
Viona baru saja memandikan Arka selepas mereka kembali dari taman, saat dia keluar dari kamar mandi bersama dengan putranya ternyata di kamar itu sudah ada Davendra. Pria itu sepertinya sudah membersihan diri juga terlihat dari rambutnya yang setengah kering.
"Biar aku saja." Pintanya saat Viona hendak memakaikan baju untuk si tampan Arka.
Dave mengambil alih pekerjaan Viona, sedangkan wanita itu memilih mengambil MPASI untuk sarapan putranya di dapur.
"Ini."
"Terimakasih." Viona bernafas lega, ternyata Rose sudah lebih dulu mengantarkan bubur untuk Arka sebelum dirinya mengambil ke bawah.
"Kau temani tuan mengurus Arka, biar aku yang membantu nyonya Gee di dapur." Rose tidak membiarkan Viona protes, gadis itu langsung pergi kebawah begitu saja.
Viona menghela nafas sebenarnya dia tidak terlalu suka berdekatan dengan Dave, apalagi setelah tau ternyata pria itu lah yang membuat Aruna ibu dari Arka hamil sampai akhirnya meninggal dunia.
"Lama sekali."
Lihat itu? belum ada lima menit dirinya keluar tapi pria itu sudah mengkritiknya dengan tajam.
"Ruamnya semakin banyak, apa perlu memanggil dokter?" Viona mendekat melihat seberapa parah ruam di kulit bayinya. Ternyata tidak banyak, hanya saja melihat kulit Arka yang memerah seperti itu membuat mereka berdua tidak tega.
"Saya tidak tau, apakah perlu ke dokter?" Dave menghela nafas, apa yang bisa di harapkan dari seorang gadis berusia baru saja menginjak dua puluh tahun? Hal inilah yang membuatnya membawa Rose sebagai pengasuh Arka juga.
Tidak peduli seberapa dewasa Viona di umurnya sekarang, gadis itu tetaplah wanita muda yang bahkan tidak pernah mengurus bayi secara langsung dalam hidupnya.
Viona mengangkat bahunya acuh melihat Dave yang pergi ke luar dengan telepon di tangannya. Sepuluh menit kemudian pria itu kembali.
"Tidak perlu ke dokter, hanya perlu memberikan salep di lokasi ruamnya."
Ternyata pria itu keluar untuk menghubungi dokter.
"Baiklah."
Viona menyuapi Arka dengan MPASI yang tadi Rose bawa, awalnya biasa saja tapi lama-lama juga gerah karena Dave terus menerus memperhatikan mereka.
"Anda ingin menyuapi Arka?"
Dave menggeleng, "Lanjutkan saja." ujarnya
Dan seperti itu terus sampai makanan di mangkuk Arka habis tanpa sisa, pria itu tetap bertahan di posisinya tanpa bergerak sedikit pun.
"Anda perlu sesuatu?" Viona akhirnya bertanya apa yang Dave inginkan sebenarnya, siapa yang tahan di tatap seperti itu dengan pria tampan?
"Apa aku mengganggu?"
Iya!
Ingin sekali Viona berteriak di hadapan Dave jika dirinya terganggu dengan keberadaan pria itu, tapi sayangnya semua itu hanya bisa tertelan dalam hati karena masa depannya ada pada Davendra tidak mungkin jika dirinya menyinggung pria itu.
"Kau melamun."
Viona tersadar wanita itu memilih mengalihkan perhatiannya dari wajah tampan Dave.
"Minggu depan ibuku akan datang, menurutmu apa yang harus aku katakan mengenai Arka?" Dave menunggu reaksi Viona atas pertanyaan yang ia lontarkan.
Tentu saja wanita itu tidak tau harus bereaksi apa, berhadapan dengan Dave saja sudah sangat sulit apalagi di tambah dengan kehadiran wanita yang melahirkan pria arogan itu? Bisa gila pastinya.
"Lagi-lagi kau melamun."
"Saya tidak tau, tapi saya harap nyonya besar bisa menerima Arka dengan baik," jawab Viona seadanya. Keinginannya hanya satu, menciptakan lingkungan yang bersahabat untuk putra tercintanya.
