Not My Baby

Not My Baby
15. Kesempatan



Kurang lebih seminggu sudah waktu berlalu dan selama itulah Davendra tidak muncul di hadapan Viona dan Arka lagi. Pria itu hilang seolah tidak pernah ada mengganggu hidup Viona.


Sekarang Viona tidak lagi merasa takut apabila Dave akan datang mengambil Arka darinya, karena sepertinya pria itu membatalkan niatnya untuk mengambil Arka dan tentu saja Viona bersyukur atas hal itu.


Di panti Viona membantu mengurus anak-anak, di sini tugas memasak makanan adalah tugasnya sekarang. Dia tidak lagi bekerja di Restoran, surat pengunduran dirinya juga sudah dikirim tiga hari yang lalu. Awalnya pak manajer bertanya dan beliau sangat menyayangkan keputusan Viona yang terburu-buru, namun akhirnya pria paruh baya itu setuju.


Teman-teman Viona juga tidak rela wanita itu pergi tapi mau bagaimana lagi? Akhirnya mereka hanya bisa menerima keputusan itu.


"Viona!"


Wanita yang tengah mencuci piring bekas mereka semua sarapan tadi menoleh kearah pintu, di sana ada Bela suster yang juga bekerja di sini membantu ibu panti merawat anak-anak. Gadis itu adalah salah satu anak yang di besarkan oleh ibu panti karenanya gadis itu ikut membantu di panti ini.


"Ada yang mencari kamu." Ujarnya menghampiri Viona.


"Siapa?"


"Entahlah, lebih baik kamu segera ke sana! Biar aku yang menyelesaikan ini." Viona mengangguk saat Bela mengambil alih tugasnya, wanita itu kemudian keluar untuk menemui tamunya.


Awalnya Viona tidak mengenali pria yang sedang duduk di atas sofa itu, namun saat ibu panti menyuruh nya mendekat perlahan Viona mengenal betul siapa pria itu.


"Ini dia Viona Tuan."


Tubuh Viona membeku, bahkan tangannya terasa dingin saking gugupnya.


"Nak, Tuan ini adalah donatur tetap panti kita, ibu tidak tau jika kamu mengenal beliau?"


Begitupun dengan nya, siapa yang mengira jika Davendra adalah donatur tetap di panti tempat Aruna di besarkan? Pria itu seharusnya mengetahui Aruna tumbuh di sini jika Dave benar-benar mencari keberadaan Aruna dan Arka.


"Bu, bisa tinggalkan kami berdua?" Pinta Viona pada ibu panti, keresahan di mata wanita muda itu terlihat jelas di pengelihatan ibu panti tapi wanita paruh baya itu enggan bertanya.


Melirik sekilas pada Davendra kemudian ibu panti pergi dari sana. Wanita paruh baya itu memutuskan ikut bergabung bersama anak-anak lainnya di belakang rumah.


"Kau pikir aku membiarkan dirimu pergi begitu saja?" Seringai tipis nampak jelas di sudut bibir pria tampan itu, hanya saja Viona tidak melihatnya karena terus menundukkan kepalanya.


Jari jemarinya saling bertautan keringat sebesar biji jagung turun melewati pelipisnya, menggambarkan betapa gugupnya Viona saat ini.


"S-saya...


"Apa ancaman ku terdengar seperti lelucon di telinga mu?"


Viona menggeleng tatapan penuh rasa takutnya bertabrakan dengan sorot mata tajam Davendra.


"Saya mohon Tuan, jangan ambil Arka dari ku," Air mata yang selama seminggu ini hampir tidak pernah keluar kembali mengucur deras. dan semua itu terjadi karena Davendra.


"Kesempatan mu sudah habis, tidak ada toleransi bagi pembangkangan seperti mu."


Dave tersentak ketika Viona tiba-tiba saja bersimpuh di bawah kakinya, tangan kecil itu memegangi kakinya dengan mata penuh permohonan.


"Saya mohon! Biarkan Arka bersama dengan saya."


"James! Ambil putraku dari Maria!"


Viona menoleh ke belakang ternyata sedari tadi bukan hanya mereka berdua di ruangan ini tapi James juga ada bersama mereka.


