Not My Baby

Not My Baby
16. Jadilah pengasuh putraku



Setelah Davendra membawa Arka bersamanya kemarin, ibu panti menginterogasi dengan berbagai pertanyaan yang selama ini wanita paruh baya itu simpan. Tentu saja Viona tidak bisa menyembunyikan apa pun lagi terlebih setelah kedatangan Davendra yang membuat geger se isi panti.


Semalaman Viona tidak bisa memejamkan matanya sedikit pun, kekhawatirannya begitu besar dengan keadaan Arka yang berada jauh dari pelukannya.


Saat pagi menjelang tanpa membuang waktu lama Viona langsung bersiap untuk menemui putranya, bahkan wanita itu sampai mengabaikan sarapan paginya demi bisa cepat sampai di kediaman Davendra Darmawangsa pria yang dengan kurang ajarnya mengambil putranya.


"Biar Bela menemanimu, nak." Ibu panti tidak tenang jika Viona pergi seorang diri, bersama dengan Bela akan membuat perasaan nya sedikit tenang.


Viona menggeleng tidak ada gunanya membawa bela atau ibu panti sekalipun, Arka sudah berada di tangan Davendra tidak mungkin ia bisa mengambil anak itu kembali.


"Aku sendiri saja Bu, terimakasih sudah banyak membantu kami." Viona tersenyum sendu.


Maria mengusap kepala putri nya dengan lembut, betapa malangnya gadis muda ini menjalani hidupnya.


"Jaga dirimu baik-baik nak, hubungi ibu jika perlu bantuan ya?"


Viona mengangguk


Taxi yang dia pesan sudah datang dengan cepat ia langsung masuk ke dalamnya setelah berpamitan dengan penghuni panti yang lainnya.


"Jaga diri kalian semua." Viona melambaikan tangannya.


"Kamu juga."


Tentu saja! Viona harus menjaga dirinya dengan sangat baik demi Arka setidaknya sampai balita itu bisa memanggil nya ibu, maka dia akan terus bertahan di dunia yang kejam ini.


Bagi Viona kehilangan orang yang dia sayangi berkali-kali bukanlah hal yang mudah, kebahagiaan masa kecilnya berhenti ketika ibu kandungnya meninggalkan dirinya dengan seorang ayah yang arogan.


Saat-saat menyedihkan itu kembali berwarna ketika sahabat baiknya Aruna selalu setia menemaninya di masa kecil hingga mereka dewasa, namun semua itu juga harus berakhir dengan sangat cepat lagi-lagi Viona di hadapkan oleh kematian oleh orang terkasihnya.


Dan sekarang? Setelah semua yang dia alami apakah Tuhan akan mengambil Arka darinya juga melalui Davendra? jika iya, maka Viona dengan senang hati mengakhiri hidupnya saat itu juga. Tapi janjinya untuk Aruna bagaimana?


Viona mengusap air matanya dengan lengan baju yang ia kenakan, memikirkan hal buruk yang akan ia lalui membuat air matanya tidak berhenti menetes.


.


Bukan Apartemen ataupun sebuah gedung tapi alamat yang ia tuju membawanya menuju sebuah hunian mewah yang menjulang begitu tinggi, gerbangnya saja begitu besar dengan pagar setinggi hampir tiga meter lebih dan dari luar Viona bisa melihat luasnya taman hijau di penuhi oleh pohon-pohon kecil dan juga tanaman hias.


Viona menggenggam tas kecil berisi barang-barang berharganya dengan erat, tiba-tiba saja dia merasa begitu gugup berhadapan dengan kediaman itu.


Dalam hati ia menyesal pernah berniat menuntut Davendra ke jalur hukum, melihat bagaimana kayanya pria itu sudah di pastikan jika  benar ia melapor ke polisi laporannya itu tidak akan pernah di urus.


Tiba-tiba saja gerbang besar itu terbuka lebar sendirinya.


"Nona Viona?" Saking fokus dengan rumah yang hampir menyerupai istana di hadapannya Viona tidak menyadari jika sejak tadi ada James yang sudah berdiri menunggunya.


"I-Iya."


"Mari masuk, Tuan Dave ada di dalam."


Viona mengikuti James yang menuntunnya masuk ke dalam, lagi-lagi dia tercengang melihat pria itu naik ke sebuah Buggy Car yang biasa di pakai pemain golf.


"Naiklah," ujarnya saat Viona hanya diam saja menatap ke arahnya.