Dave mengangguk-anggukkan kepalanya sudah terbaca jika yang Viona inginkan hanyalah kebaikan Arka, tapi wanita itu tidak pernah memikirkan dirinya sendiri.
Memangnya dirinya bisa memilih? Sudah menjadi perjanjian jika dia hanya akan merawat Arka sampai bayi itu cukup besar, dan selama mengasuh Arka dia hanya akan dianggap sebagai pengasuh bukan ibu. Lalu apa lagi yang bisa dia lakukan?
.
.
Tiga hari setelah percakapan antara Viona dan Dave mengenai kedatangan nyonya Darmawangsa empat hari lagi, dan sampai saat ini mereka berdua tidak saling berinteraksi. Dave kembali ke kesibukannya sebagai pimpinan dari Darmawangsa Group sedangkan Viona sebagai pengasuh dari si bungsu Darmawangsa.
Tapi siapa yang menyangka percakapan yang sebelumnya mengatakan jika Nyonya Darmawangsa akan datang seminggu lagi ternyata salah. Bukan seminggu ataupun empat hari lagi tapi ibu dari Davendra itu sudah berdiri di hadapan Viona saat ini.
"Kau pengasuh cucuku?" Nyonya Darmawangsa atau biasa di kenal dengan nama Winata Darmawangsa bertanya pada Viona. Suaranya halus namun juga dingin.
Viona mengangguk kaku, aura yang wanita paruh baya itu keluarkan hampir sama dengan aura milik Davendra.
Ny. Wina menelisik gadis yang katanya adalah pengasuh cucunya, terlihat sangat muda dan tanpa pengalaman bagaimana bisa gadis muda itu menjadi pengasuh cucunya?
"Dari mana Dave mendapatkan pengasuh seperti ini." Gerutu wanita anggun itu lirih, namun sayangnya Viona masih mendengar gumaman wanita itu.
"Pergilah, aku ingin bersama dengan cucuku," usirnya secara halus.
"Tapi Nyonya, Arka belum makan biar saya memberinya makanan dulu."
"Kau pikir aku tidak tau cara mengurus bayi? Pergi panggilkan Rose kemari."
Viona tidak ingin membuat ibu dari Dave itu semakin murka, karena itulah dia lekas pergi dari sana sesuai perintah nyonya besar.
"Saya permisi."
.
"Vee bagaimana? Apa nyonya besar baik padamu?" Ny. Gee merasa lega karena Viona keluar dengan aman, terbukti dengan keberadaan gadis itu di dapur saat ini.
Viona menggeleng
Rose, dan Ny. Gee menghembuskan nafas berat, begitulah seorang Winata Darmawangsa. Wanita paruh baya yang masih terlihat muda itu tidak suka dengan pekerja yang usianya di bawah dua puluh lima tahun, karena menurutnya gadis di umur itu tidak becus bekerja dan hanya bermain-main saja.
Ditambah lagi keberadaan Dave membuat Winata semakin tidak suka dengan gadis-gadis muda yang mengganggu putranya.
"Rose, Nyonya memanggilmu." Viona berucap lirih
"Tidak apa-apa, aku yakin Nyonya pasti akan menerima mu cepat atau lambat." Rose menenangkan Viona, sebelum akhirnya wanita itu pergi untuk menemui Nyonya besar.
"Aku menyiapkan makanan kesukaan mu, ayo makan." Ajak Ny. Gee pada Viona. Ibu asuh Arka itu tersenyum kemudian mengikuti Gee ke dapur.
.
"Apa!"
"Nyonya tiba pukul satu siang Tuan."
Dave memijit pelipisnya yang terasa sakit, kedatangan tiba-tiba ibunya sangat tidak terduga. Sudah pasti ibunya itu sudah tau tentang keberadaan Viona, dan semuanya akan semakin rumit lagi.
James menatap iba bosnya begitulah keluarga Darmawangsa, jangan terlalu percaya ataupun berharap dengan perkataan mereka Keluarga Dave memang sangat menyukai yang namanya kejutan.
"Sial!" Belum ada skenario yang ia siapkan untuk keberadaan Arka dan Viona, tapi ibunya itu datang tanpa pemberitahuan. Dan sekarang? tidak ada persiapan apa pun untuk melawan ibunya itu.
TBC....