
Hari-hari Viona kembali seperti biasanya setelah kepulangan nyonya besar Winata Darmawangsa, ibu dari Dave. Pertemuan mereka memang tidak menyenangkan tapi semua itu karena kesalahpahaman yang Dave buat, dan setelah menghabiskan waktu beberapa hari bersama mereka mulai dekat.
Kedekatan mereka harus berakhir begitu saja karena Wina harus pulang ke rumah nya sendiri, meninggalkan Viona dengan kesunyian yang ada di kediaman Davendra.
"Kamu mau jalan-jalan?" Viona mengajak Arka yang sedang duduk di pangkuannya berbicara.
Bayi tampan itu hanya bergumam tidak jelas sambil mengangkat mainan di tangannya.
Viona tersenyum ia tidak mengerti bahasa bayi, namun antusias Arka dia anggap sebagai persetujuan bayi tampan itu.
"Ayo bayi tampan, kita akan mengunjungi ibu di rumahnya." Viona mengangkat Arka, kemudian membawanya menuju kamar untuk bersiap-siap.
Jika dipikir-pikir sudah lama rasanya tidak mengunjungi makam Aruna, selain karena sibuk bekerja Viona tidak bisa mengunjungi Aruna karena Arka masih terlalu kecil untuk di bawa bepergian keluar rumah. Ada untungnya dia berhenti bekerja sekarang, waktu luangnya bisa ia gunakan untuk mengunjungi sahabatnya itu.
"Biar supir mengantar kalian, nak." Ny. Gee memanggil supir yang memang di sediakan oleh Davendra untuk berjaga-jaga.
Tuan mereka itu walaupun dingin beliau tetap peduli dengan bawahannya, karena itulah dia menyediakan alat transportasi yang khusus di gunakan untuk pelayan seperti mereka ini.
"Terimakasih banyak Gee, kami memang perlu supir," ujar Viona.
Ada untungnya mereka tidak perlu mencari taxi lagi.
"Hati-hati di jalan, pastikan kalian kembali sebelum tuan pulang." Viona mengangguk pada Gee, kemudian wanita itu membawa Arka menuju kendaraan roda empat yang sudah terparkir di depan rumah.
Dahi Viona mengerut begitu melihat mobil yang akan ia tumpangi di sana.
Untuk ukuran mobil khusus pelayan bukankah mobil itu terlalu mewah? Bayangkan saja, pelayan seperti nya menaiki Bugatti Chiron berwarna hitam itu? Bukannya berlebihan?
Sama halnya dengan Viona, Gee juga ikut tercengang melihat kendaraan roda empat itulah yang terparkir di sana bukan mobil yang biasa mereka kendarai.
"I-itu mobil untuk pelayan?" Tanya Viona hati-hati, seumur hidupnya dia tidak pernah naik mobil mahal seperti itu.
"Tentu saja bukan."
Bukan Gee yang menjawab pertanyaan Viona, melainkan pria tampan yang masih mengenakan jas mahalnya menjawab dari belakang keduanya.
"Oh, Astaga! Tuan, anda membuat wanita tua ini terkejut." Gee memegangi dadanya dramatis karena terkejut dengan keberadaan Dave tiba-tiba.
Viona sendiri masih terpana dengan kendaraan roda empat di depan sana.
"Aku akan mengantarkan kalian berdua," Dave berjalan menuju Bugatti miliknya.
Gee menepuk pundak Viona menyadarkan wanita itu dari lamunannya.
"Cepat berangkat, hari sudah semakin sore."
Mau tak mau Viona langsung menyusul Davendra, pria itu sudah lebih dulu masuk ke dalam meninggalkan Viona yang bahkan tidak berani menyentuh pintu mobil berwarna hitam itu.
Tidak lecet kan? Batin Viona takut jika dia menyentuh mobil itu akan lecet terkena tangannya.
Kaca mobil terbuka dari dalam, "Cepat masuk!" Davendra berteriak dari dalamnya.
Dave mendengus kesal saat Viona tidak berniat masuk. Akhirnya pria itu turun kemudian membukakan pintu untuk Viona dan Arka.
"Cepat masuk, putraku kepanasan karena terlalu lama berdiri di luar." Dave mendorong tubuh Viona masuk ke dalam.
Setelah wanita itu duduk dengan tenang baru lah Dave berjalan memutar ke tempatnya duduk.
"Pakai sabuk pengamannya."
Viona kembali kesulitan mengenakan sabuknya karena keberadaan Arka, lagi-lagi Dave lah yang membantu memasangnya.
"T-terimakasih."
"Hm." Davendra menjalankan mobilnya keluar dari area rumah.
.
.
