
Satu-persatu puzzle terpecahkan bahkan keberadaan wanita yang selama ini Dave cari mungkin saja berkaitan dengan Viona.
"Tuan anda ingin pergi kemana?!" James panik melihat Tuannya pergi begitu saja tanpa memberitahunya. Bosnya itu baru saja datang menemuinya setelah beberapa menit hilang tadi, dia kelimpungan mencari keberadaan Davendra tapi baru saja kembali pria itu ingin kembali pergi?
"Cepat! aku ingin mengecek sesuatu." Mau tidak mau James harus mengikuti ke mana Tuannya akan pergi perjalanan menggunakan mobil memerlukan waktu kurang lebih dua puluh lima menit lamanya untuk sampai ke Bar Blues, entah apa yang Tuannya inginkan sehingga kembali ke bar ini lagi.
"Kemana Pemilik Bar?" tanya Dev langsung pada Bartender, pria yang terlihat masih muda itu mengenal siapa orang yang berada di depannya ini. karena itu tanpa mau mencari masalah dia langsung memberitahu keberadaan pemilik Bar pada Davendra.
"Tuan ada di ruangannya," Jawab pria bartender itu gugup sekali saja mencari masalah pada pria di depannya ini hidupnya tidak akan pernah tenang.
"Panggil dia sekarang juga." Davendra meminta James memanggil pemilik bar untuk segera menghadapnya sekarang juga.
Sekretaris pribadi itu hanya menuruti perkataan Tuannya tanpa berlama-lama dia pergi dengan beberapa orang pengawal menuju ruangan yang bartender tadi tunjukkan. Tidak lama kemudian James datang bersama pria pemilik Bar Blues yang sebelumnya pernah mereka Temui.
"A-ada apa Tuan?" Seingatnya urusan mereka sudah berakhir lalu kenapa pria ini mencarinya kembali? keringat dingin mengucur dari pelipisnya berhadapan dengan penguasa seperti Davendra memang sangat tidak bagus.
"CCTV, aku ingin melihat CCTV di tempat ini" rasa penasarannya sudah tidak terbendung lagi. seperti perkataan Davendra mereka mengecek kamera pengawas yang pria itu minta.
"Kau ingat kapan wanita yang mencari Ari itu datang?" tanyanya pada pemilik bar
Pria tambun itu berpikir sejenak mengingat kembali kapan terakhir kali wanita itu datang, namun sayangnya tidak sebesar tubuhnya yang gempal otaknya tidak sebesar itu untuk mengingat waktu wanita itu datang.
Dave mengangguk memahami kapasitas otak yang di miliki pemilik bar tersebut
"Kalau begitu cari sampai ketemu."
Pemilik Bar tertegun siapa yang Dave perintahkan?
"Kau! Cari sampai ketemu!" Davendra menunjuk pemilik bar dengan tegas.
"Baik Tuan!"
Selagi pria tambun itu menelusuri CCTV Davendra duduk dengan santai di sofa yang ada di ruang keamanan, kesabarannya sudah sangat tipis jika pria tambun itu tidak juga menemukan nya entah apa yang bisa dia lakukan.
Hampir satu jam mereka menelusuri seluruh kamera CCTV akhirnya pemilik bar menjerit senang saat menemukan apa yang mereka cari.
"Ini dia tuan!"
Davendra mendekat, layar Hitam-Putih itu menampilkan seorang wanita dengan pakaian sangat tertutup datang lalu bertanya pada bartender.
"Perjelas gambarnya."
"Baik"
Bingo!
Davendra dan juga James mengenali siapa wanita yang ada di rekaman itu.
Siapa yang menyangka jika orang yang mereka cari selama ini berada di sekitar mereka? walaupun tidak langsung bertemu dengan wanita yang selama ini Dave cari setidaknya pria itu bisa bertemu dengan kenalannya.
Siapa yang menyangka jika Viona yang notabenenya adalah karyawan baru di restoran miliknya ternyata memiliki hubungan dengan Wanita bernama Ari yang selama ini dia cari.
"Pantas saja kita tidak pernah menemukan keberadaan Ari, ternyata wanita itu menggunakan nama samaran." Dave berdecih dalam hati bagaimana bisa pria sepertinya bisa di tipu oleh wanita biasa?
James hanya mengangguk tidak berani menginterupsi perkataan Tuannya. Dia juga terkejut dengan kebenaran yang baru saja mereka lihat.
"Kita pergi."
