
Tubuh Viona menegang mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Bos pemilik restoran tempatnya bekerja. Dia tidak salah dengarkan? Dave mengatakan jika Arka adalah putra pria itu?
Dave yang sudah terlanjur mengatakannya tidak dapat mengelak, lagi pula tidak ada lagi yang bisa Viona lakukan karena dia sudah tau tentang kebenaran Arka adalah putranya.
"Tidak perlu terkejut begitu, aku yakin kau lebih tau tentang kebenaran ini kan?"
Viona terkejut sangat terkejut nafasnya memburu seiring keterkejutannya semakin menjadi-jadi, setelah ini Viona tau jika Dave pasti berniat merebut Arka dari tangannya.
"Kebenaran apa? berhenti bicara omong kosong! Arka adalah putraku dan akan tetap menjadi putraku selama-lamanya." Viona berucap penuh tekanan, bahkan wanita dua puluh tahun itu melotot tajam ke arah Davendra.
Senyum miring terlihat samar di bibir tipis Dave, "Putramu? biar aku koreksi," kerutan samar di dahi Viona terlihat jelas di penglihatan Davendra. "Putra sahabatmu mungkin?"
Lagi-lagi perkataan Dave semakin memojokkan Viona, bagaimana bisa pria ini tau mengenai asal-usul kelahiran Arka?
Viona menggeleng menolak kebenaran yang terucap dari bibir Dave barusan.
"Apa yang anda maksud? Arka adalah putraku!" Wanita itu menjerit, bola matanya yang memerah meneteskan air mata kepedihan dan ketakutan yang bercampur.
"Bukan kau atau siapapun! Arka adalah putraku!"
Ketenangan Dave sirna seketika setelah Viona dengan beraninya berteriak padanya, selama hidupnya tidak pernah ada orang yang berani berteriak padanya seperti yang Viona barusan lakukan.
"Berani-beraninya kau menyangkal kebenaran di hadapan ku?" Dave melesat, memperpendek jarak antara dirinya dan Viona.
Tubuh mungil yang hanya sebatas dagu Davendra itu terdesak ke belakang, tubuh kekar Dave membuat Viona tidak bisa pergi ke mana-mana. Keduanya saling bertatapan mata Viona yang berkilat karena air mata di tatap oleh mata tajam Dave yang menusuk tajam.
"Mau atau tidak, aku akan mengambilnya darimu!" Bisikan lirih dari Dave semakin membuat air mata Viona berjatuhan.
"Tidak bisakah anda merelakannya? Anda memiliki segalanya tuan, bahkan anda bisa mendapatkan anak dari wanita lain yang akan anda nikahi nantinya." Tidak bisa dibayangkan jika lagi-lagi Viona harus kehilangan orang yang berharga dari hidupnya.
"Dan melepaskan anak laki-lakiku begitu saja? jangan konyol Viona, walaupun aku menikah nanti Arka akan tetap menjadi putraku untuk selamanya."
Seketika tangisan Viona pecah begitu saja, Arka yang berada di gendongan wanita itu pun ikut menangis bersama dengan ibunya. Balita itu seolah mengerti jika kapan saja dia bisa terpisah dengan sang ibu.
"Besok datang ke rumah ku dan bawa Arka bersama mu!" Dave tidak merasa iba sedikit pun, pria itu hanya melirik sekilas wajah Viona yang basah oleh air mata. Tatapannya terfokus pada wajah tampan Arka yang sama persis dengan wajah masa kecilnya.
"Jika kau tidak datang besok, jangan salahkan aku merebut Arka dengan paksa."
.
.
Hari berganti malam namun Viona belum bisa melupakan kedatangan Davendra tadi pagi ke rumahnya, ancaman pria itu masih terngiang-ngiang di telinga sampai membuat wanita itu beberapakali menepuk-nepuk telinga, berharap suara itu hilang dari kepalanya.
Ponselnya terus berdering sejak tadi, tapi tidak ada niat Viona meraih benda persegi yang tergeletak di lantai itu.
Saat melirik ponselnya sekilas Viona bisa melihat nama Arin terpampang di layar. Pasti teman-teman nya ingin menanyakan ketidakhadiran nya siang ini untuk bekerja.
