Not My Baby

Not My Baby
13. Kau menyakiti putraku



Viona tersenyum lega mendengar penjelas dokter jika demam Arka akhirnya mereda, putranya itu hanya perlu beberapa kali pemeriksaan sampai akhirnya baru boleh pulang ke rumah. tidak apa biaya yang di harus ia keluarkan begitu mahal asal putranya baik-baik saja semuanya terbayar lunas.


"Arka sudah sehat?" Viona mengajak bayinya yang baru berusia lima bulan berbicara, walaupun demamnya sudah reda tubuh Arka masih terasa hangat.


Seakan tau ibunya begitu khawatir Arka menggenggam jari jemari Viona dengan tangannya yang mungil.


"Besok kita pulang nak," ucapnya tersenyum lega. seakan ikut senang dengan kabar yang ibunya bawa Arka bergumam kata-kata tidak jelas sambil tersenyum.


Di samping itu James baru saja kembali dari bagian administrasi untuk mengurus pembayaran biaya rumah sakit putra Tuan Besarnya, namun ternyata dia terlambat semua biaya sudah Viona bayar terlebih dahulu.


"Dari mana wanita itu dapat uangnya?" dari seberang sana Dave bertanya-tanya


"Sebelum meninggal Nona Aruna menitipkan uang sebesar Lima puluh juta untuk tuan muda Arka Tuan."


Dave mengerti ternyata ibu dari putranya memiliki tanggung jawab yang begitu besar bahkan setelah kematiannya, dulu rasanya ia pernah membayar Aruna dengan nominal seperti yang James sebutkan tadi, siapa yang menyangka uangnya wanita itu gunakan untuk keperluan bayinya setelah lahir.


Jumlah yang dia berikan pada Aruna bahkan lebih sedikit daripada wanita lainnya. Tapi wanita itu malah menyimpannya.


"Aku mengerti, kembalilah urusan Putraku kita pikirkan nanti." Saat ini bukan hanya urusan putranya yang penting, banyak pekerjaan yang menunggu di luar sana yang harus selesai mereka kerjakan agar bisa bebas bertemu dengan Arka nantinya.


"Arka ya ... nama yang sangat indah."


.


.


Seminggu kemudian Arka benar-benar di nyatakan sembuh bayi laki-laki itu sudah kembali sehat seperti sedia kala, walaupun Viona sedikit menyayangkan berat badan Arka yang banyak berkurang akibat sakit kemarin.


Masih beberapa jam untuk berangkat kerja karena itulah Viona memutuskan untuk pergi ke warung untuk membeli sayuran dan juga beberapa buah-buahan. Tapi sepertinya keputusannya itu salah terbukti dengan banyaknya pasang mata yang menatapnya sinis saat dia tiba di warung.


"Kau terlihat lelah, Viona."


Viona hanya tersenyum enggan menanggapi.


"Beginilah jika hidup tanpa seorang suami, apalagi ada bayi yang harus kita rawat." Wanita paruh baya dengan daster full flower nya  ikut menyudutkan Viona.


"Bibi benar, tapi untuk apa punya suami jika sehari-harinya juga tetap mengeluh tanpa henti?" Jawaban Viona sukses membuat para tetangga geram, terutama ibu berdaster bunga tadi wanita itu merasa tersindir dengan kalimat Viona.


"Dasar tidak sopan! Wanita malam sepertimu tidak pantas berbicara seperti itu pada ku!" Sahutnya tidak terima dengan perkataan Viona.


Viona maju mendekat pada wanita tua yang sejak tadi mencari gara-gara dengannya, "Lalu harus wanita seperti apa! Kau ingin aku memuja mu begitu? jika aku wanita malam memangnya kenapa? toh uangku pasti lebih banyak daripada uang saku milikmu!" Kesabarannya sudah habis, wanita di depannya ini membuat emosinya melambung tinggi.


"Kau!"


"Sudah-sudah! jangan bertengkar di tempat ku!" pemilik warung menengahi pertengkaran wanita berbeda generasi itu.


Merasa sudah tidak ada mood berbelanja Viona memutuskan angkat kaki dari sana, menyesal rasanya memilih belanja di sana dari pada pergi ke supermarket yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kosnya.


Sampai di depan kost nya Viona melihat mobil mewah yang berhenti di depan rumahnya, terlihat tidak asing tapi dia lupa pernah melihat mobil itu dimana.


"Siapa itu Viona?" belum sampai di kosan nya seorang wanita dengan bayi di gendongan berjalan mendekati nya.


"Mana ku tau bibi, aku saja baru sampai." Jawaban yang Viona berikan membuat wanita itu mendengus jengkel.


"Dasar!" kemudian wanita itu pergi dan memilih bergabung dengan rekan-rekan sejenis nya.


