
Kondisi Viona sudah pulih sepenuhnya gadis itu bahkan mulai melakukan pekerjaan yang dulu sering ia lakukan saat masih tinggal di ke diaman ini.
Kedatangannya juga di sambut baik oleh pelayan yang lain, sayangnya hanya Rose yang tidak ada di sini. Pengasuh Arka yang dulu menemaninya itu terpaksa di berhentikan karena Arka tidak perlu pelayan lagi untuk merawatnya.
Selain ada Viona yang akan menjadi ibu sahnya, ada juga Wina yang menjaga cucunya itu setiap saat.
"Viona jangan bermain di dapur nak,"
Gadis yang sedang mencuci buah-buahan itu menoleh pada Winata di sebelah kanannya. Wanita paruh baya itu datang bersama dengan Arka untuk menyusulnya ke dapur.
Bayi tampan itu merentangkan kedua tangannya pada Viona.
"Ibu biar Arka bersama ku," Wina menyerahkan Arka pada ibunya.
Viona memang diberi titah oleh Wina langsung untuk memanggil dirinya ibu, karena itulah sekarang Viona sedang menyesuaikan panggilannya terhadap ibu dari Dave itu.
Selama ini Wina tau jika Viona adalah pengasuh sekaligus ibu yang baik untuk cucunya, tapi dia tidak menyadari jika gadis di depannya ini lebih dari itu.
Ada kebahagiaan sendiri untuknya bisa membawa gadis sebaik Viona masuk ke dalam keluarga besarnya.
"Sudah-sudah, ayo ikut ibu ke depan," ajaknya pada Viona.
"Tapi pekerjaan di sini belum selesai."
"Saya sudah lelah memberitahunya nyonya," ny. Gee mengangkat tangannya menyerah begitu tau jika Nyonya besar meminta bantuannya untuk membujuk Viona.
Wanita paruh baya itu menghela nafas, "selesaikan dengan cepat setelah itu kita pergi keluar."
Viona mengerutkan dahinya
"Ke mana?" Tanyanya penasaran.
"Kau akan tau saat ikut dengan ibu."
Setelah itu Winata pergi dari sana meninggalkan Viona dengan rasa penasaran yang begitu tinggi. Tepukkan di bahunya menyadarkan Viona dari lamunannya.
"Pergilah, biar aku yang menyelesaikan ini," ujar Gee pada Viona. Wanita itu mendorong Viona keluar dari dapur, dan saat Viona sudah berada di luar pintu Gee menutup pintu kayu itu dari dalam.
"Gee!"
Suara tawa terdengar sampai luar, Gee sepertinya begitu senang bisa mengusir Viona dari dapur yang menjadi kekuasaannya.
Tidak ada pilihan lain selain pergi dari sana.
"Sayang kau juga tertawa?" Viona baru sadar jika sejak tadi Arka tertawa dalam gendongannya.
"Mma! ppa!"
"Iya ini mama,"
"Ppa!" pukulan tangan kecil Arka memang tidak sakit, tapi saat di lakukan secara berulang-ulang tentu saja akan terasa di tubuhnya.
Viona membeku saat kedua lengan seseorang melewati tubuhnya dari belakang, dia tidak berani menoleh apalagi ia tau tangan siapa itu.
"Ppa! ppa!"
"Jagoan papa, jangan memukul mama seperti itu, hm?"
Dave berdiri di belakang Viona, tangan kanannya maju untuk menyentuh wajah putranya sedangkan tangan sebelah kirinya menyentuh tangan Viona, membantu gadis itu menahan bobot Arka dari bawah.
Gleg!
Geli sekali mendengar Dave memanggilnya mama seperti tadi.
"Kau belum bersiap?"
Viona masih belum selesai dengan keterkejutannya saat Dave bertanya padanya, baru saat pria itu menyentuh pundaknya dia tersadar.
"Hm?"
"Kenapa belum siap?" Ulangnya sekali lagi
"Memangnya kita mau ke mana?"
"Ibu belum mengatakan pada mu?"
Viona terdiam, berarti ibu dari Dave tadi datang ke dapur untuk menyuruhnya bersiap.
Arka di ambil alih oleh Dave, pria itu mengisyaratkan agar Viona cepat bersiap sekarang.
.
.
Butik
Ternyata Dave mengajaknya ke sebuah butik terkenal yang ada di kota, pria itu bahkan sudah menyewa butik saat mereka sampai di sana.
