
Arunika
“Kalian kenapa bisa datang bersama?” tanya Bu Ranti lagi, penasaran karena tidak kunjung dijawab juga oleh Pak Juna ataupun diriku. Sesaat Bu Ranti memandangi wajah kami bergantian. Tentu saja siapa pun yang melihat kami akan bingung dengan penampilan kami yang jauh berbeda.
Pak Juna dengan setelan jas rapinya, sementara aku dengan seragam kemeja biru yang warnanya sudah terlihat pudar dan juga basah akibat berkeringat karena tadi berlari-lari.
Aku kebingungan harus menjawab apa, terlebih fokus Bu Ranti kini tertuju padaku.
“Tadi kami tidak sengaja bertemu di depan, di dekat pos satpam, Bu,” ucap Pak Juna pada akhirnya. “Aku melihat dia kelelahan, jadi aku putuskan untuk mengajaknya naik mobil saja. Kalau Ibu tidak percaya, Ibu tanyakan langsung saja padanya. Aku masuk dulu mau mengambil barang Nadia yang tertinggal.”
Pak Juna langsung melenggang masuk membuat jantungku ketar-ketir. Alasan apa yang harus aku berikan supaya Bu Ranti tidak curiga dan banyak bertanya?
“Apa benar yang dikatakan Juna, Aru?” Kini Bu Ranti sudah berada tepat di hadapanku.
“I-iya, Bu. Tadi kami memang bertemu di depan,” jawabku gugup. Semoga saja Bu Ranti tidak melihat kegugupanku dan segera membiarkanku pergi.
“Bajumu... kenapa bajumu basah begitu?”
“Oh....” Aku refleks memegangi bajuku bagian depan yang masih terasa lembab. “Ta-di di pabrik Aru dan teman-teman terpaksa harus mengeluarkan banyak tenaga karena banyak yang tidak masuk, Bu. Akhir-akhir ini banyak yang sakit,” kataku lebih lugas. Karena kenyataannya memang begitu. Banyak diantara kami yang tiba-tiba saja izin karena sakit, padahal hari kemarinnya terlihat baik-baik saja.
“Lalu rambutmu, kenapa rambutmu berantakan begitu?” tanya Bu Ranti lagi dengan rasa penasarannya.
Aku baru sadar karena tadi aku merapikan diri hanya sekenanya saja. Aku terlalu sibuk menangis dalam lamunan, kepada siapa lagi aku akan meminjam uang.
“Oh, ini... ini mungkin karena tidak diikat jadi tertiup angin saat bersepeda, Bu, hee.”
Aku menyisir rambut dengan menggunakan jari. Jari-jariku tersangkut di antara rambutku yang kusut. Seperti tidak pernah disisir saja. Merasa sudah cukup rapi, kemudian menyelipkannya di belakang telinga.
Mata Bu Ranti yang sedari tadi fokus pada tanganku membuatku melihatnya juga. Ternyata ada bekas merah di sana. Aku tersadar karena tadi preman itu juga beberapa kali mencekal tanganku dengan kuat. Segera aku menyembunyikan dari pandangan Bu Ranti.
“Kalau begitu, Aru permisi, iya, Bu. Mau bantu-bantu Ibu dulu.”
Aku akhirnya dibiarkan pergi meskipun Bu Ranti sepertinya masih ingin menanyakan banyak hal. Itu terlihat jelas dari sorot matanya yang penuh tanda tanya.
*
*
*
Pak Juna keluar dari dalam rumah dan bergegas menuju mobilnya saat aku tengah membersihkan halaman depan. Ia masuk dan duduk di depan kemudi, kemudian menyalakan mesin mobil. Aku segera menyingkir ke tepian agar tidak menghalangi jalan, saat menyadari kalau laki-laki yang telah menolongku tadi siang menjelang sore tersebut akan segera pergi.
Namun yang aku lihat adalah lirikan sinis dan gurat kemarahan. Sampai urat-urat di wajahnya terlihat menonjol. Membuatku ciut seketika.
“Juna...! Kita masih perlu bicara!”
Ibu Ranti sudah berdiri di teras dan berbicara sekeras itu. Beliau berkali-kali menyerukan nama putranya, namun tidak diindahkan oleh si pemilik nama. Hingga mobil hitam tersebut hilang dari pandangan mata.
“Aru.”
“Iya, Bu?” Aku mendekat pada Bu Ranti. Dari mimik wajahnya terlihat kalau beliau ingin mengatakan sesuatu yang serius.