Viona memutar bola matanya malas, kedatangan mobil mewah itu membuat nya seperti artis dadakan karena banyaknya orang berkerumun.


Di dekatinya mobil mewah tersebut kemudian mengetuk kacanya pelan.


"T-tuan?" Pantas saja tidak asing, ternyata mobil mewah ini milik Davendra.


Pria itu turun dari dalam mobil dengan gaya angkuhnya sontak saja membuat berbagai pandangan mata semakin penasaran dengan pria tampan yang tiba-tiba saja datang mengunjungi Viona.


Dave melirik sinis ketika Viona menelisik mobil nya seperti mencari seseorang.


"Tidak ada James." ujarnya seakan tau jika yang Viona cari adalah asisten pribadinya itu.


"Kau tidak berniat menyuruhku masuk?" gerah rasanya berdiri di tempat sempit seperti ini, apalagi banyak orang yang memperhatikan mereka.


"O-oh maafkan saya, silahkan masuk Tuan." Viona membuka pintu kos nya dan membiarkan Davendra masuk begitu saja.


Sebelum menjamu Dave, Viona terlebih dahulu meminta ijin pada pemilik kos agar mengijinkan dirinya membawa Dave ke dalam kosannya.


"Tidak apa-apa nak, bibi percaya padamu."


"Terimakasih banyak bibi."


Selagi menunggu Viona, Davendra berkeliling memperhatikan kondisi ruangan yang menurut nya sangat kecil yang menjadi tempat putra nya tinggal. Membiarkan anaknya tumbuh di tempat seperti ini membuatnya merasa tidak tega.


"Bersih walau tidak besar."


Dave melangkah menuju kasur lipat yang berada di sana, masih di ruangan yang sama hanya saja terpisah oleh sekat dinding.


Di sana putra nya tertidur dengan pulas tanpa merasa terganggu sedikitpun.


"Maaf saya lama Tuan."


Dave menoleh melihat kedatangan Viona.


"Kau tinggal berdua di dengan bayi di tempat seperti ini?" Viona mengernyitkan dahinya bingung, memangnya apa yang salah dengan tempat tinggalnya.


"Maksud anda?"


Dave tidak menjawab pria itu malah melangkahkan kakinya menuju kasur busa tempat Arka di baringkan.


Wanita itu panik melihat Davendra yang berniat mendekati bayinya, dengan sigap dia lebih dahulu berlari menuju Arka dan menggendong bayi tampan itu menjauhkan nya dari Davendra.


Bahkan aksinya itu sampai membuat tubuh besar Dave hampir saja limbung karena di tabrak dari arah belakang.


"Apa yang kau lakukan!" Pria itu menggeram rendah, berani-beraninya Viona menjauhkan anak nya.


Viona memeluk tubuh kecil Arka dalam-dalam, tidak peduli dengan rengekannya karena Arka merasa sempit.


"Seharusnya saya yang bertanya?" Viona menatap tajam Davendra, biarkan saja dia di pecat asalkan Arka aman bersamanya dia tidak masalah. Tiba-tiba saja Davendra datang ke kost nya pagi ini tanpa pemberitahuan apapun, untuk apa? Mereka tidak sedekat itu untuk saling mengunjungi rumah masing-masing.


"Kau seharusnya lebih tau apa yang membawa ku kemari, Viona." Suara rendah Dave mengalun lirih namun penuh penekanan.


Viona semakin mengeratkan pelukannya pada Arka, berjaga-jaga jika pria ini memiliki niat buruk di rumah nya.


"Lepaskan bayi itu Viona! Kau menyakitinya!"


Dave maju satu langkah mendekati karyawan restoran nya, namun lagi-lagi wanita itu mengambil jarak semakin jauh dari jangkauannya.


"T-tuan anda harus pergi sekarang juga." Tidak ada siapapun yang bisa ia mintai tolong, dia jadi menyesal sudah mengijinkan Dave masuk ke dalam kamar kostnya.


Rengekan Arka kembali terdengar bayi laki-laki itu menggeliatkan tubuhnya tidak nyaman di pelukan Viona.


"Ssst ... Sayang tunggu sebentar ya?"


"Berikan Arka padaku Viona." Kedua tangan Dave terangkat meminta Viona memberikan bayi itu padanya.


Viona menggeleng tubuhnya bergerak mundur sembari mengeratkan pelukannya.


"T-tidak boleh!"


"Berikan Arka padaku!" Teriakan Dave menggema di ruangan itu, bukan hanya Viona yang terkejut tapi Arka juga. Bahkan mungkin orang-orang di luar sana turut mendengar teriakkan itu.


Dave semakin geram melihat cara menggendong Viona pada bayinya, bahkan rengekan tangis Arka tidak di dengarkan oleh wanita itu.


"Berikan Arka padaku, kau menyakiti putraku Viona."


TBC .....