
Sinar matahari yang masuk membuat Viona yang tengah tertidur pulas terbangun karena silau. Tubuhnya menggeliat menghilangkan rasa pegal karena tidur dengan posisi duduk sejak semalaman.
"Uh...
Untuk pertama kalinya dia terbangun di kamar Arka seperti ini, biasanya jika tidak bisa tidur dia hanya akan menengok sejenak putranya dan akan kembali ke kamar miliknya sendiri.
Saat dia menengok ke arah box tempat Arka tidur tidak terlihat batang hidung bayi itu di sana.
"Arka?"
Sekarang masih jam lima pagi ke mana Rose membawa Arka pergi? Viona berlari keluar dari kamar mencari keberadaan putranya di tempat yang lain, saat keluar pas sekali dia berpapasan dengan Rose yang baru saja naik ke lantai atas.
"Vee? Ada apa?" Gadis itu mengerut bingung melihat wajah gelisah Viona pagi ini.
"Apa Arka bersama mu?" Tanyanya dengan wajah bingung, "Aku terbangun tapi Arka tidak ada di box bayinya, ke mana putraku pergi?" Viona tidak bisa berhenti gelisah, bahkan tubuhnya berkeringat karena terlalu panik mencari keberadaan Arka.
"Hei-hei! tenanglah, Arka aman oke?" Rose menepuk lembut punggung Viona, melihat kepanikan wanita itu membuatnya tidak tega.
"Kau tau Arka di mana?" Binar penuh harap terlihat jelas di matanya.
"Tuan membawanya berjemur di luar." Jelas Rose dengan tenang.
Viona terduduk lemas di anakan tangga rasa cemasnya hilang seketika, siapa yang tidak panik melihat bayi yang semula tertidur pulas di bawah penjagaannya saat pagi tiba-tiba saja menghilang? Lagi pula tumben sekali si sibuk Davendra berada di rumah sepagi ini?
"Tuan ada di rumah?"
"Ini hari libur tentu saja beliau ada di rumah."
Libur? Viona menepuk dahinya bagaimana bisa dia lupa jika hari ini hari libur?
"Tuan menyuruhku membangunkan mu tadi, karena itu aku kemari." Rose membantu Viona bangun dari posisi duduknya, kemudian keduanya pergi ke dapur bersama-sama untuk membantu Gee di dapur.
.
Bayi laki-laki yang membuat Viona panik sampai hampir jantungan sedang tertawa bersama sang ayah di luar rumah keduanya berjalan-jalan memutari sekeliling rumah.
"Jagoan papa lelah?" Davendra duduk di bawah pohon rindang dengan Arka berada di pangkuannya. Bayi tampan itu tertawa membuka mulutnya yang belum ditumbuhi gigi satu pun.
Matahari belum terbit terlalu terik hawa masih terlalu dingin untuk ukuran bayi seperti Arka, hanya saja Dave tidak biasa berjalan di bawah matahari makanya dia mengajak bayinya keluar saat subuh seperti sekarang ini. Sudah cukup lama mereka berjalan bahkan matahari yang tadinya tidak tampak pun sudah mulai menyinari mereka berdua.
Arka duduk dengan tenang di pangkuan sang ayah, walau hanya beberapa kali bertemu tapi Arka sudah lumayan lengket dengan ayahnya.
Tanpa terasa mata yang semula segar itu kembali tertutup, posisi Davendra yang berada di bawah pohon diterpa sejuknya angin pagi hari membuat matanya terasa berat. Pria itu tertidur dengan Arka yang masih aktif di pangkuannya.
.
.
Berkali-kali sejak perkataan Rose yang menyatakan jika Dave membawa Arka jalan-jalan di luar rumah sejak pagi, Viona tidak berhenti menengok kearah pintu untuk memastikan apakah mereka sudah kembali atau belum.
Kenapa mereka lama sekali? batinnya tidak tenang. Hari sudah semakin siang matahari mulai terik terlalu lama berjemur di luar tidak baik untuk Arka yang masih kecil.
'Apa aku susul saja?' daripada diam menunggu tanpa ada kejelasan lebih baik dirinya menyusul saja keluar. Toh tidak ada yang melarang kan?
"Nyonya Gee, aku ingin menyusul Arka dulu."
