
Pagi ini Restoran buka seperti biasanya, setelah pertemuan tidak terduga nya dengan keluarga besar nya hari itu dia belum pernah melihat keberadaan Davendra mengunjungi Restoran lagi. Dengar-dengar dari beberapa gosip mengatakan jika pria itu sedang tidak berada di kota ini.
Belum ada dua bulan bekerja di tempat ini Bos besarnya itu sudah hampir mengetahui seluruh isi kehidupannya yang menyedihkan, walaupun pria itu tidak pernah menyinggungnya tapi tetap saja rasanya ganjal ketika orang asing mengetahui masalah yang terjadi di kehidupan kita.
Puk!
"Hayo melamun apa?" Arin menepuk punggung Viona saat melihat gadis itu terus menyapu tempat yang sama beberapa menit, ternyata teman kerjanya itu tengah melamun.
Viona tersenyum kemudian menggeleng,"Tidak ada," jawabnya seadanya
Arin menyipitkan matanya penuh selidik namun kemudian gadis itu haya mengangkat bahu nya acuh
"Jangan melamun pagi-pagi," ucapnya sebelum pergi dari sana
Selama kurang lebih menghabiskan waktu selama sepuluh menit untuk menyiapkan Restoran sebelum di buka akhirnya tepat pukul sembilan pagi para tamu mulai berdatangan. berbeda dengan hari-hari sebelumnya hari ini Restoran terasa sangat ramai karena kedatangan artis ibu kota yang mampir di Restoran mereka.
Lagi-lagi karena suasana yang begitu ramai itu bagian kebersihan terpaksa kembali turun tangan untuk membantu pekerjaan Waiters.
"Pergi bersihkan meja bagian barat!"
"Baik!" Viona bergegas menuju tempat bagian barat yang di tunjukkan seniornya.
Kali ini suasana Restoran sangat terlihat ricuh banyak orang berbondong-bondong masuk ke dalam hanya untuk meminta tanda tangan Artis itu.
"Astaga berisik sekali." Rere berbisik pada Arin yang berdiri di sampingnya.
"Kau benar, rasanya kita seperti bekerja di Cafe biasa daripada Restoran bintang lima." Timpalnya menyetujui perkataan teman seprofesinya.
Lalu tangannya melambai pada Viona yang baru saja selesai membersihkan meja bagian utara.
"Sudah mulai sepi?" tanyanya ketika melihat satu-persatu orang-orang keluar dari Restoran.
"Hm! untung saja." Angguk mereka berdua
Viona menghela nafas lelah untuk pertama kali dalam hidupnya bekerja terasa melelahkan seperti sekarang ini.
.
.
"Sampai jumpa besok!"
Ibu dari Arka itu melambaikan tangannya membalas lambaian Rere dan Arin yang kini berjalan berlawan arah dengannya.
Malam semakin larut namun dia baru bisa pulang ke rumah setelah mengerjakan pekerjaan di dapur yang sangat menumpuk, untungnya besok dia kembali masuk seperti biasa. Hari ini dia terpaksa datang di luar Shift nya karena menggantikan beberapa orang yang ijin untuk beberapa alasan, dan ternyata ada untungnya dia datang membantu pagi ini. Jika tidak ada dia mungkin teman-temannya akan kesulitan mengurus urusan dapur yang begitu banyak.
Mobil mewah keluaran terbaru tidak sengaja melintasi Viona dengan kecepatan rendah, gadis itu tidak memperhatikan sekitar fokusnya hanya pada jalanan yang ia lewati malam ini.
"Berhenti."
Mengikuti perkataan Bosnya James menghentikan laju mobil yang ia kendarai, "Ada masalah Tuan?" Pria berkacamata itu memperhatikan Bosnya lewat kaca spion.
"Gadis tadi putri terbuang Adam kan?" Davendra menajamkan matanya dan benar saja gadis yang mereka lewati itu adalah Viona.
