
"Aku terkejut kalian mengenal menantuku."
Mereka pindah ke sebuah Restoran yang ada di Mall untuk berbincang-bincang, lagi pula sudah siang dan mereka melewatkan makan siang begitu saja karena terlalu asik belanja. Jadilah mereka semua berakhir di sini bersama.
"Kami bertemu di pernikahan tuan Dave Nyonya, tapi ini pertama kalinya istriku bertemu dengan Nona Viona." Pasangan yang ternyata adalah Vero dan Pita istrinya itu tidak menyangka akan bertemu dengan istri dan ibu dari Davendra di sebuah toko perbelanjaan.
Winata mengangguk mengerti.
"Saya Pita nona," Pita menjulurkan tangannya bermaksud bersalaman dengan Viona, gadis yang suaminya sarankan untuk bergaul bersamanya.
Viona menyambut uluran tangan itu dengan sepenuh hati, "Viona, bicara santai saja." Sebagai seorang Darmawangsa Viona masih canggung jika ada yang berbicara formal padanya.
"Itu tuan muda Arka?" Vero menatap balita tampan yang duduk dengan tenang di tengah-tengah Nenek dan ibunya. Balita itu tidak rewel sama sekali hanya karena dot di tangannya.
"Iya ... Arka beri salam," tepat setelah Viona bersuara Arka melepaskan satu tangannya untuk memegang dot, kemudian balita itu melambaikan tangan mungilnya pada Pita dan Vero.
"Oh astaga! Pintar sekali!" Pita sampai menutup mulutnya saat melihat kepandaian dari penerus Darmawangsa di depannya itu.
Winata tentu saja tersenyum bangga, ajarannya selama ini bisa di praktekkan dengan baik oleh cucu kesayangannya.
"Tuan muda menurun kecerdasan dari tuan Dave sepertinya." Vero sudah berandai-andai jika anaknya nanti lahir maka dia akan menjodohkannya dengan Arka.
"Pita aku dengar kau sedang mengandung kan?" Tanya Viona pada wanita di depannya.
"Benarkah?" Winata tidak mendengar kabar itu sebelumnya, dia sedikit terkejut dengan pertanyaan menantunya.
Pita tersenyum lembut tanpa sadar dia mengusap perutnya dengan penuh kasih sayang. Viona menyaksikan apa yang wanita itu lakukan, sekilas bayangan Aruna saat hamil dulu terlintas begitu saja di kepalanya.
Aruna juga selalu melakukan hal yang sama seperti Pita saat mengandung Arka dulu, tapi sayangnya tidak ada suami yang mendampinginya pada saat-saat itu.
"Iya Nyonya, sudah jalan beberapa minggu."
"Aku juga berharap menantu ku lekas memberiku cucu." Gurau mertua Viona sedikit melirik pada menantunya.
Viona tersenyum tipis tidak ada pikiran untuk hamil saat ini, apalagi mengingat Arka yang masih sangat kecil dan perlu kasih sayang lebih dari orangtuanya. Membayangkan waktunya terbagi dengan Arka saat dia melahirkan seorang anak nanti itu bukan pilihan yang bagus.
"Mereka baru saja menikah nyonya, tidak perlu terburu-buru. Apalagi sudah ada Arka yang tampan di sini, benarkan tuan muda?"
Suami dari Pita itu semakin merasa gemas saat Arka menanggapi ucapannya.
Arka mengangguk-anggukkan kepalanya dengan mulut penuh roti seolah dia mengerti ucapan Vero.
"Yah tidak masalah sebenarnya, hidup kami sudah sangat bahagia dengan kehadiran Arka."
Pembicaraan mereka harus tertunda saat ponsel Viona yang berada di atas meja bergetar, panggilan masuk terpampang jelas di layar.
Davendra
Wanita itu melirik sejenak pada ibunya saat wanita paruh baya itu memberi ijin barulah Viona mengangkat panggilan telepon dari suaminya.
"Hallo?"
"....."
"Ada di Mall, bersama ibu. Ada apa?" Viona membiarkan saja ketika Winata menguping pembicaraannya dan Dave.
"....."
"Untuk apa?" Di seberang Dave mengatakan akan menyusulnya ke sini, padahal kan tidak perlu.
Winata mendengus putranya itu akan menyusul mereka, takut sekali jika istrinya pergi bersama ibunya.
.
