
Viona meremas kedua tangannya gugup berhadapan dengan Boss besar di pagi hari seperti ini tidak pernah terbayang dalam hidupnya. siapa yang menyangka jika pria pemilik sepatu mengkilap tadi adalah Boss pemilik Restoran tempat nya bekerja? ini hari pertama nya bekerja jangan sampai hari ini juga hari terakhirnya berada di sini.
"Siapa yang memasukkan wanita ini kemari?" Tatapan tajam Davendra terus mengarah pada Viona, walaupun jarang mengunjungi restoran tapi dia selalu ingat wajah-wajah yang bekerja di bawah kepemimpinan nya, dan wanita di hadapannya ini bukan pekerja nya seperti yang lain.
Gadis yang tengah di tatap oleh pria tampan itu tentu saja gugup setengah mati, bahkan tangannya sudah basah kuyup karena keringat walaupun ruangan penuh dengan AC, bukan karena terpesona oleh ketampanan Boss besar melainkan gugup jika dia harus di pecat.
"Maafkan saya tuan." Pak Anton selaku Manajer tentu saja merasa begitu bersalah karena dialah yang memasukkan Viona kemari tanpa sepengetahuan Bosnya, salahnya lupa memberi data Viona pada bos langsung.
"Atas ijin siapa kau berani menambah karyawan? bukankah puluhan karyawan sudah cukup?" Tidak ada nada tinggi dari kalimat yang terucap oleh Dave. Namun di setiap kalimat terdapat kata tersirat di dalamnya dan sebagai bawahan yang sudah bertahun-tahun bekerja bersama keluarga Darmawangsa, Anton bisa tau jika Dave tengah menahan amarahnya.
"Maafkan saya Tuan karena rekomendasi dari Keponakan saya, tanpa berpikir panjang saya langsung menerima wanita ini." Viona jadi merasa bersalah melihat Manajer nya yang sangat baik harus memohon seperti ini.
Dave mengayunkan tangannya mengisyaratkan agar pria tua itu keluar dari ruangan nya.
"S-saya permisi." Bungkuknya pada sang Tuan. Sebelum pergi dia menatap teduh pada Viona terlebih dahulu, semoga saja wanita itu baik-baik saja.
"Aku akan baik-baik saja, terimakasih." Seolah tau apa yang Manajer nya khawatirkan Viona menjawab dengan tenang, padahal jantung nya sudah berdetak kencang sekali saat ini.
Klek
Setelah pintu tertutup sempurna keadaan menjadi begitu hening hanya ada suara jam dinding yang memenuhi penjuru ruangan. Viona masih belum mengangkat wajahnya untuk menatap atasannya lagipula pria itu seperti akan langsung mendepak nya jika dia mengangkat wajahnya sekarang juga.
"Viona Calista.....
Gadis yang Dave sebutkan namanya itu semakin menunduk dalam namun hanya sekejap karena kata setelah nya yang pria itu ucapkan berhasil menarik wajah Viona ke arah nya.
"Memiliki seorang putra yang baru berumur dua bulan?" Mata setajam elang Itu menelisik penampilan Viona dari atas kebawah, bibir nya tertarik tipis.
"Anak haram ya... Dave tersenyum miring pria itu kemudian melanjutkan perkataannya yang semakin menusuk "Anak jaman sekarang memang tidak tau tempat." lanjutnya tanpa memandang Viona yang tengah menahan amarahnya.
Dave menatap remeh pada Viona awalnya dia mengira gadis itu hanyalah seorang gadis biasa yang membutuhkan uang untuk biaya sekolahnya namun siapa sangka jika gadis yang bahkan belum genap berusia dua puluh tahun itu mencari uang untuk menghidupi bayinya?
Tidak apa jika pria itu mengolok-olok dirinya ataupun langsung memecatnya sekarang juga sungguh dia tidak masalah sama sekali, tapi jika pria itu sudah berani mengolok putranya dia tidak akan terima begitu saja. tapi sayang nya yang di lakukan Viona hanya menunduk tanpa berani menjawab satu pun perkataan Dave yang menusuk.
Dave membalikkan kertas CV milik Viona ke halaman berikutnya di dalam kertas putih itu tertulis jika wanita di depannya ini pernah bekerja di salah satu perusahaan cabangnya.
"Aku cukup terkejut kau memilih bekerja menjadi pelayan dari pada bekerja di pabrik." jelas upah pekerja pabrik dan pelayan jauh berbeda, apalagi gadis itu bekerja sebagai pekerja paruh waktu tentu saja gajinya hanya beberapa dolar per-bulan.
Seleksi untuk masuk ke dalam perusahaan nya itu tidak mudah, tapi wanita ini malah melepaskan nya begitu saja demi menjadi pelayan.
"Saya tidak punya pilihan lain Tuan." jawab Viona menahan getaran di dalam suaranya.
Pria itu berdecih "Alasan klasik." cibir nya.
James Asisten pribadi Davendra yang sedari tadi berdiri di belakang bos nya merasa kasihan dengan wanita di depannya ini, jika dilihat-lihat Wanita itu tidak seperti ibu yang baru saja melahirkan bayi.
"Tuan tamu anda akan datang lima menit lagi." James mengingatkan Tuannya untuk bersiap menyambut tamu dari keluarga Robinson.
