Not My Baby

Not My Baby
9. Tidak asing



"Saya cukup terkejut melihat Menantu anda sepertinya mengenal pelayan saya." Dave menggoyangkan anggur merah di gelasnya. pria itu merasa penasaran tapi dia tidak ingin rasa keingintahuannya itu terlihat jelas di wajahnya.


"Ah...itu....


Viona menipiskan bibirnya dia tidak pernah menyangka akan bertemu dengan keluarganya di sini, setelah pertemuan tidak terduga nya dengan Bos besar sekarang dia bertemu dengan orang-orang yang tidak ia inginkan sama sekali.


"Sebenarnya dia adalah putri ayah juga, namun karena kesalahannya ayah terpaksa mengusir Viona dari rumah," bukan Adam yang menjawab melainkan Naura, wanita itu berbicara tanpa memikirkan perasaan adiknya sama sekali.


Ayah kandung Viona itu menghela nafas, rahasia yang seharusnya hanya diketahui oleh anggota keluarga mereka saja di bongkar oleh Naura dengan entengnya.


"Kesalahan?" Gumam Dave, seketika ingatannya mengenai biodata Viona saat itu terlintas.


Viona memiliki seorang putra yang ia rawat seorang diri dan kebetulan sekali info yang ia dapatkan dari rekan bisnisnya mengatakan bahwa Viona diusir karena melakukan suatu kesalahan. tidak menutup kemungkinan jika pelayannya itu hamil di luar nikah dan akhirnya di usir.


"Tidak perlu di bahas, lagi pula itu adalah urusan keluarga kalian," jawab Dave seadanya. jika dia ingin tau pun tanpa bertanya dia bisa mencari tau sendiri.


"Ah! begitu." Semuanya merasa lega dengan perkataan Davendra barusan setidaknya mereka tidak perlu lagi membuat alasan untuk menutupi skandal keluarga mereka.


.


"Cari tau mengenai pelayan baru itu"


James mengangkat wajahnya menatap pada sang tuan, "Maksud anda Nona Viona?" tanyanya memastikan kembali perkataan tuannya.


"Tentu saja! memangnya siapa lagi?" dengus Dave tidak santai.


"Baik Tuan." Bekerja dengan Dave memang tidak mudah, mood bosnya yang sering kali berubah-ubah itu kadang membuatnya kesulitan memahami maksud dan keinginan pria itu, namun kali ini permintaan bosnya sangat tidak terduga ini kedua kalinya Davendra menyuruhnya mencari tau mengenai seorang wanita.


Pertama wanita malam yang kabur dengan membawa benih milik bosnya sekarang seorang pelayan yang bahkan belum dua puluh empat jam mereka temui.


Sepeninggal James dari ruangannya Dave yang tengah duduk di kursi kebesarannya itu memikirkan banyak hal, terutama mengenai seluk-beluk keluarga dari rekan bisnisnya itu.


Tidak ada hubungannya dengan dirinya namun entah mengapa dia begitu tertarik dengan kehidupan pekerja baru nya itu, bahkan dia melupakan jika sebelumnya kelimpungan mencari keberadaan Ari. dengan adanya Viona putri tunggal dari Adam Robinson dia bisa teralihkan  begitu saja.


.


.


Viona meletakkan botol susu milik putranya yang sudah kosong di atas meja, Arka tertidur pulas setelah menghabiskan makan malamnya.


Sambil menepuk-nepuk paha gembul bayinya Viona tersenyum tanpa sadar. Merasa lucu dengan kondisinya saat ini, tidak ada dalam list kehidupannya dia akan memiliki seorang anak untuk ia urus tapi ternyata Tuhan berkehendak lain, bertambah senang lagi karena Arka sangat pintar bayi itu tidak pernah menangis saat tengah malam.


"Maafkan mama sayang, karena membawa mu ke kehidupan yang pahit ini." Wanita itu menatap sendu putranya yang tengah tertidur, sesekali dia menciumi wajah tampan Arka pelan agar bayi itu tidak terbangun dari tidurnya.


Alis Viona mengerut saat menyadari apa yang baru saja ia lihat. entah pengelihatannya yang salah atau memang bayinya memiliki kemiripan dengan seseorang yang ia kenal?


Tubuhnya yang semula berbaring menyamping langsung terduduk tegap matanya kembali menelisik wajah Arka lebih jauh.


"Tidak mungkin..." gumamnya tidak percaya.


Viona menutup mulutnya kaget dia tidak salah lihat! wajah Arka memang memiliki kemiripan dengan Bos di tempat kerjanya.


Davendra.....


Wanita itu tersadar dengan apa yang baru saja terpikir di kepalanya demi menghilangkan pikiran itu dia bahkan harus mencuci wajahnya dengan air mengalir.


Viona melihat pantulan dirinya di cermin.


"Itu hanya perasaan ku saja," tekannya pada diri sendiri.


klek


Saat keluar dari kamar mandi pandangannya langsung tertuju pada Arka yang tengah tertidur pulas, selama ini dia tidak pernah tau siapa ayah dari bayi yang Aruna kandung. Sahabatnya itu selalu mengelak saat dia bertanya mengenai pria yang menghamilinya.


