
Sejak tadi Dave tidak jenuh melihat Viona yang mondar-mandir di hadapannya tanpa lelah, gadis itu begitu sibuk sampai tidak menghiraukan dirinya yang sejak tadi diam memperhatikan istrinya itu.
Mereka berada di kamar saat ini, bayangan bisa bermesraan dengan sang istri pupus saat melihat betapa sibuknya gadis itu.
"Honey? Kau sibuk sekali." Davendra menopang dagunya menggunakan tangan dengan bosan, sebagai seorang direktur dia merasa jika istrinya lebih sibuk dari dirinya.
"Ah maafkan aku, aku tidak bermaksud." Viona berdiri dengan canggung di hadapan Davendra, sebenarnya dia masih merasa gugup berduaan dengan suaminya seperti sekarang ini. Karena itulah dirinya berusaha menyibukkan dirinya.
Dave paham jika Viona masih canggung dengannya tapi jika hubungan mereka terus seperti ini itu tidak akan baik kedepannya.
Ayah dari Arka itu bangun dari duduknya dia berjalan menghampiri sang istri yang sedari tadi menundukkan kepalanya.
Di genggamnya kedua tangan kecil milik Viona dengan tangan besarnya, pria itu membawanya ke depan bibir untuk di cium.
Viona sempat menarik tangannya dari genggaman Dave saat pria itu memberikan kecupan kecupan kecil di jari-jemari miliknya.
"Kau takut dengan ku?" Davendra membuka suaranya, kali ini pria itu memfokuskan perhatian sepenuhnya pada sang istri.
Viona yang di tanya seperti itu tidak tau harus menjawab apa.
Takut? Tentu saja Viona merasa takut dengan pria ini, tapi dia juga merasa nyaman saat Dave memeluknya dengan erat. Dirinya merasa aman saat berada dekat dengan Davendra.
"Apa yang kau takutkan?"
Viona menatap Dave dengan tatapan sulit di artikan.
Sejak kecil dia tidak memiliki pengalaman baik dengan orang-orang kaya, mungkin itu sebabnya Viona masih merasa takut memiliki hubungan dengan orang seperti Davendra ini.
Ayah dan juga mantan tunangannya menjadi salah satu penyebab kenapa dirinya tidak menyukai dunia orang kaya, tapi takdir membuatnya kembali terjebak di lingkaran itu.
"Maaf, aku belum terbiasa." Hanya itulah yang mampu Viona katakan, dia tidak ingin menyinggung Dave lebih jauh lagi.
Davendra menarik istrinya ke dalam pelukannya, untung saja Viona tidak mendorong dirinya menjauh. gadis itu membalas pelukannya walau dengan tangan gemetar.
"Tenang saja, aku akan membuat mu terbiasa nanti."
Viona tersenyum sendu, Davendra yang dulunya angkuh sekarang menjadi pria yang sangat lembut.
"Terima kasih banyak." Viona semakin mengeratkan pelukannya pada Dave dan tentu saja di sambut baik oleh pria itu.
Sayangnya kemesraan mereka harus berakhir saat bunyi ketukan pintu yang tidak sabaran terdengar dari luar.
Kedua orang itu saling berpandangan siapa agaknya yang berani mengganggu kebersamaan pengantin baru seperti ini?
Dave dan Viona berjalan ke arah pintu dan membukanya dan ... Tada! Seharusnya mereka tidak terkejut dengan orang yang berada di baliknya.
Winata melipat kedua tangannya di depan dada, matanya memicing pada pasangan pengantin baru yang tidak kenal waktu di depannya.
"Ini bahkan masih terlalu pagi untuk bergumul di atas kasur." Perkataan Winata yang terlalu blak-blakan itu membuat wajah Viona memerah karena malu.
"Bukannya itu terlalu kasar di ucapkan untuk pengantin baru?" Dave mendengus, tidak James ataupun ibunya mereka sama-sama mengganggu kebersamaan dengan sang istri.
"Dasar anak nakal! Bagaimana bisa kau meninggalkan ibumu ini dengan orang-orang di bawah sana!" Winata gemas sekali ingin memukul kepala putra yang tidak tau diri itu.
"Siapa yang menyuruh ibu mengundang mereka?" Sudah tau keluarga besar mereka itu tidak ada yang benar, masih saja mau mengundang orang-orang haus kekuasaan itu.
Winata memijat keningnya yang terasa pening ketika berhadapan dengan putranya.
"Ibu baik-baik saja?" Viona menghampiri ibu mertuanya cemas.
"Sayang dia hanya bersandiwara."
Plak! Cukup sudah! Akhirnya telapak tangan Winata melayang di kepala putranya yang tampan itu.
Viona meringis mendengar bunyi pukulan dari ibu mertuanya, pasti rasanya sakit sekali.
"Menantu ayo kita turun, biarkan saja pria ini di sini."