Viona merebahkan tubuhnya di samping Arka, bayi tampannya tertidur setelah lelah seharian menangis bersama dengannya. Di usapnya wajah mulus itu dengan lembut, tidak bisa di bayangkan jika Arka akan di pisahkan darinya.
"Aruna ... Kenapa kamu memilih Davendra sebagai ayah Arka?" Air matanya kembali menetes. Jika mengingat bagaimana perjuangannya dan sang sahabat untuk merawat Arka sangat tidak adil jika Dave merebutnya begitu saja.
Walaupun pria itu ayah biologis Arka tapi dia tidak turut serta membiayai seluruh kebutuhannya.
"Kemana kita harus pergi, nak? Ayah mu itu bukan orang biasa yang akan membiarkan anaknya di bawa pergi begitu saja." Viona menutup matanya lelah, kepalanya sakit sekali tapi dia takut untuk tidur.
Jika dia tertidur maka waktu akan semakin cepat berlalu, itu artinya semakin cepat pula Davendra akan mendapatkan Arka.
Tanpa membuang waktu lagi Viona segera membereskan pakaiannya dan juga Arka, tidak banyak yang harus dia bawa karena dia akan tinggal di sana sampai Dave benar-benar merelakan Arka nantinya.
Untuk pekerjaannya di restoran mungkin dia akan resign secepatnya dan mencari pekerjaan di tempat lain nanti.
Satu tas besar berisi baju-baju Viona dan Arka lalu ada tas yang berukuran sedang untuk perlengkapan bayi milik Arka. Sebelum berkemas dia lebih dulu memanggil taxi tadi jadi tidak perlu waktu lama kendaraan roda empat itu sudah terparkir di depan kamar kostnya.
.
Kedatangan Viona di waktu yang hampir menunjukkan tengah malam di sambut kebingungan oleh ibu panti, tapi wanita tua itu mengurungkan rasa ingin tahunya dan membawa Viona masuk ke dalam rumah terlebih dahulu.
"Ibu aku dan Arka menginap di sini dulu boleh tidak?"
"Pertanyaan konyol, tentu saja boleh nak."
Viona tersenyum senang setidaknya dia bisa tidur nyenyak malam ini tanpa takut Davendra akan datang dan menculik Arka darinya.
"Cepat tidur tidak baik jika tidur terlalu malam."
Wanita itu mengangguk kemudian merebahkan tubuhnya dengan nyaman.
"Selamat malam sayang."
"Malam Bu."
Ibu panti keluar dari kamar yang Viona tempati. Saat itulah mata yang semula terpejam kembali terbuka.
Viona menatap langit-langit kamar nya dengan pandangan kosong, kenapa setelah kematian Aruna hidupnya selalu tertimpa kesusahan? Apakah sahabat nya itu pergi dengan membawa kebahagiaan nya?
Tadinya dia berfikir bisa tidur dengan nyenyak malam ini, tapi sayangnya semua itu hanya omong kosong.
"Apa kami akan baik-baik saja tinggal di sini?" Batin Viona tidak yakin dengan keputusannya menginap di sini. Mungkin dia akan aman untuk sekarang tapi bagaimana dengan besok?
Tidak ada yang tau bagaimana Davendra dalam bersikap, apakah pria itu baik sekali membiarkan putra nya lepas begitu saja?
Viona semakin tidak bisa memejamkan kedua matanya rasa kantuk hilang begitu saja dan terganti dengan rasa cemas yang begitu membludak.
"Ya Tuhan ... Apa yang harus aku lakukan Aruna?"
......................
"Wanita itu pergi dari kontrakan nya tuan."
Di seberang Davendra baru saja menerima informasi jika Viona keluar dari rumahnya dari pengawal yang ia tugaskan untuk mengawasi wanita itu.
"Awasi terus pergerakannya," suasana hatinya sedang sangat baik hari ini. Dia akan membiarkan Viona bersama dengan Arka untuk beberapa hari ke depan.
"Jangan biarkan wanita itu pergi dari kota ini."
"Baik Tuan."
Dave tersenyum miring, selagi dirinya mengurus pekerjaan di luar kota maka Viona akan bebas menghabiskan waktu nya dengan Arka. Hanya sampai pekerjaan nya tuntas maka wanita itu tidak akan bisa kabur lagi darinya.
TBC....