Not My Baby

Not My Baby
34. Pertemuan keluarga



Davendra menginjakkan kakinya di perusahaan dengan wajah berseri-seri siapa saja yang melihat tentu sadar jika Direktur tengah berbahagia di masa pengantin barunya. Jarang-jarang pria kaku seperti Davendra menampilkan ekspresi yang bersahabat seperti ini, sudah pasti nyonya muda Darmawangsa Lah yang menjadi pelaku perubahan ekspresi seorang Davendra.


"Apa ini?" Dave memicingkan matanya melihat berkas-berkas berisi resume beberapa orang di atas mejanya.


"Daftar anak-anak yang ingin mengajukan program magang bulan ini tuan," jelas James. pria itu kemudian menunjukkan berkas pengajuan permohonan magang dari pihak Universitas.


"Kau menyuruhku ke kantor hanya untuk mengurus ini?"


Seketika mood berbunga Davendra  menghilang seketika setelah tau apa hal penting yang ingin asistennya itu bicarakan.


"HRD tidak berani memberikan ijin tanpa persetujuan anda." James mengusap keringat dingin yang keluar akibat tekanan aura dari Davendra.


Pria itu menatap tajam asistennya, masa-masa cutinya terganggu karena hal sepele seperti ini. Memang biasanya dalam setahun perusahaan yang ia pimpin ini menerima permintaan magang untuk lima orang terpilih, tapi tetap saja untuk urusan memilih peserta itu bukan tanggung jawabnya.


"Aku tidak peduli Jim! Lakukan saja seperti biasanya!" Davendra bangun dari kursinya, pria itu melenggang pergi meninggalkan James yang terdiam sambil mengelus dada.


"Ya Tuhan," gumam pria berkacamata itu lelah. Bagaimana bisa dia memiliki kekasih jika dirinya hampir tidak memiliki waktu luang seperti sekarang?


James duduk lesu di sofa ruang kerja Davendra, andai saja dia memiliki kekasih yang bekerja di satu perusahaan dengannya maka dia akan dengan semangat menjalani pekerjaannya dalam tekanan Davendra.


.


.


Semua makanan sudah tersaji di atas meja makan, meja yang panjangnya bahkan muat untuk lima belas bahkan sampai dua puluh orang itu di penuhi dengan berbagai macam makanan yang Viona dan Winata siapkan sejak pagi, tentu saja di bantu oleh Ny. Gee dan beberapa pelayan lainnya.


Viona dan mertuanya menunggu di terasa rumah untuk menyambut kedatangan para kerabat yang akan datang beberapa menit lagi, awalannya Viona menyuruh ibu mertuanya itu untuk masuk dan biarkan dirinya saja yang menyambut tamu. Tapi sayangnya wanita paruh baya itu menolak dan memaksa menemani Viona di sini.


Senyum mereka terbentuk saat Mobil yang di gunakan untuk menjemput tamu memasuki area rumah utama.


Tak lama kemudian keluarlah Ibu panti dan juga beberapa orang anak asuhnya yang Viona kenal.


"Ibu!" Viona berlari menuju Maria di depan sana.


Gadis itu memeluk erat tubuh ibu panti seolah-olah mereka telah lama berpisah dan baru sekarang berjumpa kembali, sama halnya dengan Viona Ibu panti bahkan sampai meneteskan air matanya ketika melihat putrinya tumbuh sehat sekarang.


"Bagaimana kabar mu nak," ucap Maria di sela-sela pelukan mereka. Viona melepaskan pelukannya kemudian menatap ibu panti berkaca-kaca.


"Sangat baik berkata doa ibu dan yang lainnya."


"Selamat datang Maria." Winata menggendong Arka mendekati Ibu panti dan menantunya.


"Terima kasih sudah mengundang saya nyonya besar." Maria menundukkan tubuhnya memberikan hormat pada donatur tetap yang selama ini sudah menyokong panti asuhan miliknya.


"Tidak masalah, kau adalah ibu dari menantu ku. sudah pasti aku mengundang mu untuk pertemuan ini." Wianta tersenyum ramah, sangat berbeda dengan Winata yang angkuh selama Maria mengenal wanita ini.


"Kakak," tarikan tarikan kecil yang Viona rasakan membuat gadis itu menundukkan kepalanya kebawah.


"Oh Astaga! Bagaimana bisa aku lupa ada kalian di sini?"


Dua anak perempuan dan satu anak laki-laki yang datang bersama dengan ibu panti sontak melebarkan senyum mereka.


Miya, Lyla dan juga Ben.


Selain Aruna, ada ke-tiga bocah itu yang menemani hari-hari Viona di panti.


Viona memeluk ketiganya dengan perasaan begitu bahagia, dulu mereka berpisah tanpa pamit pada anak-anak yang lain. Dan betapa bersyukurnya Viona bisa kembali melihat mereka lagi sekarang.


