
Kondisi rumah pewaris tunggal Darmawangsa saat ini terlihat sangat ramai karena kehadiran sang nyonya besar, jika biasanya kondisi kediaman itu sepi setelah para pekerja pulang ke rumah masing-masing maka sekarang berbeda.
Winata mengundang beberapa tetangga yang ada di sekitaran sana untuk menikmati makan malam bersama-sama sekaligus menyambut kedatangan cucunya di keluarga mereka. Yang pasti tanpa sepengetahuan sang pemilik rumah yang saat ini keberadaannya masih di kantor.
"Cucu mu sangat tampan, persis seperti ayahnya." Puji seorang wanita paruh baya yang menjadi salah-satu tamu. Yang melihat Arka bermain dengan mainannya di pangkuan sang nenek.
Wina tersenyum bangga, tentu saja gen putranya tidak akan pernah gagal.
"Selama tuan Dave tinggal di sini aku tidak pernah melihat dia bersama istrinya."
"Benar, au sedikit terkejut ternyata dia punya bayi."
Obrolan ibu-ibu memang seperti ini, adakalanya mereka saling memujiĀ dan saling cibir antara satu sama lain. Dan sebagai pimpinan sosialita Wina tentu saja sudah terbiasa bisa di bilang sudah kebal menghadapi cibiran seperti ini.
"Ibunya tidak bertanggung jawab, aku bersyukur cucuku ini tidak di rawat oleh wanita itu." Saat Dave menceritakan tentang ibu Arka, hatinya sangat sakit waktu itu. Bagaimana bisa seorang wanita meninggalkan bayinya begitu saja dan memilih pergi bersama pria lain?
Para tetangga saling berpandangan mencoba mencerna perkataan dari Winata barusan.
"Ibunya pergi ke mana?"
"Memangnya apa yang wanita itu lakukan?"
Dan banyak pertanyaan lagi mengenai keberadaan ibu dari Arka, sama seperti yang Dave ceritakan padanya waktu itu ia juga menceritakan cerita yang sama persis seperti yang putranya katakan mengenai ibu dari Arka.
"Kejam sekali meninggalkan bayi setampan ini,"
"Jika aku bertemu wanita seperti itu, aku akan memukulnya sampai mati."
Obrolan mereka beralih menjadi menghujat wanita yang 'katanya' adalah ibu yang membuang Arka karena pria lain, pembicaraan itu semakin panas bahkan suaranya sampai terdengar ke dapur tempat Viona dari tadi berada mengawasi Arka.
Bagaimana lagi? Sebenarnya dia ingin menyusul ke sana dan mengambil putranya tapi sayang sekali sejak ke datangan ibu dari Dave itu dia tidak di perbolehkan mendekati Arka. Yang bisa dia lakukan hanyalah mengawasi dari jauh.
Namun telinganya panas saat para orang tua di sana berbicara buruk tentang ibu kandung Arka, entah darimana informasi itu berasal perkataan mereka membuat hatinya sakit. Mereka tidak tau bagaimana perjuangan Aruna untuk melahirkan Arka, sampai akhir pun perjuangannya sia-sia karena tidak bisa melihat wajah putranya sendiri.
Lalu bisa-bisanya mereka berkata buruk tentang Aruna ...
Ny. Gee menahan tubuh Viona saat gadis itu ingin beranjak menuju kerumunan ibu-ibu sosialita di sana, bukan hanya Viona saja yang mendengar tapi dirinya dan Rose juga mendengar caci maki itu.
"Jangan ke sana, jika kau membuat keributan akan sulit bagimu untuk bertemu dengan Arka nanti." Jelas wanita paruh baya itu.
"Tapi Gee, mereka berbicara buruk mengenai sahabat ku! aku tidak bisa diam saja." Viona kembali melanjutkan langkahnya namun Ny. Gee kembali menahan dirinya.
"Kita tidak tau apa yang tuan ceritakan pada nyonya Vee, lebih baik tunggu beliau pulang saja ya?"
Viona menghela nafas pasrah, tubuhnya tidak memiliki tenaga lagi sekarang.
Sungguh hidup bersama dengan Davendra sama sekali tidak menyenangkan, ada saja masalah yang pria itu buat untuk kehidupannya dan putranya.
.
.
"Ibu biarkan Arka di urus oleh pengasuhnya." Lama-lama jengah juga melihat ibunya tidak membiarkan Viona ataupun Rose menyentuh cucunya itu.
"Ibu masih sanggup mengurus cucu ibu, untuk apa menyuruh pelayan?"
Viona meringis mendengar itu, pupus sudah harapan nya bisa mengurus Arka saat ini. Sudah dipastikan jika keberadaan ibu dari Dave ini membuat semuanya jadi susah.