Davendra turun dari mobil kemudian menyerahkan kunci kepada Penjaga untuk memarkirkan mobilnya. Pria itu berjalan dengan tegap postur tubuhnya yang tinggi dan kekar membuat Dave terlihat mencolok di antara yang lain. Belum lagi kacamata kerja yang membingkai wajah tampannya semakin menambah pesona pria itu.
Ketemu!
Ayah Arka itu tersenyum tipis saat melihat keberadaan istrinya tengah duduk bersama ibunya dan putranya, di depan mereka ada dua orang yang cukup tidak asing.
Dave mengangkat jarinya ke depan bibir memberi isyarat agar Vero tetap menutup mulutnya, pria itu mengangguk kecil tidak jadi berdiri menyambut Davendra karena permintaan rekan bisnisnya di sana.
Viona sendiri masih asyik berbincang dengan para wanita tanpa menyadari jika suaminya sudah berada di belakangnya.
Wanita itu bahkan sempat terkejut saat lehernya dipiting oleh lengan seseorang. Pukulan-pukulan kecil Viona berikan saat dirinya kesulitan bernafas akibat belitan tangan itu.
"Ugh! Lepas!"
"Lepaskan menantu ku!" Bukan hanya Viona, ibu mertuanya itu juga turut memukuli putranya sendiri karena menyakiti menantunya.
"Aw!Aw! Ibu lepaskan!" Winata memberikan jeweran di telinga Davendra. Karena merasakan telinganya yang hampir putus akhirnya pria itu melepaskannya istrinya.
Vero dan Pita saling berpandangan melihat interaksi yang tidak pernah terbayangkan oleh benak mereka sebelumnya, yang mereka tau keluarga Darmawangsa itu sangat kaku dan tidak pernah bercanda di tempat umum seperti ini. Tapi siapa yang menyangka jika perkiraan mereka selama ini salah?
"Jangan kekanak-kanakan Dave! Kau tidak malu dilihat oleh Arka seperti itu!"
Pria yang menjadi tersangka keributan di dalam restoran itu hanya mengangkat bahunya acuh, ia memilih duduk di sebelah sang istri lalu menempel pada Viona seperti perangko.
"Lihat pria ini!"
Viona menenangkan ibu mertuanya agar tidak terlalu menanggapi Davendra, malu rasanya menjadi pusat perhatian orang-orang seperti sekarang ini.
"Selamat sore tuan Dave," Vero tersenyum pada Davendra yang kemudian di balas Dave dengan senyuman serupa.
"Tidak menyangka akan bertemu anda di sini," menurut Vero bertemu dengan seorang Davendra adalah hal yang mustahil jika di hari-hari biasa seperti ini.
Pria itu selalu sibuk di kantornya dan bahkan sering berpergian keluar kota untuk perjalanan bisnis, makanya bertemu dengan Dave di luar selain kantor adalah hal yang sangat langka.
"Yah, aku datang setelah melihat pengeluaran dari kartu debit milik istri ku."
Viona menoleh pada sang suami, Davendra pasti keberatan dengan tas yang dia beli tadi. Sebenarnya dia juga keberatan tapi karena ibu mertuanya memaksa maka dia tidak bisa menolak.
"Maaf, aku akan mengembalikannya lagi nanti." Viona merasa bersalah, tau begini seharusnya dia tidak pergi keluar tadi.
Dave menghindar saat tangan keriput ibunya berniat memukul kepalanya lagi.
"Dasar suami tidak berguna! Kau ingin mengambil kembali apa yang telah kau berikan untuk istrimu?" Winata tidak habis pikir dengan pola pikir putra tunggalnya yang sangat pelit itu.
"Tentu saja aku akan mengambilnya!"
Winata mendelik, "apa katamu!"
Sebagai orang luar Vero dan Pita tidak tai harus bersikap bagaimana, ingin ikut campur tapi itu bukan urusan mereka.
"Ibu, Dave sudah jangan ribut." Kepalanya pening mendengar pertengkaran ibu dan anak ini.
"Nak, ibu tidak akan membiarkan pria ini mengambil barang-barang mu!"
Dave menaikan alisnya, "bukan milik istriku, tapi milik ibu!"
"Apa!"
"Ibu, uangmu sudah banyak kenapa masih mengambil milik istriku," Dave berdiri dari duduknya dengan Arka berada dalam gendongannya.
"Kemari kau anak nakal!"
Dave tidak mendengarkan teriakan ibunya di belakang sana, pria itu berjalan dengan senang hati tanpa peduli dengan ibunya.
TBC.....