Lima belas menit kemudian mereka akhirnya sampai di tempat tujuan, sebuah pemakaman yang berada di pinggiran kota menjadi tempat peristirahatan terakhir Aruna. Lokasinya dekat dengan panti sehingga memudahkan anak-anak yang lain jika ingin berkunjung ke pusara Aruna.
"Biar aku yang membawa Arka." Dave mengambil alih putranya dari gendongan Viona, melihat bagaimana tubuh kecil wanita itu membawa beban yang tidak kecil membuatnya sedikit iba.
Tidak ada penolakan dari Viona, karena Memeng benar dirinya merasa lelah menggendong Arka. Bayi itu tumbuh dengan cepat sampai-sampai Viona hampir tidak kuat mengangkatnya.
Mereka bertiga berjalan bersama, Viona memimpin jalan sedangkan Dave dan Arka berada di belakangnya.
"Kita sampai."
Viona tersenyum tipis, dia mulai membersihkan debu dengan kain yang sengaja ia bawa dari rumah sebelum kemari tadi. Kuburan Aruna masih terlihat sangat cantik, karena orang-orang panti tidak pernah absen merawat pusara Aruna.
Davendra sendiri hanya memperhatikan bagaimana cara Viona membersihkan kuburan milik sahabatnya dengan telaten, rasa bersalah kembali muncul dalam hatinya karena dengan tidak sengaja membuat kedua sahabat itu harus berpisah secara tidak langsung.
Melihat Viona mulai memejamkan matanya sambil mengatupkan kedua tangannya di dada Davendra pun ikut melakukan hal yang sama dengan Arka di gendongannya.
"Kemari nak." Dave membiarkan Viona mengambil alih Arka darinya.
"Beri salam pada ibu," Wanita itu membiarkan Arka menyentuh langsung rumput hias yang menutupi makam Aruna.
Balita tampan itu tertawa begitu senang, selain bisa menyentuh rumput secara langsung ia juga senang karena bisa bermain dengan ayah dan ibunya.
"Jangan terlalu lama," Davendra meringis melihat tangan suci putranya menyentuh rumput yang tentu saja tidak higienis.
"Tidak apa, lagipula hanya sesekali." Jawab Viona, dia kembali tersenyum senang saat putranya begitu bahagia saat ini.
Dave menghela nafas panjang, sepulang dari sini dia akan menyuruh Rose memandikan Arka dengan bersih nanti.
Diam-diam pria yang masih mengenakan setelan kantor itu memperhatikan bagaimana interaksi Viona dan Arka di depan makam Aruna, tidak ada canggung sama sekali bahkan Arka juga terlihat begitu senang.
Lagi-lagi pria tampan itu menghela nafas, apakah jika dia tidak terlambat menemukan Aruna saat itu dia akan menikahi wanita itu? Mengetahui jika Aruna tengah mengandung sudah pasti ibunya itu akan memaksa nya untuk menikah dengan Aruna.
Tapi hal itu tidak terjadi, bukan Aruna yang ia temukan melainkan sahabat gadis itu. Viona.
"Ayo pulang," Dave bangun dari posisinya yang semula ikut jongkok dengan Viona.
Wanita itu mendongak menatap pada Bosnya yang sudah mengajak mereka pulang, belum ada setengah jam mereka di sini tapi pria itu buru-buru sekali ingin pulang
"Tapi-
"Panas Viona, tidak baik terlalu lama berada di bawah matahari seperti ini," Dave mendengus melihat wajah cemberut ibu asuh putranya itu.
Bukan apa-apa, hanya saja berada di sini membuatnya tidak berhenti merasa bersalah.
Dengan terpaksa Viona menuruti perkataan Bosnya, wanita itu menatap kuburan Aruna sejenak sebelum akhirnya menyusul Dave bersama dengan Arka.
.
.
.
.
Selalu ada badai sebelum pelangi bukan? Mungkin itulah yang Viona hadapi saat ini.
"Apa maksudmu Viona?" Dave menatap remeh Viona yang saat ini berada di tengah kerumunan orang-orang yang hadir di pesta miliknya.
Wajah Viona sembab, air mata terus mengalir melewati pipinya. Rasa sakit akibat tamparan tidak terasa karena pandangan semua orang yang terarah padanya.
"Sejak kapan Arka menjadi putramu? Jangan bermimpi."
Ucapan Dave di hadapan semua orang semakin mempermalukan Viona, bahkan orang-orang di sana tertawa saat Dave mengakhiri ucapannya.
Apa yang salah dengan ucapannya? Arka memang benar putranya. Tapi kenapa semua orang tertawa?
Viona tersenyum getir di sela tangisnya, seharusnya dari awal dia tidak berharap dengan keluarga ini. Hanya karena tinggal sebagai pengasuh Arka dan mendapat kebahagiaan semua dari para pekerja, bukan berarti dia bisa berharap lebih.
"Anda benar, Arka memang bukan putraku."
TBC.....