"Lakukan nak, lagi pula tuan terlalu lama membawa si tampan keluar." Ujar wanita itu menyetujui niat Viona yang ingin menyusul Dave dan Arka.
Viona pergi keluar mencarai keberadaan putranya di daerah sekitaran taman kediaman Davendra, tapi sudah hampir sepuluh menit dia memutari taman sama sekali dirinya tidak menemukan keberadaan kedua pria berbeda generasi itu. Kemana mereka pergi?
"Ba ... ba ...
"Ba!"
Dari arah kanan di belakang sebuah pohon mangga yang begitu besar, suaranya terdengar dari arah sana! wanita itu berjalan cepat kearah sumber suara dan benar saja, di balik besarnya pohon itu ada Dave yang tengah memejamkan matanya sedangkan Arka? Bayi itu tergeletak di rumput dengan posisi tengkurap.
"Oh Ya Tuhan!" Diangkatnya Arka ke dalam pelukannya ia memeriksa apakah bayi tampan itu baik-baik saja berada di rumput kotor tanpa alas apapun.
Ternyata tidak, tubuh bayi itu mulai menimbulkan ruam berwarna merah di sekitar kaki dan juga pergelangan tangannya, tempat yang tidak tertutupi baju terkena rumput langsung sehingga menyebabkan ruam. Syukurnya dia cepat datang jika tidak ruam Arka bisa semakin banyak nantinya.
"Ayo kita mandi."
"Ba ... ba!"
Niat hati ingin meninggalkan Dave di sana sendiri ia urungkan saat Arka tiba-tiba merengek sambil menatap kearah ayahnya yang tertidur pulas.
Heran, bagaimana bisa Dave tidur di tempat seperti ini? bahkan pria itu tidak bangun meski celotehan Arka begitu berisik.
"Kamu masuk dengan mama, papa biarkan saja."
Papa mama? Viona tersenyum geli rasanya aneh saja menyebut papa dan mama berdekatan seperti itu.
Krek, suara patahan kayu menghentikan langkah Viona. Saat melihat keatas ternyata ada seekor tupai yang memanjat ranting rapuh tepat di atas kepala Dave.
Viona berlari bersama dengan Arka di gendongannya, karena kurang persiapan saking paniknya kaki kirinya tersandung akar pohon yang membuat dirinya jatuh bersama Arka kearah Davendra.
Brugh! Posisi Vionna terjatuh tepat di atas pangkuan Dave, untung saja dia bisa menahan bobot tubuhnya sehingga Arka tidak terjepit antara dirinya dan pria di bawahnya ini.
Pria yang semula tertidur itu terkejut saat tubuhnya tiba-tiba saja terasa sakit akibat menerima tubuh Viona secara dadakan.
"Agh!"
"Maafkan saya!" Posisi keduanya saling berhadapan Viona duduk di atas pangkuan Davendra sambil menahan tubuh Arka sedangkan pria itu masih sama seperti saat dia tidur.
Dave menatap lurus Viona, posisi wanita itu ada di atas pangkuanya sehingga dari jarak sedekat ini dia bisa melihat wajah cantik pengasuh putranya itu dengan jelas.
"Kau suka duduk di sini?"
Kedua mata Viona membelalak terkejut dengan ucapan yang keluar dari bibir Dave barusan, bahkan wajahnya memerah saat matanya bertatapan langsung dengan Dave.
"M-maaf!" Saking cepatnya Viona berpindah posisi dia sampai lupa jika ada Arka di pelukkannya, untung saja dengan sigap Dave menahan tubuh bayi tampan itu agar tidak terjatuh.
"Tadi ada ranting yang jatuh ke arah anda, karena itulah saya bermaksud untuk ... " Perkataannya terhenti saat Dave terus saja menatap kearahnya dengan mata tajam pria itu.
Sudah tidak di ragukan lagi darimana ketampanan Arka berasal, siapa lagi jika bukan dari ayahnya.
"Aku mengerti."
Tunggu! Dave tersenyum? Tidak salah lagi, setelah berucap tadi Viona bisa melihat bibir pria itu tertarik ke atas sangat tipis tapi masih terlihat di matanya.
"Ba ... ba ...
Viona tersadar dari lamunannya saat rambutnya di tarik oleh Arka.
"Lihat jagoan, mama mu terpesona dengan papa."
Blush....
Mama Papa?
TBC.....