Bukan hanya Viona, Dave juga ikut jengkel dengan ibunya.
Winata mendengus, sebenarnya dia juga lelah tapi rasanya enggan meninggalkan cucunya di rawat pelayan.
Winata mendengus, sebenarnya dia juga lelah tapi rasanya enggan meninggalkan cucunya di rawat pelayan muda yang entah dari mana asal usulnya.
"Hm, ibu akan istirahat setelah Arka tidur." Lebih baik daripada harus melihat ibunya itu tidak melepaskan putranya sedetik pun.
Setengah jam kemudian Arka akhirnya tidur setelah menghabiskan susu untuk makan malamnya, seperti ucapannya pada Dave tadi wanita itu akan tidur setelah menidurkan cucunya.
Viona yang sejak tadi menunggu tanda-tanda nyonya besar keluar dari kamar Arka akhirnya merasa lega saat wanita paruh baya itu keluar dari sana. Ketika ibu dari Dave itu masuk ke dalam kamar barulah Viona berani masuk ke dalam kamar Arka yang sejak kedatangan Winata belum dia jenguk.
Arka tertidur dengan pulas di dalam box bayinya, bayi tampan itu terlihat damai padahal seharian ini dia tidak bertemu dengan Viona.
Sebagai seorang ibu yang sudah merawat Arka sejak bayi itu di dalam kandungan ibunya tentu saja Viona merasa sedikit kecewa, hanya sedikit karena dulu dia juga sudah sering meninggalkan Arka dengan ibu panti saat pergi bekerja. Jadi mungkin Arka sudah biasa dengan kepergiannya.
Viona duduk bersandar di box kayu tempat Arka tidur, wanita itu memeluk kakinya di depan dada kemudian memandang langit-langit kamar di sana.
"Kau tau nak? Mama berharap kamu menangis saat mama tidak ada di samping mu." Viona tersenyum kecut, "tapi sayangnya kamu terlalu pintar sampai tidak menangis saat mama tidak ada ... mama tidak tau harus senang atau sedih dengan hal itu."
Keinginannya untuk menjadi pengasuh Arka di rumah ini menjadi sia-sia rasanya, niat hati ingin membuat Arka ketergantungan dengannya tapi sepertinya tidak! Karena balita itu bahkan tidak mencari ibunya saat Viona tidak bisa menemuinya.
Ketakutannya di masa depan jika Arka akan melupakannya begitu saja semakin terbayang-bayang, entah apa yang bisa dia lakukan saat hari itu tiba nanti.
"Mama-
"Apa?"
Viona menoleh ke arah pintu saat seseorang tiba-tiba saja menyela ucapannya. Winata ada di sana wanita paruh baya itu kembali dengan bantal dan selimut yang berada di kedua tangannya.
"Kau menganggap dirimu ibunya?" Viona bangun dari duduknya dengan cepat, siapa yang menyangka jika nyonya besar akan kembali lagi ke kamar ini?
Winata menatap tajam pengasuh muda putranya pekerjakan itu, sudah dia duga jika wanita itu memiliki niat terselubung dengan bekerja sebagai pengasuh cucunya. Dia memang kembali ke kamar tadi untuk mengganti piyama tidurnya dan sekalian mengambil bantal dan selimut.
Tapi siapa sangka jika sekembalinya dia ke kamar cucunya dia mendengar jika wanita muda itu menganggap dirinya sebagai ibu dari Arka?
"Nyonya, saya tidak bermaksud-
"Jangan karena kau merawat Arka, kau bisa menganggap dirimu adalah ibunya! Aku tidak akan membiarkan wanita seperti mu itu menjadi ibu dari cucuku! Apalagi istri putraku!" Wina menunjuk wajah Viona dengan kasar, wanita seperti Viona ini memang pantas di kasari.
"Saya bahkan tidak punya niat seperti itu." Jawab Viona membela dirinya, walaupun amarah nyonya besar masih membara tapi dia tidak bisa diam saja jika dirinya di katai seperti itu oleh ibu dari Dave itu.
Memangnya semua wanita menyukai Davendra? Jika iya, maka Viona adalah salah satu dari mereka yang tidak menyukai pria angkuh itu.
"Lalu kenapa kau memanggil dirimu mama di hadapan Arka?"
Wanita dua puluh tahun itu geram, kenapa katanya? tentu saja karena dirinya adalah ibu Arka.
"Hal itu manusiawi nyonya."
Ibu Dave itu berdecih, "Kau harus sadar dengan posisi mu nak, jangan melewati batas dengan menganggap dirimu sebagai ibunya!"
"Arka adalah putraku nyonya! Apa salah jika aku menganggap diriku ibunya?" Tidak perlu di tutupi lagi, lagi pula dia berkata jujur kan?
"A-apa?"
TBC.....