Not My Baby

Not My Baby
39. Papa lama pulangnya



Viona merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan nyaman. Seharian ini di lelah bermain bersama Arka yang semakin hari semakin aktif, belum lagi dia juga harus membersihkan rumah dan juga memasak makan malam untuk suaminya.


Tengkurap adalah posisi yang sangat enak saat punggung terasa sakit seperti ini.


Kedua mata Viona terpejam namun samar-samar dia bisa merasakan pijitan di punggungnya.


"Dave?" Wanita itu ingin bangun dari tidurnya dan menyambut sang suami, tapi pria itu menyarankan agar Viona tetap berbaring saja seperti sekarang.


"Kau sangat lelah? Ingin ku buatkan teh jahe?"


Viona menggeleng wanita itu menikmati pijatan lembut dari tangan suaminya.


"Sudah kubilang kita seharusnya menyewa Art untuk membantu mu," Dave tidak suka melihat istrinya selalu kelelahan seperti sekarang ini.


Suami yang mana tega melihat istrinya selama seharian penuh mengerjakan pekerjaan rumah? belum lagi mengurus anak mereka yang mulai aktif berlari-lari.


Awalnya di rumah ini ada sekitar 2-3 pembantu yang mengurus rumah, tapi karena Viona bersikeras mengurus rumah seorang diri pelayan hanya akan datang seminggu tiga kali. Termasuk Ny.Gee dan yang lainnya.


Tidak ada pengurangan gaji, mereka tetap di gaji seperti sebelumnya hanya saja jam kerja mereka lebih singkat sekarang.


"Aku baik-baik saja, lagipula sudah ada Ny.Gee yang membantuku kan?"


"Bagaimana jika aku memanggil Gee lagi?" Usulnya


"Tidak perlu."


Dave tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menuruti kemauan istrinya, Viona menepuk kasur di sampingnya meminta agar suaminya itu berbaring di sebelahnya.


"Aku belum mandi," ucapnya


"Tidak mau?"


Siapa yang tidak mau? tentu saja dengan senang hati Davendra berbaring di sebelah istrinya, bahkan sangat dekat sampai Viona menggeser tubuhnya menjauh.


Keduanya saling bertatapan dengan jarak sangat dekat.


"Maaf karena tidak bisa menyambut seperti biasa," Viona mendaratkan telapak tangannya ke wajah Davendra. Memberikan usapan lembut di wajah tampan sang suami.


Pria itu memejamkan kedua matanya merasakan betapa lembut nya jari-jemari Viona yang menelusuri wajahnya.


"Aku lebih suka kau lebih dulu tidur daripada harus menunggu ku semalaman." Adakalanya biasanya Dave akan lembur di kantor sepanjang malam, dan saat dia pulang kerumah istrinya itu selalu menunggunya sampai tertidur di sofa ruang tengah.


Siapa yang tega melihat istrinya kelelahan seperti itu?


"Sekarang pergi mandi, setelah itu kita makan malam."


Dave mendelik, "Kau belum makan?" pria itu langsung menegakkan tubuhnya begitu tau istrinya melewatkan makan malam lagi.


Viona menggeleng, dia terlalu lelah untuk mengambil nasi di piring.


"Honey, sudah ku katakan untuk tidak melewatkan makan malam kan?"


"Maaf hari ini aku terlalu lelah," jawab Viona.


Dave menghela nafas sepertinya keputusan yang benar memanggil Gee kembali bekerja di rumahnya.


"Kalau begitu aku mandi dulu, jangan tidur sebelum makan malam." Dave memberi peringatan agar istrinya itu tidak tidur selagi dia mandi.


Wanita itu mengangguk mengerti, melihat hal itu Dave bernafas lega kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Beberapa menit setelah membersihkan diri Dave keluar dari kamar mandi dengan handuk menggantung di lehernya, pria itu hanya bisa menghela nafas panjang saat melihat Viona tertidur pulas dengan posisi tengkurap.


"Sudah kubilang jangan tidur dulu," gumam pria itu.


Karena posisi Viona yang sepertinya tidak nyaman itu Dave membalikkan posisi istrinya menjadi seperti biasa agar tidurnya tidak terganggu.


.


.


Viona terkejut saat dia menuju dapur aroma masakan sudah tercium begitu wangi, dan ternyata Gee ada di sana tengah berkutat dengan peralatan dapurnya.


