
"Kenapa kau pelit sekali dengan ibumu sendiri?"
Viona menyandarkan tubuhnya dengan nyaman di dalam pelukan Davendra, keduanya saat ini berada di dalam kamar pribadi mereka di depan sana ada TV yang sedang menayangkan film action pilih Viona.
Dave mengeratkan pelukannya di pinggang sang istri, menenggelamkan kepalanya di leher wanitanya.
"Aku tidak pelit Honey, hanya saja ibu sudah terlalu kaya untuk menerima uang ku," Dave menggesekkan hidungnya di leher Viona. Seharian ini tidak bertemu dengan istrinya membuat rasa rindunya begitu membuncah.
Terlalu kaya bagaimana? Mereka berdua kan sama-sama kaya. Inilah yang membuat Viona kadang bingung dengan ibu mertua dan suaminya, mereka adalah orang kaya tapi kadang sikap mereka tidak mencerminkan orang kaya sama sekali.
"Lain kali kau tidak boleh mengambil kembali apa yang sudah di berikan untuk ibu." Viona bahkan sampai menolehkan kepalanya ke belakang saking seriusnya dia berbicara dengan Davendra.
"Baik-baik," jawabnya seadanya.
Istrinya ini belum mengerti bagaimana liciknya ibunya itu, sebenarnya yang pelit bukan dirinya melainkan sang ibulah yang memiliki kepelitan itu.
Bayangkan saja, hampir 80 persen kekayaan Darmawangsa adalah milik nyonya besar Winata, lalu kenapa wanita itu masih meminta di belanjakan oleh anaknya yang bahkan hanya mendapat beberapa persen kekayaan dari suaminya?
Dave mendengus memang ayahnya itu sangat mencintai ibunya makanya dia memberikan separuh kekayaannya untuk sang istri.
Mungkin di masa depan dia akan melakukan hal yang sama seperti ayahnya itu, Dave berjanji dalam hatinya jika dia akan membuat Viona lebih kaya dari ibunya sendiri nanti.
Viona kembali menolehkan kepalanya kebelakang saat telinganya samar-samar mendengar tawa kecil dari suaminya, film yang mereka tonton tidak ada komedinya sama sekali lalu kenapa pria aneh ini tertawa?
Telapak tangan halus Viona mendarat di dahi Davendra, perlakuan wanita itu tentu saja membuat si pria mengerutkan dahinya.
"Kau demam?" Tidak panas, suhu badan Dave normal saja.
Lalu kenapa pria ini tertawa sendiri?
"Honey..."
"Hm?"
"Tidak mengantuk kan?"
Tubuh Viona menegang saat tangan yang semula bertengger nyaman di pinggangnya naik menuju aset berharganya.
"D-dave...
Pria itu tidak mendengarkan rengekan dari istrinya, matanya terpejam menikmati aroma yang keluar dari tubuh Viona.
Viona tidak bisa menolak jika suaminya menginginkan dirinya malam ini, karena itulah serial TV yang semula mereka tonton bersama tadi terbalik menjadi menonton kegiatan panas sepasang suami-isteri di sana.
.
.
Lima orang terpilih yang sebelumnya melakukan lamaran magang di perusahaan Darmawangsa duduk dengan tenang, ke-lima orang itu adalah orang yang sudah lulus berbagai tes yang di tetapkan di perusahaan.
Ada tiga orang pria dan juga dua orang wanita. Salah satu wanita di sana tentu tidak asing bagi James dan Davendra.
"Selamat pagi Tuan Davendra, dan juga tuan James! Saya Bianca Robinson mewakili rekan yang lain mengucapkan terimakasih atas kesempatan yang anda berikan untuk kami."
Bianca, adik tiri dari Viona melamar di perusahaan nya bagaimana bisa dia tidak tau?
Dave melirik James yang berdiri di sampingnya dengan tajam, kenapa tidak ada yang memberitahunya terkait hal ini?
James berdehem, pria itu kemudian meminta ke-lima anak magang di sana keluar.
"HRD akan memberitahu apa pekerjaan kalian nanti."
"Baik terima kasih tuan James." Ucap mereka semua serempak, lalu meninggalkan ruangan direktur satu-persatu.
Kecuali satu orang tentunya,
"Tuan Dave, saya tidak menyangka jika anda menerima saya di perusahaan ini." Bianca tersenyum senang bahkan gadis itu tersipu malu saat Dave terus menatap kearahnya.
Dave mendengus sedangkan James di sampingnya terus mengeluarkan keringat karena ketakutan oleh tatapan dari Bos-nya.
"A-ah! Nona Bianca, sebenarnya tuan Dave tidak tahu-menahu tentang program magang ini," jelas pria berkacamata itu.
