
Sejak dirinya kecil lalu tiba-tiba di beri kabar jika ayahnya akan menikah lagi setelah kepergian sang ibu yang ia cintai, Viona tidak pernah mengeluh keberatan pada ayahnya. Dia bahkan menerima dengan lapang dada posisi ibunya di gantikan oleh wanita lain, ia juga rela kasih sayang ayahnya di berikan untuk anak dari wanita yang beliau bawa.
Kematian sang ibu sudah cukup memberikannya kesadaran jika sang ayah tidak lagi menjadi miliknya.
Posisinya sebagai anak tunggal berubah setelah kedatangan Naura dan Bianca, kedua gadis itu menjadi kebanggaan tersendiri untuk hidup seorang Adam Robinson. Viona yang hanyalah gadis tidak berguna bagi pria itu di abaikan begitu saja olehnya.
Viona harus hidup dalam tekanan untuk menjadi seperti kedua saudarinya, menjadi anak tengah dari kakak dan adik tirinya membuat hidupnya mendapat banyak tekanan.
Salah satu tekanan dalam hidup Viona adalah Bianca, selama ini mereka hidup berdampingan hanya beberapa kali mereka terlibat percakapan yang normal selebihnya hanyalah basa-basi untuk keduanya.
Bianca menjadi salah satu anak kesayangan ayahnya, gadis itu anak bungsu yang harus mendapat kasih sayang lebih dari kedua orangtuanya.
Viona di ajarkan untuk selalu mengalah dari gadis itu, entah dalam hal apapun Viona harus mengalah dari Bianca si adik bungsu.
Gadis itu tidak banyak berbicara dengannya, tapi sekali dia bicara maka masalah selalu datang untuk Viona.
Dan sekarang sepertinya masalah akan datang lagi karena si bungsu terlihat tertarik dengan pria yang baru menjadi suaminya beberapa saat lalu.
"Kita bertemu lagi tuan Davendra?"
Viona mengeratkan genggamannya pada piring yang menjadi wadah makanannya, Bianca datang tidak untuk bertemu dengannya tapi sang suami.
Dave mengerutkan keningnya kemudian dia melirik pada Viona yang berada di sampingnya.
"Dia teman mu?" Tanya Dave pada Viona.
Tidak tau harus menjawab apa, Viona bisa melihat ekspresi keruh di wajah Bianca saat Dave melupakan gadis itu.
"Saya Bianca, kita bertemu saat anda datang berkunjung ke rumah hari itu," Bianca tetap mempertahankan senyuman di wajahnya walau dia tau jika Dave telah melupakannya.
Kini giliran Viona yang meradang karena ucapan Bianca.
Berkunjung? Kapan?
Dave menggeleng ke arah sang istri, "aku tidak ingat, memangnya untuk apa aku berkunjung ke tempat mu?"
Ini hari pernikahannya dia tidak mau jika sang istri marah di saat mereka seharusnya saling bermesraan. Lagipula siapa gadis ini sih? Bisa-bisanya dia datang menyapa seolah mereka saling kenal.
Bianca terdiam, melihat tatapan Dave yang menghunus tajam dia tidak berani berkata apa-apa lagi.
"Tuan, tamu penting anda ingin bertemu." Puji syukur untuk kedatangan James yang tepat waktu.
Dave mengangguk kemudian dia menarik lengan sang istri untuk bertemu dengan rekan bisnisnya, meninggalkan James dengan Bianca di sana.
James menghela nafas, namun senyum bisnis nya terbit saat melihat seorang wanita yang juga di tinggalkan oleh pengantin baru itu.
"Halo nona?"
Bianca berdecih, gadis itu pergi dari sana tanpa berpamitan dengan James. Moodnya rusak karena pria pujaan hatinya melupakan dirinya begitu saja.
'Liat saja nanti!' ucap Bianca dalam hati.
"Eh?"
Pria berkacamata itu kembali menghela nafas, kenapa sepertinya orang-orang suka sekali mengabaikan dirinya?
.
.
Bukan pergi untuk menemui Tamu penting yang James katakan tadi, tapi Davendra membawa sang istri menuju kamar yang berada di kamar tamu tidak terpakai di kediaman Darmawangsa.
"Kenapa kita ke sini?" Viona menelisik sekelilingnya dengan perasaan horor sekaligus kagum, kamar ini gelap karena tidak di nyalakan lampu di tambah lagi beberapa perabotan di tutupi kain putih untuk melindungi dari debu. Jika di lihat-lihat kamar ini sangat rapi tapi terkesan horor karena beberapa alasan yang ia sebutkan tadi.
Dave melangkahkan kakinya menuju ranjang, di bukanya kain putih penutup yang menutupi kasur kemudian dia duduk di sana dengan tenang.
Viona mengikuti Dave tapi gadis itu hanya berdiri saja tanpa berniat duduk di samping suaminya.
"Duduk di sini," pinta Dave menepuk kasur di sampingnya mengisyaratkan agar gadis itu duduk.
Viona menggeleng dia masih takut berada di ruangan ini.