Setidaknya hal ini bisa membantu wanita malang itu terhindar dari kata-kata tajam Tuan nya.
Dave melirik jam tangan yang melingkar indah di pergelangan tangannya tidak ada waktu lagi untuk mengurusi pelayan baru nya ini.
"Baiklah kau masih bisa bekerja di sini, tapi ingat! aku tidak ingin kau mengacaukan restoran ku karena kecerobohan mu itu!" Sentak nya tajam pada Viona.
Mendengar hal itu Viona langsung berterimakasih sebanyak mungkin pada Bos nya, kemudian ia mengangkat wajahnya menatap lekat pada pemilik Restoran tempat nya bekerja itu.
Deg
Raut yang semula penuh rasa bahagia berganti menjadi tatapan yang tidak terbaca.
"Keluar dari sini" Titah Dave agar Viona keluar dari ruangannya. namun sayangnya wanita itu bukan nya keluar dia malah menatap ke arahnya tanpa berkedip.
Dave tersenyum miring, 'Terpesona eh?'
"Ah! maafkan saya!" Viona membungkuk penuh hormat sebelum melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Davendra.
Di luar gadis itu menyenderkan tubuhnya ke daun pintu yang baru saja ia tutup.
"Wajahnya tidak asing, aku pernah melihatnya Dimana ya?" Gumam Viona bingung. Wajah Davendra sangat asing di matanya namun ada rasa familiar saat matanya melihat wajah Bos besar nya itu.
"Viona!" gadis yang tengah melamun itu langsung menoleh ke samping saat manajer datang menghampiri nya.
"Bagaimana?" tanya pria paruh baya itu khawatir.
Viona tersenyum tipis "Tuan masih mengijinkan ku untuk bekerja Pak!" jawabnya antusias dengan begini dia tidak perlu lagi mencari pekerjaan di tempat lain.
Pak Anton bernafas lega "Syukurlah kalau begitu ayo kembali bekerja!" ajaknya pada Viona.
Mereka berdua berjalan meninggalkan ruangan pribadi atasan mereka menuju dapur.
.
.
"Selamat datang Tuan Adam Robinson!" Dave menyambut rekan bisnis nya dengan tangan terbuka lebar. di belakang pria paruh baya itu ada putri dan juga menantu nya yang beberapa waktu lalu melaksanakan resepsi pernikahan di Hotel bintang lima miliknya.
"Terima kasih banyak Tuan Davendra," balas Adam ramah. ia membalas pelukan Dave tidak kalah eratnya.
"Selamat untuk pernikahan mu." Dave beralih menyalami Joan dan Naura.
"Terima kasih." Jawab Joan mewakili istrinya.
"Silahkan masuk" James menggiring tamu-tamu penting Bos nya menuju meja yang sudah mereka siapkan.
Meja bundar dengan diameter yang cukup besar itu penuh terisi dengan keluarga Robinson, bukan hanya membawa anak nya yang barus saja menikah kemarin pria tua itu juga membawa sanak saudaranya yang lain.
Dave tersenyum miring melihat bagaimana hampir seluruh keluarga besar rekan kerjanya ini ikut kemari, padahal sudah jelas dia hanya mengundang putra-putrinya yang baru saja menikah. hal itu dia lakukan karena merasa bersalah tidak bisa hadir ke upacara pernikahan mereka.
"Saya merasa bersalah atas ketidak hadiran saya di upacara pernikahan putra-putri anda." Dave membuka suara, sambil menunggu makanan di hidangkan dia mencoba berbasa-basi dengan tamunya.
Joan tersenyum menanggapi ucapan Dave, lagipula siapa yang berani menyalahkan seorang Davendra Darmawangsa? semua orang di sini juga tau jika pria itu hanya beramah-tamah saja.
"Tidak masalah Tuan, lagipula anda sudah bermurah hati dengan mengijinkan pernikahan kami di Hotel anda," balas Joan.
"Baguslah jika begitu." Jawaban yang membuat orang ketika mendengarnya merasa tidak di hargai, tapi jika itu adalah Dave tidak ada yang bisa melarang pria arogan itu. Saham yang pria itu miliki sanggup menopang perusahaan ayah mertuanya yang sebelumnya hampir Bangkrut.
Semua anggota keluarga Robinson tersenyum pasrah ingin marah pun tidak ada guna nya, sudah beruntung pria itu menjamu mereka di Restoran nya yang sangat mewah ini.
Dave mengisyaratkan James yang sedari tadi berdiri di belakangnya untuk segera menyiapkan makanan.
Tidak lama kemudian para pelayan membawa makanan yang sudah siap keatas meja, hidangan yang di sediakan sungguh menggugah selera, rasa malu yang semula meraka rasakan hilang begitu saja karena melihat betapa menggugah seleranya makanan yang tersedia.
Namun sayang nya ketenangan itu harus berakhir saat seorang pelayan tiba-tiba saja menjatuhkan piring nya hingga menimbulkan bunyi yang nyaring.
Prang!
Sontak semua yang berada di sana langsung mengalihkan pandangan mereka pada sumber suara.
"Viona?" Celetukan Joan terdengar akrab memanggil Viona berhasil membuat Dave yang ada di sana mengerutkan dahinya heran.
Siapa sangka pelayan baru nya itu bisa memiliki hal menarik di hidupnya.
TBC....