"Apa perlu saya memanggil nya?"
Dave menggeleng namun dia memberi perintah pada James untuk memutar mobilnya.
Viona sendiri mendesah lelah saat akhirnya dia sampai di depan Halte Bus, jadwal yang ia lihat bus terakhir akan lewat sebentar lagi dan dia sangat bersyukur dengan hal itu.
Baru saja bokongnya menyentuh kursi halte sebuah mobil mewah berhenti di depannya, awalnya dia tidak peduli tapi betapa terkejutnya saat kaca mobil di turunkan ternyata ada Bos besarnya di dalam sana.
Tanpa berlama-lama Viona langsung menghampiri mobil Bosnya, "Tuan? apa ada yang bisa saya bantu?" tanyanya dengan ramah, dia juga melirik James yang tengah melemparkan senyum padanya.
"Masuk."
"Maaf?" Takutnya dia salah dengar karena menyapa James dia tidak begitu mendengar suara Davendra.
"Nona, saya akan mengantar anda pulang terlebih dahulu." James membuka suaranya
Sontak mendengar hal tersebut Viona langsung menggelengkan kepalanya menolak kebaikan James dan Davendra yang berniat mengantarnya pulang. Bisa-bisa saat kembali nanti para tetangga langsung membuat rumor aneh tentangnya.
"Terima kasih banyak tapi sepertinya tidak perlu, bus yang saya tunggu sebentar lagi datang." Tolak Viona halus.
James tersenyum tipis pada Viona, membuat gadis itu bergidik melihat bawahan Bosnya yang begitu ramah senyum itu.
"Sepertinya itu bus terakhir nona." James tersenyum ganjil
"Apa yang..?
Viona membulatkan matanya ketika bus terakhir yang di tunggunya melintas melewati mereka begitu saja tanpa pemberitahuan.
"Tunggu! Paman Tunggu!" Gadis sembilan belas tahun itu baru saja akan mengejar busnya namun tidak jadi karena seseorang menarik tas selempang yang ia gunakan.
"Naik."
.
Viona menggenggam tas selempangnya begitu erat rasa gugup bercampur canggung begitu menyelimuti keadaannya di dalam mobil, bahkan untuk bergerak saja dia ragu takut jika pergerakannya mengganggu konsentrasi Bosnya yang duduk di kursi tengah.
"Aku dengar hari ini Restoran begitu ramai ya?" James yang mengetahui kegugupan Viona berusaha mengajak gadis itu berbicara dengannya.
Tidak menyangka James akan mengajaknya bicara Viona jadi bingung ingin menjawab apa.
"Benar." Jawabnya singkat
James tersenyum lembut jawaban singkat Viona sama sekali tidak menyinggung dirinya.
"Kau bekerja sejak pagi?" tanyanya kembali mengajak Viona berbicara.
Gadis itu mengangguk, kali ini lebih parah dari jawaban singkat sebelumnya Viona sekarang bahkan tidak menjawabnya.
"Jangan sungkan nona, kami bukan orang jahat kau tidak perlu bersikap tegang seperti ini." James kembali berucap, mendengar ucapan James, Viona langsung menolehkan kepalanya kepada pria yang tengah menyetir di sampingnya.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud."
"Tidak apa, lagi pula nanti kita akan lebih sering bertemu."
Tak!
Viona menolehkan kepalanya ke belakang menatap pada Dave yang baru saja menutup laptopnya dengan kasar, bagaimana bisa dia melupakan keberadaan pria angkuh itu?
Kepalanya memutar kembali menghadap jalanan di depan sana, namun sebelum itu dia sempat melirik James yang tengah menyetir di sampingnya. pria itu membalas tatapannya dengan senyum teduh seolah mengatakan 'tidak apa-apa'
Hembusan nafas Viona terdengar begitu tegang dalam hati gadis itu berdoa semoga ini kali terakhirnya menumpang di mobil seorang Davendra Darmawangsa.
