Not My Baby

Not My Baby
6. Pekerjaan



Bar Blues bukanlah tempat orang sembarangan bisa masuk ke dalamnya bahkan selama lima tahun Bar ini berdiri tidak pernah ada skandal kotor pun di dalamnya, seperti Narkoba atau tempat jual beli barang ilegal. Namun yang membuat semua orang tercengang untuk pertama kalinya saat berada di Bar itu adalah kedatangan se-gerombolan pria berjas datang untuk menyeret pemilik Bar Blues tanpa permisi.


"Ada yang bisa ku bantu?" Pemilik Bar berusaha bersikap tenang pada pria-pria besar yang datang ke tempatnya.


"Tuan Dave ingin bertemu dengan mu." Setelah itu ia di bawa tanpa perlawanan ataupun bantahan sekalipun.


Dan disinilah dia berada sekarang, dilantai paling atas gedung yang tingginya bahkan hampir menyentuh awan di langit. kedatangan Tiba-tiba  pria yang mengaku sebagai orang suruhan Davendra Darmawangsa datang ke Bar milik nya dan hampir saja membuat kekacauan di tempatnya, awalnya dia ingin menolak saat orang-orang berpakaian seperti FBI menyuruhnya untuk menemui pimpinan mereka, namun ternyata mereka semua adalah suruhan Davendra.


Karena itulah dia berdiri di sini sekarang menghadap sang pemimpin langsung.


"Di mana wanita bernama Ari?" Tanya Dave tanpa basa-basi, dia sudah cukup lama membuang waktu dengan basa-basi dan sekarang kesabarannya itu sudah habis.


"T-tuan s-siapa yang anda maksud?" Banyak wanita yang bekerja di barnya dan nama Ari terdengar asing di telinga nya.


Dave kemudian meminta asistennya menunjukkan data Ari pada pemilik Bar blues.


Saat pria itu membaca data dari wanita bernama Ari banyak hal yang sepertinya kosong, bahkan di keterangan berkas tidak ada nama panjang ataupun marganya.


Kemudian terdapat sebuah gambar buram yang ada di belakang berkasnya, seorang gadis berpakaian khas seperti seorang wanita malam.


"Eh? sepertinya aku pernah melihat wanita ini," gumam nya tidak begitu yakin.


Dave yang berada di depan pria itu tentu saja dapat mendengar gumaman tersebut, ada secercah harapan di dalam hatinya begitu melihat pria di depannya itu mengenal Ari.


"Jika tidak salah tahun lalu dia melamar sebagai waiters di Bar saya Tuan." jelas pria itu pada Dave, jika tidak salah ingat.


"Waiters?"


"Ya! dan itupun hanya seminggu setelah itu wanita tersebut tidak terlihat lagi."


Dave memijit pelipisnya mendengar penjelasan Pemilik Bar, jadi wanita itu bukan pekerja S*x ? lalu bagaimana bisa dia tidur dengan wanita itu?


"Oh ada lagi Tuan! tahun lalu ada seorang gadis yang juga mencari wanita di dalam foto ini sebelum anda."


"Gadis?"


.


.


Viona menepuk-nepuk pelan pelan bokong Arka bayi itu baru saja selesai meminum asinya dan sekarang sedang mengantuk. Rasanya senang sekali bisa merawat putranya tanpa gangguan apa-pun.


Uang 50 juta yang Aruna siapkan untuk kebutuhan Arka bisa berguna untuk beberapa bulan ke depan, setidaknya dia tidak perlu bekerja sebulan ini untuk merawat Arka sepenuhnya, Barulah saat itu dia akan mencari tempat kerja yang menggunakan shift, dengan begitu setengah hari bisa ia gunakan untuk merawat Putranya di rumah.


"Ssshhh, tidur sayang" sedikit susah menidurkan Arka karena bayi itu masih sangat muda dan seharusnya perlu dekapan Ibu kandungnya, tapi sayangnya takdir berkata lain.


Bayi berumur belum ada satu bulan itu tertidur pulas dalam dekapannya, walaupun tanpa ibu kandungnya yang bisa memberikan nya ASI. Arka masih bisa meminum ASI Yang dia beli dari rumah sakit.


Biasanya ASI tersebut berasal dari ibu yang kehilangan bayi nya saat melahirkan ataupun ibu-ibu yang kelebihan hormon dan bermaksud baik menyumbangkan susu nya untuk bayi yang kehilangan ibu nya saat lahir.


Sama seperti Arka.....


Setelah bayi berusia dua minggu itu tertidur pulas Viona meletakkannya di atas kasur lipatnya.


"Selamat malam sayang." Viona tersenyum kemudian memberikan kecupan di dahi putranya.


Merawat seorang bayi bukanlah hal yang mudah bagi setiap ibu muda yang baru pertama kali memiliki seorang bayi, sama seperti Viona yang harus belajar cara merawat Arka dari ibu panti, mulai dari cara memandikan, memakaikan pakaian nya, cara menidurkannya yang benar dan banyak lagi lainnya itu-pun dia tidak bisa melakukannya sekaligus, perlu bantuan dari Ibu panti untuk melakukan pekerjaan itu.


Apalagi dia adalah anak tunggal dari pernikahan ayah dan ibunya sebelum wanita yang ia cintai itu berpulang, tidak ada yang bisa menjelaskan tentang merawat bayi ataupun menjadi seorang ibu yang baik. jika kakak tirinya melanjutkan ke perguruan tinggi setelah lulus, maka dia berbeda ayahnya melarangnya pergi Kuliah setelah gagal mendapatkan Beasiswa seperti kakaknya pria tua itu bilang jika dirinya hanya bisa membuat keluarga mereka malu dengan berbagai macam kegagalan yang lainnya.


