
Pesta telah usai para tamu sudah pergi ke rumah masing-masing, hanya tinggal pelayan yang sibuk membereskan sisa-sisa resepsi yang sebelumnya di laksanakan.
Kediaman Darmawangsa menjadi pilihan Dave untuk melakukan resepsi pernikahan, alasan kenapa di tidak melakukannya di kediamannya sendiri adalah karena pria itu tidak ingin orang lain menginjakkan kakinya di rumahnya.
Brengsek memang, pria itu mengorbankan rumah ibunya daripada rumahnya sendiri.
Selain para pelayan, ada juga orang yang masih di sidang di ruang tamu.
Davendra dan Viona mendapat ceramah panjang lebar dari ibunya karena dengan sengaja meninggalkan pesta hanya karena tidak tahan ingin menghabiskan malam pertama dengan sang istri.
"Viona." Wina memanggil menantunya
"I-iya?"
"Kemari nak," Winata menyuruh gadis itu berpindah ke dekatnya.
Viona tidak menolak gadis itu dengan patuh duduk di samping ibu mertuanya.
"Kau baik-baik saja kan?"
"Eh?"
Wianta menghela nafas panjang, untung saja dia mendengar teriakan Viona dari dalam kamar jika tidak dia pasti belum menemukan kedua putra-putrinya itu sampai sekarang.
"Lain kali jika Dave memaksa seperti itu, pukul saja kepalanya!" lirikan tajam wanita paruh baya itu berikan untuk putranya.
Viona tertawa kecil, ternyata ada ibu yang lebih membela anak orang lain daripada anaknya sendiri. Dan sebagai seorang putri yang tidak pernah di bela sepertinya dia sangat bahagia bisa ada di sini.
Viona menggenggam kedua tangan Winata dengan erat.
"Ibu terima kasih sudah menghawatirkan ku," senyum begitu tulus Viona berikan kepada wanita di depannya ini.
"Sekarang aku tidak akan takut lagi pada siapapun karena ada ibu yang akan melindungi ku." Kedua mata gadis itu berkaca-kaca, setelah sekian lama akhirnya ada orang lain yang akan melindungi dirinya.
Selama ini Viona selalu bertahan dengan melindungi dirinya sendiri dan juga orang lain, tapi sayangnya semua yang ia lakukan selalu gagal. Kehilangan seorang ibu adalah awal kegagalan hidupnya, lalu kehilangan Aruna adalah kegagalan terbesar yang pernah ia lakukan karena tidak bisa melindungi sahabatnya itu.
"Kau adalah bagian dari keluarga Darmawangsa nak, mulai sekarang orang-orang yang akan takut dengan mu." Winata mengusap cairan bening yang mengalir di pipi menantunya.
"Sekarang pergi tidur ya? Dave bawa istri mu istirahat," titahnya pada sang putra.
"Ayo." Dave mengulurkan tangannya pada Viona.
Tidak langsung mengambil genggaman tersebut Viona lebih dulu menoleh pada mertuanya. Dengan senyuman lebar ia akhirnya menerima uluran tangan dari Dave.
"Selamat malam Bu," ucap pasangan pengantin itu serempak.
Winata mengangguk,"selamat malam."
.
.
Bunyi dentingan jam dinding terdengar setiap detiknya, malam yang begitu sunyi menampilkan terpaan cahaya bulan yang begitu terang sampai ke dalam ruangan. Langit begitu cerah seolah menggambarkan kebahagiaan yang baru saja terjalin beberapa saat lalu.
Tapi sayangnya cerahnya langit tidak sama dengan keadaan sepasang pengantin yang saat ini duduk saling berjauhan. Keadaan mereka berdua terlihat suram berbanding terbalik dengan keadaan langit yang begitu cerah di luar sana.
Setelah membersihkan diri di kamar mandi, Viona sama sekali tidak beranjak dari atas sofa yang dari tadi ia duduki. Gadis itu seolah menjaga jarak dari Dave.
Pria itu sudah mengganti pakaiannya dengan piyama tidur senada dengan milik Viona, duduk bersandar di kepala ranjang sambil terus menatap tajam istrinya dari tempat tidur.
"Kau tidak mengantuk?" Suara deep voice milik Dave membuat bulu kuduk Viona meremang. Bayangan jika Dave akan kembali menindihnya seperti di kamar masa kecil pria itu tadi kembali mengganggu pikirannya.
"Tidur saja dulu, mm ... A-aku nanti saja," ucap gadis itu menahan rasa gugupnya.
Dave menghembuskan nafas panjang, ini salahnya yang membuat Viona takut berdekatan lagu dengannya. Untuk itu dia harus memperbaiki hubungannya dengan sang istri dulu saat ini
"Kemari." Viona menegang saat Dave menyuruhnya mendekati pria itu.
