Not My Baby

Not My Baby
36. Belanja



Seminggu sudah berlalu selama itulah Viona menjadi istri dari seorang Davendra Darmawangsa, kehidupannya sudah berubah 180 derajat. Tidak ada lagi Viona yang harus sibuk bekerja demi mencari uang untuk keberlangsungan hidupnya.


Hubungannya bersama sang suami juga mulai mengalami perubahan, walaupun tidak terlalu signifikan tapi setidaknya ada sedikit perkembangan dalam hubungan keduanya.


Yang paling membuat bahagia adalah perkembangan Arka yang begitu pesat, betapa bahagianya mereka semua saat balita tampan itu bisa berjalan satu dua langkah tanpa bantuan orang lain, sebagai orang tua tentunya Dave dan Viona yang paling merasakan kebahagiaan bisa melihat perkembangan putra mereka.


"Kau tidak merindukanku?" Viona yang tengah mengikatkan dasi di leher suaminya itu mengerutkan dahinya.


"Untuk apa?" Ujarnya, lagipula setiap hari Dave pulang kerumah apalagi yang membuatnya harus merindukan pria ini?


Dave memasang wajah masam mendengar jawaban dari istrinya, beberapa hari ini kan dia selalu pulang larut malam apakah Viona sama sekali tidak merindukan dirinya?


Viona menahan senyuman di wajahnya melihat raut wajah dari suaminya, wanita itu menelusup kedalam pelukan Davendra dan melingkarkan kedua tangannya di sana.


"Aku merindukanmu, tapi apa yang bisa aku lakukan? Jika mengeluh pun jadwal mu akan tetap sama."


Mendapat pelukan dari istrinya tentu membuat Davendra senyum-senyum sendiri karena merasa senang.


"Bagaimana jika liburan?"


Viona mengangkat wajahnya menatap pada Dave.


"Bulan madu?" Tanya gadis itu meminta penjelasan.


Dave mengangguk


"Tidak bisa," Viona melepaskan pelukan mereka, ia kembali merapikan pakaian Davendra yang terlihat kusut akibat pelukannya.


"Kenapa?"


"Arka masih terlalu kecil untuk kita tinggal bepergian, mungkin tahun depan?"


Davendra mendengus, pupus lah harapan bisa berduaan dengan istrinya. Jika menunggu tahun depan bisa saja tidak jadi lagi karena istrinya itu hamil.


Benarkan? Tidak mungkin istrinya itu tidak hamil jika setiap malam mereka melakukannya?


"Apa? Ada apa dengan wajah mu itu?" Wajah suaminya itu memerah tanpa sebab, tentu saja Viona bingung.


"Tidak ada, aku hanya tidak sabar menunggu tahun depan," elaknya tidak ingin istrinya tau isi pikirannya.


Viona menepuk-nepuk dada Dave beberapa kali, "sudah siang sebaiknya cepat berangkat."


Sebagai istri yang baik Viona dengan senang hati mengantarkan Davendra sampai ke pintu depan, sebenarnya hal seperti ini sudah sering di lakukan atas permintaan Dave sendiri. Suaminya itu bilang jika setiap waktu yang tersisa mereka gunakan untuk menghabiskan waktu bersama maka kedekatan akan terjalin dengan sendirinya.


Dan sesuai perkataan Dave, hubungan mereka berjalan dengan lancar seperti sekarang karena hal kecil yang selalu mereka lakukan bersama. Contohnya Viona mengantar Davendra sampai pintu keluar, setiap langkahnya mereka gunakan untuk berbincang hal-hal kecil sambil bergandengan tangan.


Romantis sekali kan?


Sebelum masuk ke dalam mobil Dave lebih dulu memberikan sebuah kartu debit kepada istrinya. Wanita itu terlihat menerimanya tapi dengan kening mengkerut.


"Pakai ini untuk belanja," ucap Davendra terkekeh melihat wajah istrinya.


"Kau tau kan aku tidak butuh belanja apa-apa?" Semua keperluan rumah sudah di pegang oleh masing-masing pelayan, sebagai nyonya rumah biasanya dia hanya memberi instruksi saja.


Davendra mengacak-acak rambut indah milik Viona dengan gemas, walaupun sudah menjadi orang kaya tapi istrinya ini masih saja hidup seperti saat susah dulu.


"Refreshing Honey, kau harus mencari udara segar di luar sana," jelas Davendra sembari merapikan rambut Viona yang ia buat berantakan tadi.


Viona memutar-mutar Kartu di tangannya, kira-kira apa yang akan dia beli dengan kartu ini?


"Baiklah aku berangkat dulu, ingat pesan ku ya? Kau bebas menggunakan kartu itu untuk apapun, habiskan saja isinya bila perlu."


Viona mendengus, ini saja dia bingung ingin membeli apa. Mana mungkin dia habiskan seluruh isi kartun ini?


Dave memberikan kecupan di pipi milik istrinya kemudian pria itu masuk ke dalam mobil.