"Tidak tuan James, kumohon."


"Maafkan aku Viona." Tidak ada yang bisa dia lakukan, sudah lama dirinya menyaksikan bagaimana perjuangan Dave mencari keberadaan Aruna, dan ternyata gadis itu membawa anak milik Davendra tentu saja pria itu tidak akan melepaskan putranya begitu saja.


Viona kelimpungan dengan cara apa lagi dia harus mencegah kedua orang ini mengambil putranya?


"Tuntutan!"


"Saya akan menuntut anda karena telah mengambil Arka dari saya!" Wanita itu bangun dari posisinya semula kemudian berdiri menatap nyalang pada Davendra dan juga James.


Keberanian yang awalnya bangkit akibat dorongan rasa ingin melindungi dari dalam diri Viona hilang begitu saja saat suara kekehan kecil keluar dari bibir Davendra. Perasaan Viona semakin tidak enak karena hal itu.


Pria itu tertawa?


Tiba-tiba saja Dave beranjak dari tempatnya duduk dan berjalan cepat menghampiri Viona.


Tubuh Viona terlihat sangat kecil berhadapan dengan tubuh besar Davendra yang begitu kokoh, bahkan Viona tidak mampu menggerakkan kakinya untuk mundur ke belakang menjauhi Davendra.


"Kau tidak memikirkan apa yang barusan kau ucapkan?" Nafas hangat pria itu menyapu lembut wajah Viona yang masih menatapnya. "Aku bahkan tidak perlu mengotori jariku hanya untuk mengambil putraku darimu," Lanjutnya semakin mengintimidasi.


"Apa maksud anda?"


"Hilangkan dari pikiranmu untuk menuntut ku Viona ... kau tidak ingin panti ini musnah begitu saja kan?"


Viona bergetar air matanya turun semakin deras, ternyata benar keputusannya untuk bersembunyi di sini adalah salah.


"James! bawa Arka kemari."


"Baik!"


"Tidak! Tidak boleh!" Viona berlari menghampiri James tapi sayangnya Davendra menahan tubuhnya dengan lengan kekarnya itu.


Pukulan-pukulan wanita itu berikan pada lengan Dave yang melingkari perutnya, tapi pria itu tidak bergeming sama sekali. Samar-samar terdengar suara tangisan bayi dari arah belakang, dan Viona yakin itu adalah suara Arka.


"Tuan apa yang anda lakukan?" Maria, ibu panti mengikuti James dari belakang. Pria suruhan Davendra itu tiba-tiba saja datang ke belakang sana kemudian mengambil Arka yang sedang ia gendong.


Pandangan wanita tua itu terpaku pada Viona yang meronta di tangan Davendra.


"Ibu! ambil Arka darinya bu!"


James mendekati Viona dan Davendra dengan Arka yang tengah menangis berada di gendongannya, kedua tangan kecil itu terayun pada Viona. balita itu tau jika yang berada di hadapan nya itu adalah sang ibu.


Namun sayangnya tubuh kecil itu lebih dulu di ambil oleh Davendra.


"Berikan dia padaku!"


"Ayo kita pergi."


"Tunggu-tunggu!"


Viona bersimpuh di kaki Davendra dengan tiba-tiba, Maria yang melihat hal itu berlari kecil menghampiri putrinya itu.


"Sudah nak." Pintanya agar Viona berdiri.


"Aku Mohon Tuan! biarkan aku bersama Arka! tidak perlu jadi ibunya biarkan aku merawatnya sampai dia sedikit lebih besar." Tangis Viona pecah, bingung apalagi yang harus dia lakukan untuk membuat Arka tetap berada di sekitarnya. Arka adalah dunia nya setelah kepergian Aruna, lalu apa yang harus ia lakukan jika Arka juga ikut pergi dari hidupnya?


Ibu panti ikut menangis siapa yang menyangka jika Arka adalah putra dari Davendra?


Dave menghela nafas dia melirik pada Viona yang masih betah memegangi kakinya dengan sangat erat.


"Baiklah."


Viona mendongak menatap penuh binar pada Davendra.


"Datang ke rumah ku besok pagi, itu adalah kesempatan terakhir dari ku."


TBC.....