Not My Baby

Not My Baby
29. HONEY



D-1 menuju hari pernikahan.


Sejak pagi-pagi sekali Winata mengajak calon menantunya untuk melakukan perawatan di salon, mulai dari perawatan ujung  rambut sampai ujung kepala yang begitu menguras tenaganya, belum lagi mereka juga membeli pakaian yang nantinya akan di gunakan Viona untuk bulan madu kata calon mertuanya.


Padahal Viona dan Dave belum merencanakan Bulan madu sama sekali tapi ibu mertuanya itu sepertinya sudah menyiapkan list apa yang akan Viona dan Dave setelah mereka menikah.


Bukan tanpa alasan Winata mengajak Viona keluar dari rumah sejak pagi, wanita paruh baya itu hanya tidak ingin menantunya nanti ikut sibuk membantu persiapan pernikahannya. Melihat Viona berapa hari ini begitu sibuk mondar-mandir membantu yang lain ia khawatir gadis itu akan kelelahan saat hari H pernikahan.


"Ibu kita akan pulang kan?" Saat ini mereka berhenti di sebuah stand untuk membeli minuman, Wina memberikan lemon tea pesanan Viona. Gadis itu terlihat menyelonjorkan kakinya yang terasa sakit akibat terlalu lama berjalan.


"Iya nak," jawabnya sembari meminum Es Coffee di tangannya.


Wajahnya langsung cerah mendengar jika mereka akan pulang. Jalan-jalan memang menyenangkan namun kegiatannya di dapur membantu Ny. Gee lebih menyenangkan lagi.


"Setelah kita mengambil cincin yang sudah kalian pesan kemarin."


Senyum di wajah Viona memudar, berarti mereka harus berjalan lagi untuk sampai ke toko perhiasan.


Melihat wajah menantunya berubah masam Winata hanya menggelengkan kepalanya, ternyata dia bisa juga menemui seorang wanita yang tidak menyukai belanja seperti Viona ini.


"Hanya sebentar sayang, setelah itu kita pulang," ujarnya meyakinkan sang menantu.


Dengan senyum lelah Viona mengikuti ibu dari Dave menuju toko perhiasan tempat Dave memesankan cincin kawin mereka. Pria itu tidak bisa mengambil langsung, karena hari ini kantor mengadakan rapat besar-besaran untuk segera menyelesaikan pekerjaan yang tersisa di kantor.


Pria itu tidak ingin di masa-masa pernikahannya nanti ia di ganggu oleh masalah pekerjaan saat menghabiskan waktu dengan istri dan putranya nanti.


Sepasang menantu dan mertua  itu sampai di tempat yang mereka tuju, kedatangan keduanya tentu di sambut antusias oleh pegawai toko di sana. Apalagi mereka semua tau siapa yang sekarang ini datang berkunjung ke toko mereka.


"Selamat datang nyonya!"


Wina tersenyum diikuti Viona yang juga membalas sapaan staf dengan ramah.


"Pesanannya?" Pemilik toko itu langsung mengambil pesanan yang sudah mereka siapkan sedemikian rupa, kemudian menyerahkannya pada Winata.


Cincin yang dipesan putra dan menantunya ternyata sangat sederhana, cincin emas putih yang di bagian luarnya di kelilingi garis emas kuning yang melingkar, di depan ada batu berlian kecil yang mempercantik desain cincin pernikahan tersebut. Sudah jelas siapa yang memilih cincin dengan modal sederhana itu, tentu saja Viona.


"Cantik sekali," pujinya ketika melihat cincin yang akan menjadi pengikat tali pernikahan putranya.


Viona yang sedari tadi ikut memperhatikan mengangguk setuju, walau sederhana cincin itu sama sekali tidak terlihat jelek dari yang lain. Apalagi jika yang memakai adalah pria tampan seperti Davendra, sudah pasti cincin itu akan menjadi best seller ke depannya.


"Kau pintar memilih cincin nak."


Viona tersenyum canggung, sebenarnya dia memilih cincin itu karena terlihat sederhana dan harganya pasti lebih murah dari yang lain.


"Terima kasih bu,"


Winata meletakkan kembali dua cincin itu ke dalam kotaknya, kemudian ia menyuruh staf untuk segera membungkus barangnya itu.


.


