
“Sayang, pasti ada cara membujuk Ibu untuk membatalkan keinginannya itu. Aku yakin pasti ada caranya. Ayo bantu aku memikirkan caranya.” Nadia tidak berhenti berbicara sembari mengguncang tangan Juna sepanjang perjalanan pulang ke rumah.
Setelah mengeluarkan embrio yang tidak berkembang dari rahimnya, Nadia memilih untuk segera pulang meski tubuh bagian bawah masih merasakan sakit dan nyeri. Rasa sakit itu tidak seberapa bila dibandingkan dengan mendengar perintah Bu Ranti yang tidak terbantahkan supaya Juna menikah lagi.
Istri mana yang sanggup merelakan suami sendiri menikah lagi.
“Diamlah!” Juna memukul stir mobil dengan keras hingga membuat Nadia tersentak.
Rahang Juna mengeras diikuti dengan urat-urat menonjol di sebagian wajah. Menandakan kalau pria itu marah. Daritadi dia juga tengah memikirkan cara bagaimana supaya Ibunya membatalkan keinginan konyol itu.
Sepasang matanya menyorot tajam pada Nadia, hingga membuat wanita itu refleks menarik tangannya menjauh dari lengan Juna. Ia sudah sangat pusing memikirkan keinginan Bu Ranti. Kepalanya semakin bertambah pusing dengan mulut Nadia yang semenjak tadi menyerocos terus.
“Kalau kau tidak memancing keributan, Ibu pasti akan melupakan keinginan konyolnya itu. Dan, apa kau sudah hilang akal sampai membentak Ibu seperti tadi?!”
Ya, tidak hanya pada Dokter Mala saja Nadia bersikap kurang ajar. Pada mertuanya sendiri pun ia berani berdebat dengan kata-kata kasar, supaya Bu Ranti tidak perlu ikut campur lagi dengan bagaimana cara mereka memperoleh keturunan.
“Lalu aku harus diam saja saat Ibu mengatakan kau harus menikah lagi, begitu?!”
Kepala Juna rasanya mau pecah saja. Menghadapi Ibu atau pun Nadia sama saja, sama-sama membuat emosinya mendidih.
Juna melirik istrinya yang seketika terdiam. Kedua bola mata indah itu nampak dilapisi oleh cairan bening. Ia menarik napas gusar. Kehidupan rumah tangga yang dulu adem anyem, kini menjadi bumerang hanya karena belum ada keturunan.
Juna mencoba meredam emosi yang sudah memuncak. Bagaimanapun wanita yang duduk di sampingnya itu adalah wanita yang sangat dicintainya. Seharusnya ia mengerti, Nadia bersikap seperti tadi karena tidak rela membagi suami dengan wanita lain. “Kita akan coba membujuk Ibu.”
*
Juna dan Nadia tiba di rumah. Mereka mendapati Bu Ranti sedang duduk di ruang tamu bersama dengan Bu Nita.
Siang tadi Bu Ranti memutuskan untuk langsung pulang setelah perdebatan sengit dengan menantunya, tanpa ikut menunggui Nadia selesai dikuret.
“Bu, kita perlu bicara.”
“Di sini?” tanya Juna sembari melirik Bu Nita yang tertunduk di tempatnya. Tentu ia tidak ingin membahas masalah rumahtangganya yang sangatlah sensitif di hadapan orang yang tidak diperlukan.
“Ya, di sini. Dengan Bu Nita.”
Nadia juga terlihat mengerutkan kening. Untuk apa ada Bu Nita ikut hadir di sana, pikirnya.
“Nanti saja bicaranya, Bu. Nadia akan istirahat dulu,” ujar Juna yang merasa emosi Ibunya belum reda. Dan Nadia juga memang butuh istirahat. Juna merangkul pinggang istrinya untuk pergi dari sana.
“Kau akan menikah dengan Arunika!”
Kalimat itu menghentikan langkah Juna dan Nadia. Kedua mata Nadia terbelalak dengan sangat lebar begitu juga dengan mulutnya yang menganga. Sementara Juna menatap tajam pada Ibunya.
“Kau akan menikahi Aru,” ulang Bu Ranti lagi mempertegas kalimatnya. Beliau bahkan berdiri, menantang mata putranya yang sama sekali tidak membuatnya gugup ataupun takut.
“Omong kosong apa ini, Bu?!”
“Ibu tidak sedang berbicara omong kosong ataupun bercanda. Kau harus menikah dengannya!”
Juna tertawa geli. Ia akui dirinya bersalah dengan kejadian tadi pagi. Tetapi untuk menebus kesalahannya tidak harus menikahi gadis itu juga.
“Aku tidak akan menikah dengan siapapun juga!” seru Juna dengan tegas setelah tawanya berhenti. “Ibu tenang saja. Kami akan pergi ke Singapore untuk melakukan bayi tabung. Di sana peralatannya lebih canggih dan kata temanku dokternya juga handal di bidangnya. Jadi Ibu hanya perlu bersabar.”
Setelahnya Juna mengajak istrinya untuk pergi ke kamar mereka.
“Juna! Kalau kau tidak mau, maka sampai kapanpun kalian tidak usah menemui Ibu lagi!“
Juna terus melangkahkan kakinya menggandeng tangan Nadia dengan erat, meskipun hatinya sedikit berdesir dengan ucapan Bu Ranti barusan. Ia yakin Ibunya itu tidak serius dengan ucapannya karena masih dikuasai emosi. Buktinya Ibu Ranti berbicara melantur, memintanya untuk menikahi anak pembantu.