"Kenapa? Kau masih ingin menyapa tamu-tamu?" Dirinya sudah lelah, tidak ada tenaga lagi untuk menyapa para tamu. Tapi jika Viona ingin maka terserah gadis itu saja.
"Kamar siapa ini?"
"Kamar ku."
Hm? Posisi Dave yang tengah duduk di ranjang membuat Viona harus menunduk agar bisa menatap suaminya.
"Kamar anda?"
Dave mengangguk
"Tapi kenapa seperti kamar tidak terpakai?" Heran Viona dengan jawaban Dave.
"Kamar saat usiaku 12 tahun," jawabnya lebih jelas.
Pantas saja, kamar ini terlihat sempit untuk kamar tidur yang di gunakan seorang Davendra.
"Kamar ini akan Arka gunakan saat putra kita sudah besar nanti."
"Tapi ini terlalu besar untuk ukuran anak 12 tahun." Viona memalingkan wajahnya ke samping enggan bertatapan dengan Dave.
Pria itu tersenyum tipis, Dave kemudian memeluk tubuh Viona dengan kedua tangannya.
"Apa yang anda lakukan!" Viona menepuk pelan pundak suaminya, meminta agar pria itu melepaskannya.
Posis Viona yang lebih tinggi mengharuskan Dave mendongakkan kepalanya untuk menatap gadis itu.
"Aku tidak mengatakan Arka akan tidur sendiri kan?" Viona membalas tatapan Davendra dengan alis mengerut.
"Lalu dengan siapa?" Apakah Dave ingin dirinya tidur bersama Arka? Jika seperti itu dia tidak masalah sama sekali.
"Adik."
"Hm?"
Lilitan lengan panjang Dave semakin menguat di pinggang Viona.
"Kita buatkan adik untuk menemaninya di kamar ini."
Wajah Viona memanas, rona merah menjalar dari telinga sampai ke lehernya. Memang boleh membicarakan hal seperti ini padahal mereka tidak sedekat itu sebelumnya?
"Kenapa?" Dave mencoba menahan senyum nya melihat sang istri tersipu malu seperti ini.
"T-tidak."
"Kau tidak berfikir pernikahan ini akan berjalan tanpa membuat anak kan?"
Blush!
Viona menutupi seluruh wajahnya dengan kedua tangannya, dia merasa begitu malu karena perkataan Dave yang terlalu vulgar untuk dirinya.
"Apa kenapa? Jangan-jangan memang kau berfikir seperti itu?"
Rona merah bukan hanya menjalar di leher saja, bahkan kini telapak tangan Viona ikut memerah karena rasa malu yang begitu membludak.
"Jangan tutupi wajahmu," Dave mencoba menarik tangan Viona yang mencoba menutupi wajahnya dengan tangan yang satunya.
"Aku malu," bisik Viona lirih
"Kenapa malu? Kita ini suami istri jadi sudah wajar berbicara seperti itu kan?"
Oh Astaga! Kemana perginya Davendra yang sedingin samudra itu? Kenapa pria di hadapannya ini sangat cerewet?
"Buka Viona! Atau aku akan mencium habis bib- hmp!"
"Diam!" Viona menutup mulut Davendra dengan telapak tangan yang ia gunakan untuk menutupi wajahnya tadi.
Sekarang Davendra bisa melihat wajah merah merona istrinya dengan sangat jelas walaupun Mereka berada di kegelapan.
Viona bisa merasakan bibir Davendra melengkung sempurna di sana.
"Dasar nakal,"
Sret! Viona terkejut saat tubuhnya di tarik secara tiba-tiba ke atas ranjang.
"Bagaimana jika kita melakukan prosesnya lebih cepat?"
Posisi Dave menindih tubuh Viona di bawahnya, kedua tangan pria itu mengungkung di kanan-kiri tubuh sang istri.
"Proses apa?" Tanya gadis itu tidak mengerti.
Dave tersenyum miring, dia mendekatkan bibirnya ke telinga Viona kemudian berbisik lirih di sana.
"Malam pertama," bisiknya pelan namun sanggup membuat kerja jantung Viona memompa begitu kuat.
"Lepaskan! Dasar mesum! Kenapa anda banyak bicara hari ini!" Viona mendorong-dorong tubuh Dave agar menyingkir dari tubuhnya, tapi pria itu hanya tertawa sebagai respon.
"Aku memang seperti ini Honey."
"Aaaa! Tolong ibu!"
"Hey jangan berteriak seperti itu, bagaimana jika ada yang datang dan menyaksikan kegiatan panas kita?"
Viona hampir menangis menghadapi tingkah mesum Davendra saat ini untung saja sebelum pria itu melakukan hal lebih jauh seseorang datang menolongnya.
Tarikan kuat di telinganya membuat Dave mau tak mau beranjak dari posisinya mengurung Viona.
"Dasar anak nakal! Tidak tau tempat!"
"Ahh! Ibu lepaskan! Ini sakit!"
Winata datang menyelamatkan menantunya dari genggaman putra nakalnya.
TBC....
jangan lupa like nya guys