Davendra dan gerombolannya pergi meninggalkan Bar setelah mendapatkan apa yang mereka cari, pemilik bar bisa bernafas lega karena masalah dengan Davendra akhirnya beres.
"Syukurlah, aku berharap tidak akan pernah bertemu dengan pria itu lagi." Ucapnya merasa lega.
.
.
Ari atau lebih di kenal dengan Aruna sahabat baik Viona Calista seorang pelayan yang bekerja di restorannya, wanita itu sudah tiada.
"Bagaimana bisa kita se terlambat ini, James." Davendra memejamkan matanya yang terasa berat.
Aruna sebagai wanita yang hidup di panti asuhan sedari kecil pasti sangat kesulitan mengandung di usia mudanya, dan karena kurangnya perawatan yang memadai kini wanita itu sudah tenang di alam yang berbeda.
Sedangkan Viona? Gadis yang tidak pernah dianggap oleh orangtuanya bahkan sampai tidak bisa melanjutkan pendidikan karena harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, bagaimana bisa dia juga membantu kehidupan orang lain yang bahkan tidak lebih menyedihkan dari dirinya?
Apa yang wanita itu dapat? pengusiran. Karena merawat bayi yang bukan darah dagingnya dia sampai harus terusir dari keluarganya sendiri.
James ikut merasakan kesedihan yang Tuannya rasakan, lebih dari satu tahun lamanya mereka mencari keberadaan Aruna karena takut wanita itu hamil dan tidak bisa merawat bayinya. Siapa yang menyangka jika wanita itu benar-benar hamil dan harus kehilangan nyawanya?
Dave bangun dari kursinya James yang melihat hal itu tentu saja panik, kemana tuannya akan pergi?
"Tuan?"
"Kita ke rumah sakit."
"Untuk apa? Sebaiknya anda istirahat dulu," kondisi Dave tentu saja tidak baik-baik saja, bahaya jika sampai pria itu jatuh sakit nantinya.
Davendra tidak menurut pria itu mengabaikan James dan langsung pergi begitu saja.
.
James tidak mengerti alasan kepergian tuannya buru-buru tadi kerumah sakit, tapi saat sampai di sana akhirnya dia mengerti apa yang Tuannya inginkan.
Mereka berdiri di depan pintu ruangan tempat seorang balita laki-laki di rawat, dari luar mereka hanya mengawasi lewat kaca tembus pandang.
Klek
Davendra masuk ke dalam di ikuti oleh James.
Betapa terkejutnya pria berkacamata itu saat melihat bayi yang terbaring memiliki wajah yang sama seperti Tuannya saat kecil dulu.
Di dalam tidak ada siapa pun hanya mereka berdua saja, tapi dari dalam kamar mandi terdengar suara gemericik air sepertinya Viona ada di dalam sana.
"Kau lihat, dia putraku." Dave mengusap wajah pucat bayi yang tengah terpejam itu. Ada rasa panas yang dia rasakan ketika menyentuhnya.
"Dia sangat mirip dengan anda " James tidak berbohong, dulu saat hari ulang tahun tuannya. Nyonya Darmawangsa pernah menunjukkan foto masa kecil Dave padanya, dan dia ingat betul wajah itu sama persis dengan bayi di depannya ini.
"Aku harus mengambilnya kembali." sudah terlalu lama dia membiarkan orang asing merawat anaknya, sekarang dia bisa merawat bayi ini sendiri.
James menggeleng
"Tidak bisa Tuan, anda tidak boleh mengambil anak dari ibunya begitu saja."
"Apa maksudmu?"
"Viona adalah ibunya sekarang, anda tidak bisa membawanya begitu saja." James sangat tau jika Dave sangat menginginkan Anak ini, tapi tetap saja merebutnya dari sang ibu itu tidak baik.
"Apa yang harus aku lakukan." Keinginannya membawa bayi ini begitu besar.
"Anda harus menunggu, setidaknya sampai usia bayi ini lebih besar dari sekarang." Bukan apa-apa, tapi rasanya tidak benar jika harus memisahkan ibu dari anak ini untuk kedua kalinya.
Klek
Viona mengusap rambutnya yang basah karena habis keramas, saat keluar dari kamar mandi dia tidak melihat siapa pun di sana.
"Aku mendengar orang berbicara tadi." Gumamnya tidak yakin, dia kira ibu panti datang menjenguk tapi ternyata tidak ada orang.
TBC......