“Em....” Beliau tampak berpikir sembari menatapku dalam. Entah apa yang dipikirkannya. Apakah pertengkaran yang baru saja terjadi ada hubungannya denganku? Aku mendadak cemas. “Nanti saja saya bicara dengan kamu, sebelum kamu dan Bu Nita pulang.”
*
Aku gelisah selama dalam mengerjakan pekerjaan. Bertanya-tanya dalam hati tentang apa yang akan dibicarakan oleh Bu Ranti. Beberapa kali Ibu menegurku dan bertanya karena kedapatan melamun dan tidak fokus. Dan beberapa kali juga aku terpaksa harus berbohong mengatakan kalau tidak ada apa-apa. Maaf, Bu, aku berbohong.
“Akhirnya selesai juga semua pekerjaan,” ujar Ibu berdiri di ambang pintu kamar yang menjadi tempat kami tidur di rumah berlantai dua ini. “Lebih baik kita segera pulang, Aru, sebelum hari malam. Ibu lupa kalau ternyata Ibu punya janji dengan Ibu Ratih untuk mencuci pakaiannya. Ibu takut nanti malah diberikan pada yang lain,” papar Ibu bersemangat. Lantas mengambil pakaian kotor kami yang sengaja di simpan di atas meja kemudian memasukkannya ke dalam tas gendong.
Aku semakin gusar. Memikirkan hal apa yang akan dibicarakan Bu Ranti sudah cukup membuatku tidak tenang. Masalah dengan rentenir juga masih belum ada jalan keluarnya, dan sekarang Ibu ingin segera pulang. Itu artinya sama saja Ibu akan memasukkan diri ke dalam mulut buaya yang sudah terbuka lebar.
“Bu, apa tidak sebaiknya kita menginap di sini saja?” kataku pelan dan melirik Ibu takut-takut.
Ibu menoleh cepat, “Menginap lagi?” Raut wajah Ibu seketika berubah curiga. Beliau menatapku tanpa kedip. “Aru, sebenarnya ada masalah apa?” tanya Ibu penuh desakan.
Aku memutus padangan dari Ibu, “Tidak, Bu, tidak ada apa-apa,” jawabku mencoba membantah, memberi beberapa saat jeda dengan menarik napas. Kemudian menemui pandangan Ibu lagi yang wajahnya masih penuh dengan rasa curiga. “Ibu sudah lelah bekerja seharian. Jadi Aru tidak tega kalau Ibu bekerja juga di malam hari. Nanti Ibu bisa sakit.”
“Aru, Ibu sudah terbiasa bekerja siang maupun malam dan kamu tahu itu. Sekarang katakan pada Ibu, sebenarnya ada masalah apa?” desak Ibu lagi dengan sorot mata penuh perintah.
Rasanya aku ingin menangis saat Ibu terus mendesakku untuk berkata jujur. Karena seperti biasanya masalah apapun yang datang menimpa, aku tidak akan bisa merahasiakannya dari Ibu. Diamnya aku dengan tertunduk dalam sudah cukup memberi bukti pada Ibu kalau aku sedang dilanda masalah.
“Aru, Nak, katakan pada Ibu, ada masalah apa?” Ibu yang sudah duduk di bibir ranjang di sebelahku, merapikan rambutku yang beruraian ke depan menutupi wajah.
Suaranya yang lembut itu membuat hatiku tidak sanggup untuk menyakitinya dengan mengatakan kebenaran tentang Bapak yang meninggalkan utang. Seumur hidupku hingga usiaku sekarang 21 tahun, aku belum pernah melihat Ibu bahagia menikmati hidup. Hidup Ibu selalu tertekan oleh tindakan dan perintah suaminya yang sialnya adalah ayahku juga.
“Bu Nita.” Aku tersentak mendengar suara Ibu Ranti. Wanita yang usianya lebih tua dari Ibu namun terlihat lebih muda dan cantik itu masuk menghampiri kami, menarik kursi lalu duduk di hadapan kami. “Saya mau bicara dengan Bu Nita dan juga Aru,” katanya membuat debaran jantungku bertalu-talu dengan kecepatan di atas rata-rata. Sementara Ibu meskipun mengangguk, terlihat jelas ada gurat kebingungan di wajahnya.
“Tadi Juna menceritakan kalau Aru ditangkap oleh orang-orang yang badannya besar-besar. Kata Juna mereka menagih utang pada Aru. Apa itu benar, Aru?”