Tiba-tiba perkataan Aruna saat hamil dulu terlintas di kepalanya, saat itu dia pernah ingin menemui Aruna di kamarnya tapi sebelum dia masuk suara Aruna ketika sedang berbicara dengan bayi dalam perutnya terdengar di telinganya.


"Sayang apa kamu tau? Ibu tidak pernah menyesal memiliki mu, walaupun kamu terlahir dari sebuah kesalahan tapi ibu sangat sangat menyayangi mu." Aruna mengusap perut besarnya penuh dengan kasih sayang.


Tidak jauh dari sana Viona yang melihat hal itu ikut tersenyum lembut Walaupun tubuh Aruna semakin kurus dari hari ke hari namun senyuman di wajahnya tidak pernah pudar sedikit pun, dan Viona sungguh bersyukur dengan hal itu.


"Apa kamu ingin tau sebuah rahasia?" Viona mengerenyitkan dahinya saat Aruna berbicara kembali dengan Bayinya.


Rahasia?


"Ayah mu sangat lah tampan." Tawa renyah mengalun merdu ketika wanita yang tengah hamil itu tertawa.


"Dia juga pria yang hebat, jika saja dia orang biasa seperti kita mungkin ibu akan mengejarnya."


Viona tertegun mengingat hal itu, bagaimana bisa dia lupa dengan perkataan Aruna saat itu?


Walaupun terkesan bercanda dirinya yakin jika Aruna mengatakan hal yang jujur mengenai ayah dari Arka.


.


.


Pagi-pagi sekali Viona mengajak bayinya berjemur di bawah sinar mentari pagi, ini pertama kali ia melakukan nya bersama dengan Arka karena kulit bayi itu lumayan sensitif dia masih ragu membawa Arka berjemur seperti sekarang ini.


"Ya ampun ... siapa bayi tampan ini?" Seorang wanita paruh baya datang menghampiri Viona dan bayinya yang tengah berjemur.


"Pagi bibi," sapa Viona ramah


"Kau pasti kerepotan ya?"


Viona menggeleng lagipula dia tidak merasa kerepotan sama sekali.


"Di usia mu saat ini putriku sedang menempuh pendidikan nya di luar kota."


"Ya! putraku juga baru saja lulus tahun lalu dari universitas! dan sekarang dia bekerja di kantor pemerintahan," tawanya begitu senang.


Tidak nyaman! sungguh jika bisa dia ingin pergi dari ibu-ibu yang bergosip di sini.


"Suami mu bekerja dimana?"


Eh?


Apa yang harus dia jawab?


Plak!


"Jangan mengejek nya! sudah lama dia tinggal disini tapi aku tidak pernah melihat suaminya."


Viona menggigit bibir bawahnya kencang, dia ingin pergi..


"Anak jaman sekarang memang sulit menjaga dir,i" timpal salah satu dari mereka


"Makanya aku tidak membiarkan putriku bergaul sembarangan."


Dia sudah tidak tahan lagi!


"Maaf Bibi!"


Ibu-ibu yang semula asik membicarakan putra-putri mereka langsung mengalihkan perhatian nya pada Viona.


"Lebih baik kalian menjaga putra-putri kalian daripada bergosip di sini." Viona mengeluarkan senyuman andalannya kemudian berlalu dari sana tanpa basa-basi.


"Begitulah jika anak yang tidak diajarkan orang tuanya sopan santun."


"Kau benar, bersyukur Anak-anak kita tidak bergaul dengan wanita seperti itu."


Samar-samar suara ibu-ibu yang bergosip itu masuk ke dalam gendang telinganya namun dia tidak peduli lebih bersyukur lagi jika dia tidak mengenal mereka.


Alasan utamanya tidak ingin pergi keluar dari kontrakan adalah bertemu dengan tetangga seperti mereka di sana.


"Aku harap nasib putra-putri kalian lebih baik."


Awalnya dia biasa saja pada para tetangga yang memusuhinya dia juga merasa pantas karena ketidaksopanan nya beberapa waktu yang lalu, namun semakin lama pandangan orang-orang terhadapnya semakin berubah jika dulu hanya beberapa saja yang tidak menyukainya namun sekarang bertambah.


Semakin banyak yang memandangnya buruk, di tambah lagi dia sering pulang kerja malam hari dan hal itu menambah pikiran buruk  mereka terhadapnya semakin bertambah.


Dan sekarang sudah lebih sebulan sejak ia bekerja di restoran jika di tempat kerja dia semakin banyak mendapat teman maka berbeda dengan para tetangga, di sini dia mendapat banyak kebencian.


"Kasihan sekali bayinya."


"Benar! jika dia sudah besar pasti malu memiliki ibu seorang pekerja malam."


Deg!


Matanya memanas kata-kata mereka mengingatkannya pada Aruna, bagaimana perjuangan sahabatnya itu memperjuangkan bayinya.


Grep!


"Jangan nak, biarkan saja." Viona menoleh pada ibu pemilik kontrakan, hanya wanita itulah yang selalu percaya dan memihaknya.


"Bibi..."


Wanita paruh baya itu menghapus air mata yang mengalir di pipi Viona, "Jangan dengarkan mereka." Viona tidak menangis karena sakit hati, dia juga tidak merasa malu pada tetangganya yang lain, dia hanya merasa kesal karena mereka secara tidak langsung menghina Aruna. sahabatnya itu pasti sakit hati jika mendengar hal ini.


TBC....