
Viona tidak bisa menahan rasa bahagia nya begitu manajer restoran menerima nya bekerja di tempat ini, awalnya dia ragu saat Interview tadi apakah pak Anton menerimanya atau tidak karena statusnya yang sekarang ini. Tapi tanpa di duga pria paruh baya itu menerima nya bekerja.
Memang saat Interview tadi dia sama sekali tidak menutupi kebenaran mengenai keberadaan Arka yang menjadi tanggung jawabnya, bahkan dia juga mengutarakan keinginannya untuk hanya bekerja setengah hari dan ajaibnya Manajer menerimanya.
Pria paruh baya itu hanya bilang jika dia suka dengan kejujuran yang ia berikan saat Interview tadi. lagi pula Restoran memang sedang membutuhkan pekerja paruh waktu saat ini untuk menggantikan Pelayan lain yang sedang cuti.
"Selamat datang Viona." Begitu keluar dari dalam ruangan manajer Viona sudah di sambut oleh beberapa pekerja yang ternyata rekan satu timnya.
"Terima kasih." Senyum tulus terukir di bibir tipis Viona, sangat bahagia karena semua orang menerimanya di sini.
"Salam kenal! aku Rere dan dia Arin." Gadis bernama Rere itu menunjuk rekan yang berada di samping kirinya.
"Mohon bantuannya semua." Viona tersenyum pada kedua gadis yang di hadapannya.
Memang Restoran ini memiliki puluhan karyawan di dalamnya namun untuk pekerja kebersihan yang bertugas di belakang hanya beberapa saja, dan sekarang Viona menjadi salah satu dari mereka.
"Aku dengar kamu sudah memiliki anak ya?" Arin melotot tajam kemudian gadis itu menyenggol lengan Rere, memperingati teman kerjanya itu agar tidak mengulik privasi satu sama lain. Apalagi Viona baru saja bekerja di sini bersama mereka.
Viona tersenyum tidak merasa tersinggung sama sekali karena yang di tanyakan oleh rekan kerjanya itu benar adanya.
"Ya seorang putra yang tampan," angguk nya sembari tersenyum lembut, membicarakan tentang putranya dia jadi ingin segera pulang padahal mulai bekerja saja belum.
"Maafkan kelancangan ku." Rere menggaruk kepalanya yang tidak gatal merasa canggung dengan Viona.
Viona langsung menggelengkan kepalanya, senyum selalu terukir dari bibir wanita muda itu. Mencoba mengubah suasana agar tidak canggung seperti sekarang.
"Kamu harus terbiasa dengan mulutnya yang cerewet ini." Arin melirik sinis Rere di sebelahnya, interaksi Antara keduanya membuat Viona teringat akan Aruna, sifat Arin dan Rere hampir sama dengan sifatnya dan juga Aruna, jika dia adalah tipe yang diam dan hanya mendengarkan maka Aruna adalah sebaliknya, gadis itu selalu punya cerita di setiap ucapannya mulutnya tidak bisa berhenti mengkritik orang jika sesuatu yang di ucapkan tidak sesuai keinginannya.
Perhatian ketiganya langsung beralih pada Manajer yang baru saja masuk ke dalam ruangan.
"Sudah cukup berkenalannya sekarang waktunya kalian bekerja," ujar pria paruh baya itu tegas.
"Baik!!"
.
Pukul 20:00
Viona keluar dari Restoran menggunakan pintu belakang sembari menenteng satu keresek berisi makanan sisa yang masih baru.
Bersyukur rasanya memiliki Manajer seperti pak Anton yang sangat peduli dengan para karyawan yang bekerja di Restorannya. bukan hanya memberikannya pekerjaan di Restorannya tetapi beliau juga menyuruh semua pekerjanya untuk membawa pulang makanan yang masih tersisa.
"Hati-hati di jalan!" Rere dan Arin melambaikan tangan saat mereka bertiga berpisah di area parkiran.
"Kalian juga." Balas Viona sambil melambaikan tangan.
Jalan raya masih sangat ramai ketika Viona berjalan menelusuri trotoar menuju halte bus. Walaupun tidak seramai saat siang namun ia merasa cukup lega karena jalanan tidak seperti bayangannya sebelumnya.
Viona sudah sampai di Halte sambil menunggu Bus datang sesekali gadis itu memijit bahunya pelan. Hari pertama nya bekerja dia sudah harus berkutat dengan alat kebersihan tanpa beristirahat.
Restoran sangat-lah ramai sehingga tidak ada waktu untuk mereka beristirahat, tapi untungnya dengan begitu dia bisa mengalihkan perhatian nya dari hal-hal yang mengganggunya belakangan ini.
Tapi rasa lelah yang dia rasakan sebanding dengan uang yang di terimanya bekerja di restoran. Apalagi mengingat teman-teman nya yang baru ia kenal di sana berperilaku sangat baik itu saja sudah cukup.
Bus yang di tunggu Viona datang gadis itu bergegas masuk ke dalam Bus bersamaan dengan para penumpang lainnya.
Dia memilih duduk di dekat jendela menyenderkan kepalanya pada kaca transparan Bus mengistirahatkan tubuhnya sebelum sampai di rumah Ibu panti untuk menjemput Arka.
.
.
"Aku pulang!"
Ibu panti yang baru saja menidurkan Arka di dalam kamar bergegas menghampiri Viona di luar.
"Selamat datang, ayo masuk nak," ajak wanita paruh baya itu pada Viona yang baru saja tiba dengan wajah letihnya.
Viona membalas senyuman ibu panti kemudian mengikutinya ke dalam rumah.
"Anak-anak sudah tidur Bu?" Tanyanya.