Mereka berdua sudah keluar dari area mall dan saat ini sedang menunggu jemputan yang akan membawa mereka pulang ke rumah, awalnya Viona mengira jika mereka menunggu sopir yang mengantar sebelumnya tapi ternyata perkiraannya itu salah saat melihat mobil yang familiar di ingatannya terparkir rapi di halaman Mall.


Bugatti Chiron milik Davendra.


"Ibu lupa bilang jika calon suamimu yang menjemput kita." Winata terkekeh geli, apalagi melihat ekspresi Viona yang terkejut ini.


Viona menoleh kembali ke arah depan, Dave keluar dari dalam mobil dengan kacamata hitam yang bertengger apik di atas hidungnya yang mancung itu.


Davendra mengambil alih tas belanja yang sebelumnya Viona bawa di kedua tangannya, sebelum gadis itu menolak pria itu lebih dulu berlalu membawa belanjaan calon istrinya menuju mobil.


"Jangan melamun, ayo cepat kita pulang. Ibu sudah rindu dengan Arka." Winata berjalan mendahului Viona, masuk ke dalam mobil putranya.


Karena mertuanya yang menempati kursi belakang maka dengan berat hati Viona harus duduk di kursi depan di samping Davendra.


"Sudah siap?"


"Ya."


Kendaraan roda empat itu melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota yang saat itu tidak terlalu ramai seperti biasanya.


Di perjalanan tidak ada yang berbicara sama sekali, padahal di belakang sana Winata berharap bisa menyaksikan interaksi antara putra dan menantunya.


"Bagaimana cincin nya?" Setelah sekian  lama hanya membisu akhirnya Dave berani membuka suara, tapi sayangnya pria itu tidak jelas siapa yang sebenarnya ia ajak bicara.


Karena ibu mertuanya tidak ingin menjawab maka harus Viona lah yang menjawab. Membayangkan Dave akan malu karena pertanyaannya tidak ada yang menimpali Viona jadi tidak tega.


"Bagus," jawab Viona dengan singkat. Gadis itu tidak tau ingin menjawab seperti apa, sesekali dia melirik Dave yang tengah menyetir di sebelahnya.


"A-anda ingin lihat?" Tawarnya pada akhirnya.


Tawaran yang Viona berikan sukses membuat Dave yang tadinya fokus menyetir sampai menolehkan kepalanya ke samping untuk melihat Viona. Siapa yang menyangka jika Viona akan menawarinya seperti ini?


"Boleh," jawab pria itu tersenyum begitu tipis. Sangat tipis sampai tidak terlihat dengan jelas apakah pria itu tersenyum atau tidak.


Interaksi yang begitu canggung namun terlihat natural, Wina menyaksikan momen itu dengan perasaan haru. Entah bagaimana nasib hubungan keduanya ke depannya dia hanya berharap hubungan itu akan terjalin sampai maut memisahkan mereka.


Viona menunjukkan cincinnya pada Dave dengan bahagia, terlihat dari bagaimana gadis itu tersenyum manis saat menunjukkan cincin pilihannya.


"Kau benar, ini sangat cantik."


"Benarkan? Aku tidak menyangka akan sebagus ini." Senyum Viona begitu lebar, untuk pertama kalinya gadis itu tersenyum dengan lebar seperti ini di hadapannya.


Dave tidak bisa mengalihkan pandangannya pada gadis di sebelahnya itu, untung saja dari belakang Winata berdehem untuk menyadarkan Dave jika saat ini mereka ada di jalan raya.


"Kalian akan menikah sebentar lagi, Viona kau harus menghentikan kebiasaan berbicara formal mu itu ya?" Winata memberi pesan begitu panjang pada menantunya itu.


Viona tersenyum kikuk, memang kadang-kadang dia masih belum terbiasa berbicara santai pada Davendra. Ada kalanya sang ibu mertua lah yang mengingatkannya.


"Iya bu,"


"Coba panggil suami mu, ibu ingin dengar." Winata melipat tangannya di dada menunggu dengan tidak sabar.


Astaga!


Viona melirik Dave sejenak, sebelum akhirnya memanggil nama pria itu.


"D-davendra." Panggilnya


Namun tidak dia sangka jika Dave membalas panggilannya yang membuat wajah Viona memerah seperti terbakar karena malu.


"Yes Honey?"


TBC....