Reflek Viona menggeleng sebagai jawaban.
"Tidak akan terjadi apapun Viona, aku hanya ingin bicara," bujuk Dave lagi.
Meski ragu-ragu tapi Viona akhirnya menuruti permintaan suaminya, jika di pikir-pikir dirinya seharusnya tidak boleh menolak permintaan suami sendirikan?
Dave tersenyum puas saat Viona mengisi kasur di sebelahnya, pria itu langsung menarik sang istri ke dalam pelukannya agar gadis itu tidak lari dari pelukannya.
Keduanya berbaring di ranjang dengan posisi saling berpelukan, lebih tepatnya Dave lah yang memeluk erat tubuh Viona dan menenggelamkan tubuh kecil itu dalam pelukannya.
Viona menahan nafas terkejut dengan perlakuan Dave yang tiba-tiba.
"Hm?" Dave menunduk untuk melihat bagaimana ekspresi Istrinya. Gadis itu malah menyembunyikan wajahnya di leher suaminya.
"Kenapa kau suka sekali menyembunyikan wajah mu hm?"
Pria itu bisa merasakan gelengan kepala dari Viona, bukan hanya bersembunyi gadis itu sekarang tidak mau membuka suaranya.
"Aku tidak akan melakukan apapun honey, malam ini kita hanya akan berbicara sepanjang malam."
Dave menarik tubuhnya agar Viona kehilangan tempat persembunyiannya.
"Kau tidak ingin tau apapun tentang ku?"
Gadis itu terdiam, hubungan mereka terjalin begitu saja secara tiba-tiba. Tentu saja banyak hal yang tidak mereka ketahui satu sama lain. Sebagai seorang istri tentu saja Viona ingin tau semua tentang suaminya.
Melihat respon Viona sepertinya gadis itu tertarik dengan penawarannya, maka dari itu Dave tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.
Dave bangun dari posisi berbaringnya, ia memilih menyandarkan tubuhnya kembali di kepala ranjang. Viona melakukan hal yang sama, bahkan gadis itu tidak lagi menolak saat Dave menarik pundaknya agar tubuh mereka semakin dekat.
"Siapa yang mulai duluan?"
"Anda," jawab Viona
Dave mengangguk, "Apa hobi mu?" Ia mulai pertanyaan pertama.
Viona terdiam sejenak sebelum akhirnya gadis itu menggeleng.
"Tidak ada." Jawabnya lirih
Dave tidak bertanya, karena dia tau apa yang membuat Viona tidak memiliki satu pun hobi dalam hidupnya. Sejak remaja gadis itu sibuk mencari uang untuk hidupnya sendiri, lalu bagaimana bisa dia memiliki sesuatu yang ia gemari dalam hidupnya?
"Bagaimana dengan anda?" Kali ini Viona yang memulai percakapan.
"Bekerja."
Viona mengerenyit, apa-apaan itu?
"Apa jaman sekarang bekerja itu adalah hobi?" Dave mengangguk cepat.
"Kalau begitu hobi ku juga bekerja?"
Pertanyaan konyol yang Viona lontarkan membuat pria di sampingnya itu terkekeh gemas. Saking gemasnya dia sampai tidak sadar telah mengambil kecupan di pipi mulus sang istri.
Viona memegangi pipinya yang baru saja Dave cium, matanya melotot tidak terima dengan aksi pria itu yang tiba-tiba.
"Siapa yang menyuruhmu menjadi imut hm?"
Melihat Viona yang menjadi badmood akhirnya Dave mengentikan tawanya .
Pria itu berdehem untuk menormalkan ekspresi wajahnya seperti semula.
"Baiklah kita lanjutkan,"
"Bagaimana kau mengenal Aruna?"
Hening selama beberapa detik namun pada akhirnya Viona kembali bersuara.
"Saat kecil kami bertetangga, mungkin karena itu kami bisa dekat."
"Kau tinggal di dekat panti?"
Viona tersenyum tipis gadis itu mengangguk, "saat ibu masih hidup, kami tinggal di rumah yang berada di sekitar panti. Tapi sayangnya itu tidak lama, karena ibu harus pergi selamanya."
Kenangan yang begitu buruk untuk Viona jalani di masa kecilnya, kehilangan orang tua satu-satunya yang menyayanginya lalu dia harus berpisah lagi dengan sahabat kecilnya itu setelah kematian sang ibu. ayahnya saat itu membawanya pindah rumah dan mengenalkan diri nya dengan ibu tirinya.
Dave menyandarkan kepala Viona ke bahunya, "sekarang giliran mu." Dave mengalihkan pembicaraan.
"Bagaimana dengan mu?"
Dave menunduk memastikan lagi apa yang istrinya itu katakan.
"hm?"
"Bagaimana kau mengenal Aruna?"
TBC....