"Gee? Kenapa pagi-pagi sudah ada di sini?" Viona berjalan menghampiri koki yang dulu sangat berjasa dalam hidupnya.


Wanita paruh baya itu tertawa, "siapa suruh kau kelelahan sampai membuat suami mu khawatir."


Viona menggeleng-gelengkan kepalanya, siapa yang menyangka jika Dave akan langsung menghubungi nyonya Gee keesokan harinya?


"Ada yang bisa aku bantu?" tanya Viona ketika melihat hampir seluruh masakan sudah di tangani oleh wanita paruh baya itu sendiri.


"Urus saja putra dan suamimu nak, dapur biar menjadi tanggung jawab ku."


Nyonya Gee memang di takdir kan untuk berada di dapur selama hidupnya, bahkan di saat umurnya yang tidak lagi muda ini dia masih senang berkutat dengan alat masaknya.


"Kalau begitu aku akan membangunkan suamiku," Viona tersenyum kemudian meninggalkan Gee di dapur.


Wanita paruh baya itu menatap sendu punggung Viona yang perlahan berjalan menjauh dari dapur, gadis yang dulunya datang sebagai seorang pengasuh untuk pewaris rumah ini sekarang menjadi nyonya. Sebagai orang tua yang juga ikut andil dalam kehidupan Viona dulu Gee tentu saja sangat bangga pada Viona.


Dia selalu berdoa agar perjalanan hidup Viona dan Juga Davendra selalu mulus tanpa adanya penghalang yang membuat hubungan mereka meregang.


Viona membuka pintu kamar perlahan dari luar, saat masuk ke dalam ternyata Dave masih tertidur pulas di ranjang.


"Dave, ayo bangun." Viona menggoyangkan tubuh berbalut selimut suaminya, tidak biasanya Dave bangun terlambat seperti ini. Suaminya itu pasti sangat kelelahan.


"Engh," Ayah Arka itu menggeliat sebelum akhirnya duduk bersandar untuk mengumpulkan nyawanya yang belum terkumpul sempurna.


"Ayo mandi, setelah itu sarapan."


Viona kemudian meninggalkan Dave menuju kamar Arka. Balita tampan itu sudah bangun tapi dia masih berguling-guling di box bayinya.


"Sayang sudah bangun?" Arka menjulurkan tangannya pada Viona saat wanita itu berada di sana. Viona mengangkat Arka ke dalam gendongannya kemudian membawanya menuju kamar mandi.


Beberapa menit kemudian setelah memandikan dan menggantikan pakaian Arka mereka keluar menuju dapur, ternyata di meja makan ada Dave yang lebih dulu tiba di sana.


"Kemari," Dave mengambil Arka dari gendongan Viona. Sebelum istrinya menjauh dia lebih dulu mendaratkan kecupan singkat di pipi wanitanya.


Viona duduk di samping Dave, sebenarnya dia ingin membantu Gee menyiapkan makanan tapi tidak jadi karena wanita paruh baya itu mendelik tajam saat dia mendekat.


"Anak papa tidur nyenyak tadi malam?"


Arka mengangguk, "papa lama pulang na." Balita itu merengut kesal karena tadi malam tidak bisa bermain dengan ayahnya.


"Papa kan kerja," Dave mencium seluruh wajah Arka gemas. Anak itu merengek tidak suka saat Arka ingin menangis barulah Dave menghentikan aksinya.


"Beberapa hari ini memang kau selalu pulang terlambat, apa semua baik-baik saja?" Viona juga cemas jika Dave selalu pulang terlambat seperti ini.


"Perusahaan sedang mengerjakan proyek cukup besar sekarang, untuk memastikan proyek kita berjalan lancar aku harus selalu memantau kinerja karyawan kita di kantor." Jelasnya pada Viona.


Davendra memang sedang menjalankan sebuah proyek pembangunan gedung pertokoan di daerah yang lumayan strategis, namun ada kendala yang menyebabkan proyek ini tertunda sementara.


Rencananya mereka ingin membangun gedung di tanah milik salah satu kolektor yang cukup terkenal, tapi rencana mereka harus tertunda karena tanah itu bukan hanya perusahaan mereka yang melirik melainkan ada rival bisnis juga yang menginginkan tanah itu.


Karena itu perlu negosiasi yang sempurna untuk memenangkan proyek itu.


"Jadi jangan menunggu ku ya? Aku tidak janji akan pulang tepat waktu."


TBC.....