"Pesanan yang kuminta bawa kemari."
"Baik Tuan!"
Viona duduk di samping Dave, matanya sibuk menjelajah gaun-gaun pengantin yang ada di butik sampai-sampai dia tidak sadar jika pria di sebelahnya itu tidak berhenti menatap dirinya.
"Nyonya silah kan pilih gaun yang kami buat khusus untuk anda."
Viona terkejut melihat lima gaun yang saat ini tersaji di hadapannya, karena terlalu fokus dengan sekitar dia sampai tidak sadar para pekerja butik sudah menyiapkan semua ini.
Gadis itu melirik pada Dave di sebelahnya, "pilih yang kau suka."
"Aku tidak tau harus pilih yang mana," semuanya sangat cantik siapa yang bisa memilih jika di hadapkan gaun indah seperti ini?
"Kalau begitu coba satu-satu."
"Apa? Tidak perlu, pilih yang mana saja aku akan suka," tolaknya. Tapi sayang sekali Dave tidak mudah menerima penolak kan, karena itu pria itu menyuruh staf di sana membawa calon istrinya masuk ke dalam ruang ganti untuk berisap.
Viona keluar dari dalam ruang ganti dengan gaun pertama, Model gaun Lace berwarna putih di lengkapi renda yang menutupi seluruh tubuh Viona dari atas sampai bawah.
"Ganti."
Gadis itu mendelik, bagaimana bisa Dave menyuruhnya berganti lagi? Gaun ini memang terlihat sederhana, namun beratnya tidak main-main.
Gaun kedua, Model Ruffle bergelombang yang begitu pas di tubuh Viona namun lagi-lagi Dave menyuruhnya berganti pakaian.
Gaun ketiga, Model gaun off the shoulder lagi-lagi Dave menolaknya.
"Sudah cukup, ambil saja yang pertama." Viona tidak bisa lagi jika harus mencoba gaun-gaun itu.
"Nyonya masih ada gaun yang lain anda bisa mencobanya." Pemilik butik tidak ingin jika calon pengantin Davendra keluar dari butiknya tanpa membeli gaun dari tokonya. Bisa hancur usahanya jika mereka keluar dengan kecewa.
"Hanya tiga? Bukanya aku meminta kalian menyiapkan lima gaun?" Dave bangun dari tempatnya duduk kemudian menghampiri Viona dan juga pemilik butik.
"Ada lagi Tuan, tapi kami salah membuat ukuran karena itu gaunnya tidak jadi kami keluarkan." Jelasnya.
"Keluarkan sekarang!"
Pemilik butik memberi kode pada para pegawainya untuk segera mengambil gaun yang tidak jadi mereka keluarkan.
Dua gaun dengan model berbeda mereka keluarkan, yang pertama dilihat sepintas gaun pengantin ini biasa saja seperti busana pernikahan umumnya, putih berbahan tulle dan ditebar motif bunga kecil yang cantik. Namun pesona maksimal terlihat pada bagian pinggang yang mengadopsi obi Jepang, lengkap dengan aksesoris metal bercahaya di bagian tengahnya.
Lalu yang kedua, Sweet Heart Cape hampir sama dengan model-model yang ia pakai sebelumnya terlihat elegan dan berat tentunya.
Viona menyentuh gaun Perfect White With Metal Obi yang pertama, sepertinya dia jatuh cinta dengan gaun ini.
"Aku ingin yang ini." Ucapnya pada Dave, pria itu mengangguk setuju pilihan calon istrinya tidak salah.
"Ukurannya sedikit lebih besar dari ukuran anda nyonya, kami akan mengubah ukurannya secepat mungkin!"
Dave menggeleng, "tidak perlu, ukuran yang sekarang saja."
"Tapi Tuan."
"Aku pastikan gaun itu akan sangat pas di tubuh istriku nanti," Dave melirik Viona yang juga tengah menatapnya.
"Iyakan sayang?"
Wajah Viona memerah, tapi ekspresinya terlihat jengkel saat Dave memanggilnya sayang di hadapan semua orang yang ada di butik.
"Baiklah tuan, kami akan menyiapkannya. Anda perlu yang lain lagi?"
Dave menoleh pada gaun yang Viona kenakan tadi, sebenarnya mereka semua sangat cantik saat Viona pakai tadi. Apa dia harus mengambil mereka juga?
TBC....