Not My Baby

Not My Baby
21. Pasangan yang sempurna



"Jelaskan pada ibu sekarang!"


Viona, Davendra bahkan James pun hadir menghadap kepada nyonya besar untuk dimintai keterangan mengenai asal usul cucunya, yang katanya di buang oleh ibunya itu. Mereka ber-empat berada di ruang kerja Dave, nyonya besar duduk santai di kursi sedangkan yang lain berdiri dengan tegang.


"N-nyonya kenapa saya juga kena?" James menggaruk kepalanya, aneh saja tiba-tiba dia di telepon oleh bosnya untuk datang ke rumah hari ini dan akhirnya berdiri bersama dengan Bos dan Viona di hadapan nyonya besar.


Wina menatap nyalang James, seketika yang di tatap hanya bisa menunduk kan kepalanya.


"James jelaskan pada ibu."


Pria berkaca mata itu menoleh cepat pada bosnya, menatap pria itu dengan tidak percaya.


"S-saya?"


Dave mengangguk, bahkan Viona yang sedari tadi diam tidak mau membantu James untuk menjelaskan apa yang nyonya besar tanyakan.


"Cepat! Kau membuang waktuku James."


James tidak punya pilihan lain, walau bukan Winata yang menggajinya tapi tanpa wanita itu tuan nya tidak mungkin lahir ke dunia ini.


"Sebenarnya saya dan tuan baru tau keberadaan tuan muda beberapa bulan ini nyonya." James sedikit melirik Dave yang berdiri tidak jauh dari tempatnya, lagi-lagi pria berkacamata itu hanya bisa mendengus saat tuannya sama sekali tidak melirik kearahnya.


Winata memijat keningnya yang tiba-tiba terasa pening, jadi cerita yang sebelumnya putra nya itu ceritakan kepadanya hanyalah sandiwara?


"Saya dan tuan sudah mencari keberadaan ibu dari tuan muda Arka selama setahun lebih nyonya, tapi sayangnya tidak membuahkan hasil. Barulah saat kami bertemu dengan Viona, keberadaan tuan Arka sedikit demi sedikit membuahkan hasil." Jelas James tanpa mengurangi kebenaran sedikitpun.


"Wanita itu ... Dia?" Winata mengalihkan pandangannya kearah Viona yang sedari tadi enggan mengangkat kepalanya, wanita muda itu terdiam membisu di samping Davendra.


Jika benar wanita itu adalah ibu dari cucunya maka ia akan merasa sangat bersalah karena menjelek-jelekkan wanita itu di hadapan para tetangga.


James menggeleng dan hal itu membuat Winata menghela nafas lega.


"Ibunya meninggal setelah melahirkan tuan muda Arka nyonya."


Jantung Winata serasa berhenti berdetak, lebih para dari dugaannya ternyata wanita yang ia cela sejak awal sudah tidak ada di dunia ini.


"Ya Tuhan,"


"Sekarang ibu sudah tau?" Dave berjalan mendekat kearah sang ibu, pria itu berusaha menenangkan ibunya yang tengah di Landa rasa bersalah.


Winata menatap marah wajah putranya.


"Bisa-bisanya kau berbohong tentang kebenaran ini Dave! Wanita itu bahkan tidak bisa melihat putranya di dunia ini! Tapi kau membuatnya seolah-olah dia tidak pernah mengharapkan kehadiran Arka di dunia."


Tangan yang mulai keriput itu mengayunkan pukulan tidak berasa nya ke tubuh Davendra, meluapkan rasa amarah dan rasa penuh bersalah nya pada ibu dari cucunya.


"Aku perlu waktu untuk menjelaskan semuanya Bu."


"Ibu tidak pernah mengajari mu menjadi pria brengsek Dave! Kenapa kau tega menyakitinya!"


Viona dan James tidak bisa melakukan apapun untuk meringankan rasa bersalah dari Winata ataupun Dave, karena kenyataannya apa yang mereka lakukan sejak awal memang salah.


"Sebaiknya kita keluar," James mengajak Viona keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Dave dan ibunya menyelesaikan masalah mereka berdua di sana.


.


.


Sejak hari itu ibu dari Dave tidak lagi menghalangi Viona merawat Arka, bahkan wanita itu mengawasi langsung bagaimana Viona merawat cucunya dengan sangat baik di usia semuda ini.


"Kenapa kau diam saja saat aku mengatakan hal buruk tentang ibu kandung Arka?" Setelah membisu beberapa lama akhirnya Wina membuka suara untuk pertama kalinya, mengawali pembicaraan mereka.


Viona menghentikan kegiatannya mengganti pakaian Arka.