Harus ia apakan benda ini? Baju-bajunya masih banyak di lemari, perhiasan juga sudah ibu mertuanya siapkan. Kalau begitu apa yang harus Viona beli dengan kartu ini?


.


.


Tentunya dia tidak sendiri, ada Arka dan ibu mertuanya yang menemani dirinya di sini.


"Bagus sekali kau mengajak ibu sayang, sejak dulu suami mu itu pelit sekali dengan ibu. Untungnya ada dirimu yang bisa berbagi uang suami mu dengan ibu," Winata tertawa begitu bahagia. Kapan lagi bisa menghabiskan uang putranya kan?


Bukan pelit, lebih tepatnya Davendra tidak ingin uang miliknya dihambur-hamburkan oleh ibunya sedangkan uang wanita paruh baya itu sendiri di simpan di bawah bantal.


Jika di lihat dari statusnya sudah jelas Winata memiliki uang lebih banyak dari Davendra, tapi wanita paruh baya itu tetap saja bersikeras ingin menghabiskan uang putra tunggalnya tanpa mau repot menggunakan uangnya sendiri.


Viona mendorong kereta bayi Arka menyusul ibu mertuanya yang berjalan lebih dulu masuk ke sebuah toko tas bermerek ternama di depan sana.


Tas-tas mewah berjejer rapi di etalase yang ada di toko logo Chanel. Harga-harga yang di bandrol sangat-lah mahal sesuai dengan kualitas yang tas itu tampilkan. Sebagai orang kaya baru ini adalah kali pertama Viona menginjakkan kakinya di toko barang mewah seperti sekarang.


"Bagaimana menurutmu nak?" Viona menoleh saat ibu mertuanya datang menunjukkan sebuah tas padanya.


Tas tersebut terbuat dari kulit sapi pilihan yang sangat halus dan berkualitas tinggi. Permukaannya memiliki kilauan lembut yang memantulkan cahaya dengan indah, memberikan kesan mewah dan eksklusif. Warna kulitnya adalah hitam yang dalam, memberikan kesan elegan dan serbaguna.


Namun sayangnya Viona bukanlah penggemar tas seperti itu, jadinya wanita muda itu hanya memberikan dua jempol untuk pertanyaan sang ibu.


"Benarkan! Sudah lama ibu mengincar tas ini, tapi suami mu itu memang pelit sekali," gerutu Wina mengingat kembali bagaimana frustrasi dirinya saat itu meminta di belikan tas ini oleh Dave. Dan sampai sekarang tidak di belikan juga.


"Sekarang ibu bisa membelinya." Perkataan Viona membuat bibir merah mertuanya melengkung sempurna, wanita paruh baya itu langsung membawa tasnya ke meja kasir tanpa membuang waktu lama-lama.


Saat ingin menyusul ibu mertuanya di kasir mata Viona tidak sengaja menangkap sebuah tas mini berwarna hitam yang menarik perhatiannya. Viona mendorong kereta Arka mendekat tas tersebut, kedatangannya tentu saja langsung di sambut oleh staf yang berjaga di etalase di sana.


"Nyonya apa anda ingin melihat dari dekat?"


Viona mengangguk dan staf langsung memakaikan Viona dengan sarung tangan yang sama seperti miliknya.


"Tas ini sangat cocok untuk wanita muda seperti anda nyonya, terbuat dari kulit berkualitas tinggi yang memberikan sentuhan klasik dan elegan." Jelasnya dengan panjang lebar, namun sayangnya Viona tidak terlalu memperhatikan


karena rasa tertariknya hilang saat melihat bandrol harga yang tertera.


'Astaga! Harganya bisa untuk biaya ku selama setahun.' Gumam Viona dalam hati.


Dia mengembalikan tas itu pada staf di sana, "Nanti saja," Viona tersenyum canggung.


"Tidak apa-apa nyonya." Sudah biasa menghadapi konsumen seperti Viona, jadi staf itu bisa memahami jika harga yang tertera terlalu mahal untuk wanita itu.


"Ada apa nak?" Winata baru saja kembali dari kasir heran melihat menantunya berdiri saja di sana tanpa mencoba satu pun tas yang ada di sana.


"Nyonya muda sepertinya tertarik dengan tas ini nyonya, tapi entah mengapa beliau menjadi ragu."


Viona mendelik pada staf yang berani-beraninya mengatakan hal seperti itu pada ibunya, "tidak bu, aku hanya melihat saja.'


.


Entah berapa kali Viona menghela nafas hari ini, bayangkan saja uang yang tidak sedikit nominalnya itu hangus hanya karena sebuah tas kecil seperti ini.


"Ayo nak, banyak toko yang belum kita kunjungi."


Viona menyusul ibu mertuanya yang berjalan penuh semangat di depan sana, kakinya lemas seperti jeli saat ibunya tadi membeli tas yang sempat menarik perhatiannya.


"Jika begini hidup orang kaya, maka aku memilih tidak kaya saja."


"Nona Viona?"


Seseorang tampak tidak asing menyapa Viona di sana, pria dan wanita yang sepertinya tengah mengandung itu tersenyum lebar pada Viona.


"Siapa?"


TBC.....