"Tidak apa-apa, yang penting aku sudah ada di sini kan?" Perkataan Bianca semakin memperkuat dugaan jika keberadaan wanita itu sangat tidak baik untuk kehidupan kantornya.
"Kalau begitu saya permisi."
Tidak ada suara siapapun setelah kepergian Bianca, bagaimana dengan James? Pria itu jangankan berbicara bergerak saja dia tidak bisa. Melihat bagaimana Davendra sama sekali tidak membuka mulutnya membuat tubuhnya serasa di banjiri oleh keringat dingin.
"I-itu,"
Dave menyandarkan tubuhnya ke kursi kerjanya tangan sebelah kanan dia gunakan sebagai penyangga kepala.
"Kau tau siapa gadis itu kan?"
Suara Davendra yang begitu dingin membuat James merinding seketika, "seperti perkataan anda, anak-anak itu di pilih langsung oleh HRD," jelasnya pada Dave.
Dahi pria itu mengerut, "kapan aku menyarankan hal itu?"
"Sehari setelah pernikahan anda Tuan," jawab James.
Suami Viona itu terdiam dia berusaha mengingat kembali percakapannya hari itu dengan James.
Nihil Dave tidak ingat apapun mengenai pembicaraan mereka hari itu!
Dave berdehem memecah kecanggungan yang terjadi.
"Lupakan saja, cukup rahasiakan tentang Bianca dari istriku." Istrinya itu mungkin tidak akan mengatakan apa-apa saat tau Bianca bekerja di sini bersamanya, tapi mengingat hubungan Viona dan Bianca yang tidak baik sejak dulu Ia hanya ingin menghindari masalah yang mungkin saja terjadi karena keberadaan adik iparnya itu.
James mengangguk, toh tidak ada untungnya juga membicarakan hal ini dengan istri tuannya.
.
Di tempat lain anak-anak yang mengikuti program magang sebelumnya di pandu langsung oleh HRD bernama Risa mengeliling gedung perusahaan, sekaligus mengenalkan kepada anak-anak baru tersebut mengenai pekerjaan yang nantinya mereka pegang.
"Risa, bolehkah aku bertanya sesuatu?" Wanita usia tiga puluhan itu memang menyuruh yang lain memanggil namanya langsung tanpa embel-embel.
"Tanyakan saja."
Saat ini mereka ada di divisi operasional, bisa di lihat jika para karyawan sangat sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
"Bagaimana caranya bisa bekerja di bawah pimpinan Direktur langsung?" Pertanyaan tidak terduga dari Bianca membuat HRD dan yang lainnya menatap gadis itu heran.
"Hey Bianca, kenapa kau berfikir sejauh itu?" Salah satu anak magang berjenis kelamin sama dengan Bianca itu menyenggol lengan teman sebayanya.
Bagi anak magang seperti mereka ini bisa di terima sebagai karyawan sementara saja sudah syukur, tapi sepertinya Bianca tidak berpikir hal yang sama seperti yang lainnya.
"Aku hanya ingin tau," jawabnya santai
Risa mengangguk kemudian mereka melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda karena pertanyaan Bianca tadi.
"Bisa saja, tapi untuk sampai ke sana kalian perlu skill kan? Sebenarnya posisi sekretaris kedua kosong, jika beruntung salah satu dari kalian bisa diangkat menjadi karyawan tetap jika kemampuan kalian memang cukup untuk berdiri di posisi itu." Jelas wanita itu panjang lebar.
Bianca tersenyum senang kesempatan untuk bisa lebih dekat dengan Davendra akan jauh lebih muda jika bisa masuk ke posisi itu.
"Siapa sekretaris pertama?" Tanya rekan Bianca.
"Tuan James."
"Baiklah kalian bisa kembali ke ruangan masing-masing sekarang."
Bianca dan teman perempuannya berada di Divisi Keuangan, sedangkan ke-tiga teman pria yang lain berada di divisi operasional dan juga Pemasaran.
"Kau tidak tertarik dengan Direktur kan?" Mila gadis yang menjadi rekan seperjuangan Bianca itu mengeluarkan keresahannya.
Bianca tidak menjawab adik tiri Viona itu hanya tersenyum miring sebagai jawaban.
"Dia sudah punya istri." Ucap Mila kembali.
Siapa peduli? Jika pria beristri tertarik dengan wanita lain itu tandanya wanita yang menjadi istrinya tidak menarik kan? Lalu siapa yang salah?
Tentu saja istrinya!
Jangan salahkan Dirinya jika suami Kakaknya itu akan tertarik padanya nanti.
Kita lihat saja.
TBC....
Vote nya jangan lupa teman-teman...