Viona tersenyum kikuk tidak terbiasa dengan kebiasaan orang-orang kaya seperti Dave ataupun James. Padahal cukup berjalan saja mereka pasti akan sampai yah walaupun lumayan jauh.


"Jika berjalan itu terlalu melelahkan Nona."


Lagi-lagi James membuat gadis miskin di sebelahnya itu tercengang, pria itu seakan tau apa yang ia pikirkan saat ini.


"Lagi pula Tuan muda memerlukan anda segera."


Tuang muda? "Apa yang terjadi? apa Arka baik-baik saja?" Rasa panik yang semula mereda kembali menyerang Viona.


"Bukan hal yang besar, tuan kecil kita hanya merindukan ibunya."


James menggeleng kecil, "Mungkin karena bayi itu tau Tuan Dave adalah ayahnya dia tidak remel nona, hanya saja pagi ini tuan muda Arka menangis cukup lama. Mungkin dia tau jika anda akan datang beliau pasti merindukan anda."


Rasa paniknya menghilang namun ada rasa tidak rela di hati kecilnya saat tau Arka tenang di dalam pelukan ayah kandungnya, bukan tidak mungkin putra kecilnya itu akan mudah berpaling dan melupakannya begitu saja nanti.


"Kita sampai."


.


.


Kedatangan James dan Viona di sambut dengan suara tangisan bayi yang menggema, suara itu berasal dari pintu kayu bercat putih yang berada di sebelah kanan tepat di bawah tangga.


Viona berlari menuju arah suara itu tanpa mengetuk pintu tersebut ia langsung membukanya begitu saja, dan ternyata di sana ada Arka yang sedang berada di gendongan Davendra.


"Sayang ... Arka, hey ini mama." Davendra menyerahkan Arka pada Viona.


Bayi itu terdiam wajahnya memerah karena terlalu lama menangis, belum lama sejak Arka keluar dari rumah sakit tapi baru kali ini anak itu menangis sampai seperti ini.


"Cup..cup.. Sayang mama di sini." Dia menepuk pelan bokong Arka agar bayi itu tenang.


Semua pergerakan itu tidak lepas dari jerat pandangan Dave yang sejak tadi ada di sana, dari cara Viona menenangkan Arka sudah di pastikan jika wanita itu benar-benar menyayangi anak yang bahkan bukan darah dagingnya sendiri.


"Di tertidur?" Tinggi Dave yang berbeda jauh dari nya membuat Viona harus mendongakkan kepalanya agar bisa menatap pria itu.


Jarak keduanya begitu dekat bahkan dirinya bisa mencium aroma maskulin yang menguar dari tubuh tegap Davendra.


Viona menundukkan wajahnya saat netranya bersitatap dengan mantan bosnya.


"Setelah menangis biasanya Arka akan tertidur." jawab Viona mengalihkan rasa canggung yang semula hinggap di hatinya.


Tangan besar Dave mengusap pipi kemerahan Arka dengan lembut, menyeka sisa-sisa air mata yang masih menempel di wajah tampan putra nya.


Karena itulah posisi keduanya menjadi semakin dekat, jika di lihat dari belakang Dave dan Viona terlihat seperti sepasang suami-isteri yang sedang menenangkan putra mereka.


Begitulah yang James lihat saat ini. Pria berkacamata itu berbalik memutuskan pergi dari sana dan membiarkan mereka bertiga di ruangan itu.


Viona membawa Arka menuju kasur yang ada di sana, diikuti oleh Dave yang juga ikut memperhatikan bagaimana cara Viona memperlakukan Arka.


"Apa Arka tidur di sini?" Viona memperhatikan ruangan yang berukuran sedang tempat mereka berada saat ini. Cukup besar namun tidak ada jendela untuk sinar matahari masuk.


Dave menggeleng, "arka tidak berhenti menangis jadi aku membawanya kemari" ujarnya


"Syukurlah, kamar ini tidak cocok untuk bayi seumuran Arka." Viona bernafas lega.


"Hei."


"Hm?"


"Jadilah pengasuh putra ku."


Viona menipiskan bibirnya, seperti ada belati yang menusuk jantung nya saat Davendra memintanya menjadi pengasuh Arka.


"Dia putra ku." Viona menahan air mata yang bisa kapan saja terjatuh di pipinya.


"Kau bisa menjadi ibunya Viona ... Tapi hanya sebatas ibu asuhnya."


Viona menghela nafas, "tidak apa, itu lebih baik." yah! Lebih baik daripada tidak melihat Arka seumur hidupnya.


"Ingat batasan mu."


TBC....