Jika dipikir sebenarnya ia tidak terima jika Winata menghina Aruna, padahal wanita paruh baya itu tidak tau cerita aslinya bagaimana. Tapi karena tidak ingin membuat masalah semakin besar dia hanya bisa melupakan semua itu.


Walau yang Viona katakan ada benarnya tapi tetap saja yang dia lakukan salah, seharusnya Viona bisa mengingatkannya saat itu.


"Kau rela meninggalkan semua kemewahan mu hanya demi merawat anak dari sahabat mu, nak. Kau sangat hebat." Winata tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan yang Viona jalani selama ini.


Mendengar cerita dari Davendra hari itu, dia saja tidak kuat menahan air matanya.


Viona tersenyum tipis, kehidupannya memang sangat hebat dengan kehadiran Arka dan Aruna.


"Maaf karena sebelumnya menyakiti perasaan mu."


"Saya baik-baik saja nyonya, setidaknya sekarang semuanya sudah jelas." Winata menarik kembali kata-katanya jika Viona adalah gadis yang belum dewasa.


Dibandingkan putra nya Viona lebih dewasa di bandingkan umurnya yang masih sangat muda ini.


Kedua wanita berbeda generasi itu kembali membisu setelah pembahasan mereka terakhir, Winata sendiri masih merasa bersalah dengan apa yang ia tuduhkan kepada sahabat Viona.


Siapa yang menyangka jika Dave bisa bermain gila sampai menghamili anak gadis orang? Saat Dave menjelaskan saat itu dia saja sudah sangat marah kepada putra tunggalnya itu, tapi karena Dave mengatakan jika ibu dari Arka meninggalkan mereka begitu saja kemarahan nya sedikit mereda.


Tapi ternyata semua itu hanya sandiwara yang Dave lakukan agar terlihat tidak bersalah sama sekali di matanya.


"Kesalahan apa yang aku lakukan dimasa lalu sampai punya putra seperti itu."


Viona menggeleng kecil, menurutnya jika dibandingkan dengan Joan mantan calon suaminya dulu Dave sangatlah sempurna.


"Si bodoh itu bahkan merebut Arka dari dirimu nak." Wanita paruh baya itu terlihat frustasi menghadapi kelakuan putra semata wayangnya.


"Anda benar, seharusnya tuan membiarkan saya merawat Arka." Jawab Viona menimpali perkataan nyonya besar.


Winata terdiam, sebenarnya yang di lakukan Dave tidak salah. Bahkan menurutnya sangat benar dengan mengambil Arka dan merawatnya di bawah naungan Darmawangsa, bahkan lebih baik lagi jika Dave bisa mengambil hati Viona.


Dilihat-lihat Viona adalah gadis yang sangat cantik, bahkan dia berbeda dengan kebanyakan wanita di luar sana. Tidak hanya mandiri Viona juga penyayang terhadap semua orang.


'Ibu yang cocok untuk cucuku di masa depan,' batin Winata membayangkan jika Viona menjadi pasangan hidup putranya.


Sudah pasti keduanya akan sangat serasi, yang satu tampan dan yang satunya lagi cantik. Bisa di bayangkan putra-putri mereka se perfect apa nantinya.


"Nyonya, saya akan pergi ke dapur. Apa anda perlu sesuatu?" Tanya Viona


"Tidak ada nak, pergilah."


Gadis itu tersenyum tipis sebelum akhirnya keluar dari sana menuju dapur untuk membantu Ny. Gee.


.


Dua hari sudah berlalu sejak kedatangan nyonya besar Darmawangsa untuk mengunjungi cucunya, kejadian bagaimana wanita itu tau asal-usul Arka membuat nya sedikit lebih lembut pada Viona ataupun Rose.


Hari ketiga Ibu dari Dave itu memutuskan untuk kembali ke kediaman utama setelah menghabiskan waktunya dengan sang cucu.


"Jaga Arka dengan baik, cucuku harus menjadi pria hebat melebihi ayahnya." Pesan Winata pada Viona, wanita paruh baya itu tidak ingin berbasa-basi dengan Dave sepertinya.


Viona mengangguk, tidak bisa berjanji karena waktunya dengan Arka juga sudah tidak banyak.


"Maafkan aku nak, pertemuan pertama kita sangat tidak baik."


"Nyonya anda sudah berkali-kali meminta maaf."


Keduanya tertawa, tapi sayangnya kebahagiaan itu harus berakhir karena mobil yang menjemput Winata sudah tiba di sana.


"Sampai jumpa lagi."


Viona tersenyum ia melambaikan tangannya mengantarkan kepergian Winata dari sana.


TBC.....