Terlalu lama bernyanyi untuk menidurkan Arka tenggorokannya terasa kering, Viona berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum. Tidak sengaja telinganya mendengar nama seseorang yang ia kenal di sebutkan di Tv.


Viona melangkahkan kakinya menuju ruang tamu.


Pantas saja dia mendengar nama Naura dan Joan di sebutkan, ternyata di televisi sekarang tengah menampilkan upacara pernikahan mereka berdua di sebuah gereja yang begitu mewah, Viona menggelengkan kepalanya tidak menyangka belum lama sejak kabar pembatalan pernikahannya dengan pria itu ternyata Joan menikahi Naura kakak tirinya.


Naura dan Joan terlihat sangat serasi, seharusnya dulu mereka berdua saja yang di jodohkan tidak perlu harus membawa-bawa dirinya. pantas saja pria itu sering menunda pernikahan dengannya ternyata yang di incar adalah Naura.


Viona menghela nafas panjang setidaknya dia terbebas dari belenggu perjodohan yang tidak ia inginkan itu. Mengambil remote di atas meja kemudian ia menekan tombol yang membuat Tv nya mati seketika.


.


Sebulan telah berlalu sekarang sudah waktunya Viona mencari pekerjaan untuk menyambung hidupnya dan putranya yang sekarang berumur hampir dua bulan. Arka Masih sangat kecil untuk ia tinggal tapi tidak ada jalan lain jika ingin terus hidup berkecukupan ia harus bekerja.


"Ibu aku titip Arka pada mu ya?" Ucapannya pada ibu panti yang selama ini turut berperan penting menjaga putra nya.


"Tenang saja nak, ibu akan merawat cucu ibu dengan baik," balas nya sangat ramah, dia sangat bersyukur melihat Viona sudah kembali seperti semula.


Viona tersenyum senang dengan begini dia bisa bekerja dengan tenang tanpa mengkhawatirkan keadaan putranya lagi.


"Kalau begitu aku pamit," Viona melangkah pergi dari kawasan panti.


Di belakangnya wanita paruh baya itu tersenyum sedih melihat kemalangan yang Viona dapatkan, setelah kehilangan saudaranya dia harus kehilangan calon suaminya bahkan kedua orang tuanya mengusirnya begitu saja dari rumah. Wanita baik seperti Viona pasti akan mendapatkan kebahagiaan yang sangat besar di masa depan nantinya.


"Semoga kamu selalu bahagia nak."


Di tempat lain Viona baru saja turun dari Bus di terminal dia melihat alamat yang di berikan oleh Ayu padanya, gadis itu dengan baik hati menyarankan tempat kerja yang masih satu cabang perusahaan dengan kantor nya yang dulu.


Viona mendongak menatap sebuah Restoran bintang lima yang berdiri menjulang di depannya.


Dreaming Restaurant


Tempat itu masih sangat sepi karena sepertinya belum waktunya untuk buka, dan ini adalah kesempatan baginya melamar di sana. berbekal dengan pengalaman seadanya dan juga ijazah yang ia punya ia berniat melamar di Restoran itu.


Pintu terbuka otomatis saat Viona menginjakkan kakinya di depan restoran tersebut, lagi-lagi kemewahannya membuat nya takjub.


"Maaf Nona? ada yang bisa saya bantu?" Seorang Waiters datang menyambut Viona saat gadis itu masuk ke dalam resto yang belum buka.


"Ah! saya ingin melamar kerja," ucap Viona tersenyum canggung, kemudian dia menyerahkan berkas lamaran nya pada Wanita itu.


Waiters tersebut tersenyum ramah sebelumnya sudah ada pemberitahuan jika ada seseorang yang akan menggantikan pelayan sebelumnya bekerja di sini.


"Anda Nona Viona?"


Viona mengangguk


"Silakan ikuti saya." Setelah mengambil berkas lamaran dari Viona Waiters tersebut mengantarnya menuju ruangan pimpinan.


Waiters tersebut membawa Viona menuju ruangan khusus tempat manajer Restoran berada, walaupun bekerja sebagai pelayan tentu saja mereka mencari pekerja yang cakap dan jujur dalam bekerja. Karena itulah Manajer langsung yang akan mewawancarai Viona.


Klek!


"Permisi Tuan, Nona Viona sudah datang."


"Persilakan dia masuk!"


Viona mengucapkan terima kasih pada waiters yang telah mengantarnya menemui manajer sebelum ia masuk ke dalam ruangan.


"Permisi." Salamnya sopan


"Silakan duduk Viona."


Gadis itu duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan sang manajer.


"Perkenalkan nama saya Antonio manajer di sini." Pria paruh baya itu mengulurkan tangannya di hadapan Viona.


"Saya Viona Calista, tuan." Ucapnya sembari menyambut ramah uluran tangan calon bos nya.


"Kalau begitu kita mulai saja ya?"


"Baik"


Antonio membuka lembar CV milik Viona, sebelum nya dia sudah tau jika gadis di depannya ini sudah pernah bekerja di perusahaan dari pemilik restoran, tapi yang mengherankan kenapa gadis di depan nya ini memilih mengundurkan diri?


"Sebelumnya pernah bekerja di pabrik pemintalan Darmawangsa Group? lalu kenapa memutuskan untuk keluar dari sana?"


TBC.....