James menanyakan alamat yang ingin Viona tuju dan setelah kurang lebih menghabiskan waktu selama lima belas menit namun terasa seperti lima belas jam akhirnya mereka sampai di depan Panti Asuhan Kasih Bunda tempat Aksa di titipkan dengan ibu panti.
"Terima-kasih banyak Tuan Davendra dan juga Tuan James." Viona menunduk penuh hormat pada mereka berdua yang telah mengantarkannya sampai rumah dengan selamat.
"Hm, sama-sama selamat beristirahat." Ucap James dengan senyum lebarnya
Berbeda dengan James, Dave malah menampilkan wajah datarnya seolah-olah mengantarkan Viona bukanlah keinginannya padahal jelas-jelas pria itu yang mengajaknya pulang bersama tadi.
Viona melambaikan tangannya begitu mobil mewah yang di tumpanginya melaju pelan meninggalkan pekarangan panti, setelah dirasa mobil itu tidak terlihat Viona langsung masuk ke dalam.
Di dalam perjalanan Dave memperhatikan tempat apa yang pelayan resto nya tuju, bagaimana bisa gadis yang sudah memiliki seorang bayi tinggal di sana? lagipula setahunya gadis itu tidak menuliskan alamat panti itu di CV miliknya.
"Aku pernah menyuruhmu mencari tau tentang wanita itu kan?" Dave mengingat perkataannya yang menyuruh James mencari tau tentang Viona.
"Ya Tuan, saya sudah mencarinya berkas itu ada di meja saya," jawab James, Dave mengangguk kemudian kembali mengalihkan pandangannya ke jalanan.
Ada yang aneh dengan wanita itu apalagi setelah dia mengetahui jika Viona ada hubungannya dengan Adam rekan bisnisnya dan juga Joan. pasti ada alasan kenapa wanita itu keluar dari rumah tanpa membawa apa pun dan bisa-bisanya seorang nona muda dari keluarga kaya bekerja sebagai seorang pelayan?
.
"Viona Calista putri tunggal dari Adam Robinson dan Nagita Calista, ibu kandungnya meninggal saat dia berusia 10 tahun, lalu ayahnya menikah kembali dengan wanita yang sekarang menjadi ibu tirinya bernama Lalita. wanita itu membawa dua orang putri dari pernikahan sebelumnya yaitu Naura dan Bianca." James menjelaskan secara rinci mengenai asal-usul Viona.
Dave mengetuk-ngetuk kan jarinya pada meja kerjanya menunggu informasi apa lagi yang akan James sampaikan.
"Nona Viona sebelumnya adalah tunangan dari Tuan Joan mereka bertunangan selama kurang lebih dua tahun lamanya."
Ketukan jarinya di meja berhenti mendengar ucapan James barusan.
"Pernikahan mereka batal setelah Tuan Joan mengetahui jika nona Viona ingin Merawat seorang bayi."
"Tunggu! sepertinya ada yang terlewat di sini?" Dave memotong penjelasan James, kenapa Merawat bayi? seharusnya pernikahan mereka batal karena wanita itu hamil kan?
James memperbaiki kacamata nya yang sedikit miring sebelum menjawab pertanyaan Bos nya.
"Tidak ada berita jika Nona Viona hamil tuan, setelah mencari tau saya hanya mendapatkan kabar jika nona Viona membawa pulang seorang bayi dan ingin merawatnya."
Berarti bayi itu bukan milik Viona? lalu siapa ibu bayi itu?
"Tuan." panggil James ketika Dave sepertinya tengah berpikir keras.
"Lanjutkan."
"Baik!"
"Saya mendapat info jika Nona Viona memiliki seorang sahabat dekat.....tapi sayangnya wanita itu meninggal beberapa bulan yang lalu."
"Wanita itu bernama Aruna."
TBc.....