa menjaga emosi. Hati dan raga harus dijaga kesehatannya agar program kehamilan yang sedang dijalaninya ini bisa cepat membuahkan hasil. Begitu pesan yang selalu disampaikan oleh ahli pengobatan alternatif itu.
“Sandiwara ini tidak akan lama lagi. Setelah ada yang hadir di sini, aku pastikan dia akan langsung pergi dari rumah ini.” Nadia mengusap perutnya lalu melirik Aru dengan kesal yang tengah berbenah tidak jauh dari tempatnya duduk.
*
Hari-hari terus bergulir sesuai dengan kehendak Sang Pencipta. Dan Arunika ikhlas mengerjakan semua pekerjaan yang diperintahkan oleh Nadia setiap harinya. Tidak ada dendam di dalam hati gadis itu meskipun Nadia selalu memberinya banyak pekerjaan.
Selama Arunika tidak kelaparan dan tidak mendapat kekerasan fisik yang berarti, ia akan bertahan dengan kehidupan yang dijalaninya saat ini.
Sedangkan Nadia sendiri selain sibuk memerintahkan pekerjaan untuk Aru, ia juga sibuk dengan pengobatan alternatifnya.
Beruntungnya Nadia bisa pergi di siang hari karena di waktu itu Bu Ranti tidak menelepon. Bu Ranti menelepon di pagi atau di malam hari saja.
Semuanya terlihat senang termasuk Nadia dengan pura-pura senang tentunya.
Malam itu, setelah cukup lama melepas rindu dengan berbincang hangat di kamar Arunika, Bu Ranti yang juga ada di sana mengajak Bu Nita untuk beristirahat.
Arunika dengan berat hati mengiyakan karena bagaimanapun juga kesehatan Bu Nita harus dijaga. Tidak mungkin ia egois dengan menahan ibunya itu selalu di dekatnya.
Arunika yang baru saja keluar dari kamar mandi terkejut melihat Bu Ranti ada di kamarnya lagi. Ia pikir mertuanya itu tidak akan datang lagi karena tadi sudah pamit.
“Benar malam ini waktunya Juna tidur di kamar Nadia?” tanya Bu Ranti dengan tatapan lekat pada Aru saat menantu mudanya itu berjalan mendekatinya. Sekarang tubuh kurus Arunika terlihat lebih berisi.
“Iya, Bu.”
Tentu saja Arunika harus menjawab demikian agar selaras dengan ucapan Nadia saat mereka sedang berbincang tadi. Jika menjawab jujur kalau selama ini Juna hanya tidur di kamar Nadia, entah apa yang akan terjadi.
“Lalu bagaimana? apakah sudah....”
Mata Bu Ranti tertuju pada perut datar Arunika. Selama pergi Bu Ranti ingin sekali menanyakan itu melalui telepon. Tetapi ditahan supaya jadi kejutan saja. Dan melihat Arunika yang gemukan, Bu Ranti optimis sekali dengan yang ada di pikirannya. Mengingat usia pernikahan Juna dan Arunika sudah memasuki bulan ke empat.
Arunika menelan ludahnya karena tiba-tiba saja tenggorokannya tercekat mendengar pertanyaan Bu Ranti. Tentu saja ia mengerti apa maksud mertuanya itu.