Davendra mengusap bekas pukulan ibunya dengan mulut yang terus-menerus menggerutu. Viona sempat menoleh kebelakang untuk memastikan keadaan suaminya, gadis itu merasa lega ketika Dave memberi isyarat jika dia baik-baik saja.
.
.
"Tuan Adam kau beruntung memiliki putri-putri seperti mereka." Sebagai seorang ayah tentu saja Adam bangga dengan pencapaian yang putri-putrinya lakukan.
"Bibi salah, kak Viona juga beruntung hanya saja di belum berhasil mungkin," Bianca tertawa dengan kerabat-kerabat yang lain.
"Nak," Lalita menyenggol lengan putrinya saat suaminya melirik tajam padanya.
"Aku benarkan Bu? Jika kak Viona sepintar diriku mungkin dia tidak akan menjadi pelayan di restoran." Lalita semakin di Landa rasa cemas karena kata-kata Bianca yang terlalu blak-blakan itu.
"Kau benar nak, keberuntungan nya hanya karena bisa masuk ke dalam keluarga ini." Bela Mey melanjutkan hinaan Bianca untuk Viona.
Viona tersenyum pada ibu mertuanya saat wanita paruh baya itu berniat menanggapi ucapan orang-orang yang mengejeknya.
"Oh kakak ipar sudah datang?" Bibi Mey pura-pura terkejut dengan kedatangan Winata dan Viona.
"Karena terlalu asik mengolok-olok menantuku kau sampai tidak sadar aku di sini?" Winata duduk di sofa bersama dengan Viona. Tentu saja kedatangan keduanya membuat mereka tidak berani membuka suara lagi, kecuali Mey tentu saja.
"Aku beri nasehat nak, saat ada tamu tidak baik mengurung diri di kamar seperti itu," ucapnya sinis pada Viona.
"Maaf bibi, tapi aku harus mengurus suamiku dulu kan sebelum bergosip dengan kalian?" Jawab gadis itu sambil tersenyum tipis.
"Benar sekali nak, kita harus mendahulukan sesuatu yang penting dulu kan?"
Viona dan Winata tertawa kecil, sepertinya mereka cocok jika saling menyindir seperti ini.
Kedekatan antara keduanya tentu membuat mereka yang ada di sana panas dingin, terutama Mey dan Bianca yang tidak menyukai Viona.
"Kaka ipar kau terlalu memanjakan menantu mu ini."
"Memang kenapa?"
"Lihat saja karena terlalu di manja dia berperilaku tidak sopan pada orang tua."
Viona memasang wajah bersalah pada ibu mertuanya.
"Ibu maafkan aku karena tidak sopan," ujarnya sambil menunduk.
"Oh sayangku, bukan kesalahan mu nak. Mereka saja yang terlalu kolot."
Lagi-lagi keduanya tertawa begitu bahagianya, apalagi saat melihat ekspresi Mey yang suram karena ocehannya di abaikan.
"Ada apa ini? sepertinya seru sekali?" Davendra datang menghampiri Viona dan sang ibu setelah membersihkan diri tadi.
Pria itu memberi kecupan di pipi kedua wanita yang dari tadi sibuk tertawa.
Dave duduk di tengah-tengah antara ibu dan istrinya, tentu saja hal itu membuat Winata kembali melayangkan pukulannya ke kepala putranya. Untung saja pukulan nya tidak begitu keras seperti tadi.
Bianca tersenyum kecut melihat pemandangan di depannya, apalagi dia bisa melihat jika Davendra melingkarkan tangannya di pinggang Viona dengan mesra.
"Tuan Dave! Kita bertemu lagi."
"Kalian saling mengenal?" Semakin menarik saja jika ternyata Dave dan Bianca saling mengenal.
Bianca mengangguk,"aku juga sudah mengirim surat permohonan magang ke perusahaan tuan Dave." Gadis itu bercerita dengan begitu bangga.
"Wah hebat sekali nak, gadis seperti mu memang pantas bekerja di perusahaan besar seperti milik Davendra." Puji Mey sesekali melirik pada Viona dan kakak iparnya.
Mata berhiaskan eyeliner hitam pekat itu mendelik melihat Dave, Viona dan ibunya sibuk saling mengumpat satu sama lain dan mengabaikan keberadaan mereka.
"Dimana cucuku?" Winata baru tersadar ketika tidak melihat keberadaan cucunya di mana-mana.
"Bersama kakak ke dua." Jawab Mey kemudian menunjuk keberadaan mereka.
"Baiklah nikmat waktu kalian ya? aku ingin mencari cucuku dulu." wanita paruh baya itu pergi dari sana.
Alasan saja sebenarnya mencari cucunya, karena Winata tidak mau lagi berkumpul bersama ipar nya yang julid itu. Maka biarkan saja putra dan menantunya yang mengobrol bersama mereka.
"Ibu menjebak kita di sini?" Viona berbisik lirih pada Davendra.
Pria itu menatap istrinya kemudian mengangguk.
"Bagaimana jika kita kabur juga?" Bisiknya sama lirihnya.
TBC....