Biasanya anak-anak ramai berkumpul di ruang tamu dengan kegiatan mereka masing-masing, entah itu menggambar ataupun mengerjakan tugas sekolah mereka.
"Kedatangan Arka membuat suasana rumah ini menjadi semakin ramai, anak-anak yang lain tidak berhenti mengajaknya bermain." Jawab ibu panti tersenyum lebar, Viona yang mendengar pun ikut merasa lega karena Arka di terima di sini, putranya juga nyaman ketika bersama dengan ibu panti.
Viona mengangguk syukurlah ada ibu dan adik-adiknya yang bisa menjaga Arka selagi ia bekerja.
"Bagaimana pekerjaan mu?" Viona menoleh saat ibu panti duduk di sebelahnya.
Makanan yang ia bawa tadi sudah tersaji di atas meja dan sebagian lagi Wanita itu simpan di dalam lemari pendingin untuk di makan besok.
Viona tersenyum senang sambil mengambil piring dari ibu panti dia menceritakan bagaimana harinya bekerja sebagai tenaga kebersihan di Restoran ternama.
"Ibu ikut senang nak," balas Ibu dengan tulus, ada rasa sedih melihat bagaimana Viona harus hidup begitu keras sekarang ini, di tambah lagi ada Arka yang harus gadis itu besarkan seorang diri. Seharusnya Viona bisa lebih memikirkan kehidupan pribadinya di umurnya yang masih muda seperti sekarang.
"Terima kasih makanannya Bu, sebaiknya aku cepat pulang bersama Arka." Malam semakin larut dia tidak ingin jika putranya jatuh sakit nanti karena terlalu lama terkena angin malam.
"Tidak ingin menginap di sini?" tawar wanita itu, ada rasa khawatir memikirkan bagaimana seorang wanita dan juga bayi berkeliaran di tengah malam seperti ini.
Namun sayangnya Viona menggelengkan kepalanya menolak permintaan wanita paruh baya itu.
"Besok aku akan kemari lagi Bu" jawabnya sembari menggenggam tangan ibu panti erat, melihat wajahnya yang penuh rasa khawatir itu Viona tau betul perasaan Ibu panti.
"Haaaah.... tidak ada yang bisa ibu lakukan jika kamu sudah bersikeras"
keduanya tertawa, mengingat bagaimana keras kepalanya Viona jika sudah bersikeras dengan sesuatu sudah pasti dia tidak akan mengubah keputusannya.
.
.
Semua orang tengah sibuk dengan bagiannya masing-masing begitu pun dengan Viona dan teman-temannya yang sedari tadi sudah berkutat dengan pel dan sapu di kedua tangan mereka.
Pagi ini Restoran sudah di Booking oleh seorang pengusaha ternama pemilik Restoran yang menjadi tempat mereka bekerja sekarang, bahkan sebelum restoran ini buka pun mereka sudah bersiap-siap.
"Ayo-ayo! jangan hanya diam saja. Bela! sebentar lagi Direktur akan datang bersama tamu-tamunya!" Pak Anton berkacak pinggang menahan emosi ketika salah-satu penjaga kasirnya hanya diam tanpa melakukan apa pun.
"Tapi bagaimana kebersihan bukan tugasku pak!" jengkel wanita ber-lipstick merah menyala itu, memang tugas wanita itu adalah berdiri di belakang meja kasir, tapi karena Restoran tutup hari ini dia terpaksa mengerjakan bagian yang bukan pekerjaannya.
"Kalau begitu bekerja di sini bukan tugas mu sekarang!" balas pak Anton menusuk dia paling tidak suka jika ada karyawan yang tidak bertanggung jawab seperti bela.
Wanita itu mendengus kesal namun tubuhnya mulai bergerak membantu menyusun kursi-kursi yang dibutuhkan.
"Dasar wanita itu! aku heran kenapa dia bisa di terima di sini." Arin menepuk bibir ceriwis Rere yang baru saja mengeluh mengenai Bela, memang tidak sedikit karyawan yang bekerja di sana sangat tidak menyukai Bela bukan karena iri melainkan sikap gadis itu yang terlalu angkuh padahal mereka sama-sama pelayan di sini.
"Sakit!" Pekik Rere sambil mengelus bibirnya yang tadi di tepuk oleh Arin.
"Kecilkan volume suara mu itu!" Ancam Arin, bukan apa-apa hanya saja suara Rere yang kelewat nyaring itu bisa saja di dengar langsung oleh Bela yang berdiri tak jauh dari mereka bertiga, benar saja dari tempatnya berdiri Bela tengah menatap tajam Arin dan Rere. Wanita itu pasti mendengar ucapan Rere barusan.
Seketika bulu kuduk mereka merinding di tatap begitu oleh Bela.
Viona menggelengkan kepalanya bekerja di sini dia harus mendengarkan Arin dan Rere bertengkar setiap harinya.
Mengabaikan kedua gadis yang tengah sibuk adu mulut di sana Viona berjalan sembari mendorong kain pel nya menuju pintu, sayangnya terlalu fokus dengan kegiatannya dia sampai tidak sadar jika kain pel nya yang kotor tidak sengaja mengenai sepatu seseorang yang baru saja masuk dari arah pintu.
"Aish!! apa-apaan ini!" Suara menggelegar itu sampai membuat para pekerja Restoran berbondong-bondong melihat ke arah sumber suara.
Viona mengangkat wajahnya takut-takut melihat siapa yang berdiri menjulang di depannya saat ini.
"T-tuan!"
Deg!
Bahu Viona meluruh begitu Manajer berlari menghampirinya dan juga pria tampan yang baru saja masuk tadi.
'Mati aku.'
TBC....