"Kenapa hanya kalian bertiga? Yang lain bagaimana?" Viona mendongakkan kepalanya menatap ibu panti penuh tanya.


"Tidak bisa nak, sekarang waktunya anak-anak sekolah. Sedangkan mereka bertiga ini memaksa ingin ikut dan terpaksa ijin tidak masuk ke sekolah."


Istri Dave itu semakin merasa bersalah dengan mereka, seharusnya bukan anak-anak ini yang menemuinya tapi dirinya lah yang harusnya menjenguk mereka semua.


"Maafkan kakak ya?"


Ketiganya menggeleng bersama, "bukan salah mu, ini adalah keinginan kami sendiri." Miya gadis kecil berusia 12 tahun itu menjawab dengan mantap mewakili kedua adiknya.


"Mereka benar nak, jangan menyalahkan dirimu sendiri." Ucap ibu panti.


"Sudah-sudah nanti lagi bicaranya, sebaiknya kita masuk dulu," ajak Winata pada keluarga yang tengah melepas rindu tersebut


Mereka masuk ke dalam rumah, sudah pasti kemewahan dari kediaman Darmawangsa menjadi sebuah pemandangan yang begitu menakjubkan bagi anak-anak panti, tidak hentinya mereka berdecak kagum melihat kemewahan yang tersaji di depan mata.


"Ayo duduk,"


"Maaf karena sarapan belum bisa di mulai, kami sedang menunggu kerabat lain datang."


Maria mengangguk tidak masalah menurutnya, matanya tidak lepas dari Arka yang sejak tadi tenang dalam dekapan Winata.


Viona tersenyum dia mengusap rambut lebat Arka dengan penuh kasih sayang.


"Tentu saja, kau tidak akan tau apa yang harus anak ini lewati demi menyatukan ayah dan ibunya."


"Benarkah?" Maria tertarik, sebenarnya dia belum mengerti bagaimana bisa Davendra dan Viona bisa sampai menjadi suami istri sekarang ini.


"Setelah sarapan aku akan menceritakan semuanya pada mu."


"Kakak ipar!"


Mereka yang ada di sana sontak menoleh kearah sumber suara, di sana sudah ada seorang wanita seumuran Winata dan juga pria yang sepertinya suami wanita itu.


"Mey, kau sudah datang?" Winata menerima pelukan yang adik iparnya berikan.


"Halo kakak ipar." Sapa suami dari Mey, Haris.


"Duduklah."


Ada tatapan tidak suka saat melihat keberadaan orang lain di meja makan bersama mereka, dari penampilan yang terlihat kuno sudah pasti itu adalah keluarga dari Menantu iparnya.


"Ohoho, kalian datang cepat sekali ya?" Mey tersenyum sinis, orang-orang itu pasti begitu kelaparan sampai-sampai datang begitu cepat pikirnya.


"Kalian yang terlambat kenapa mengomentari orang lain?" Sudah khatam dengan sifat adik iparnya yang seperti itu, karena itulah Winata jarang sekali mengadakan pertemuan keluarga seperti ini.


Wanita paruh baya itu terdiam membisu, tidak ingin mencari masalah dengan kakak iparnya.


Tidak berapa lama keluarga selanjutnya datang, yang paling mengejutkan adalah kedatangan keluarga besar Viona.


Viona tidak tau jika keluarganya juga di undang untuk acara ini.


Acara sarapan pagi pun di mulai dengan khidmat, tentu saja beberapa orang terganggu dengan cara makan anak-anak panti yang belum mengerti mengenai tata krama di meja makan.


"Beginilah jika hidup tanpa bimbingan orang tua."


"Yah, satu orang mana cukup untuk mengurus anak-anak kan?"


Viona melirik ibu panti dengan tatapan sedih, wanita itu pasti merasa tidak nyaman.


"Tentu saja lebih baik daripada tidak mampu mengurus satu anak saja kan Mey?"


"Hm?"


Winata mendengus, bisa-bisanya adik iparnya itu mengkritik mengenai tata cara mengurus anak yang benar. Padahal putranya sendiri jadi berandalan di luar sana.


"Terima kasih untuk makanannya."


Akhirnya sesi sarapan penuh ketegangan itu selesai.


Viona membantu para pelayan membersihkan piring-piring kotor untuk di bawa ke dapur.


"Nyonya dia putri bungsu mu?"


Lalita mengangguk kemudian dengan bangga mengenalkan Bianca pada adik ipar besannya itu.


"Salam kenal bibi." Sapa Bianca


"Dia terlihat lebih baik daripada menantu kakak ipar. Jika aku menjadi Dave sudah pasti aku akan menjadikannya istriku."


Senyum cerah terukir di wajah Bianca, begitupun sang ibu yang mendengar perkataan adik ipar Winata.


Winata tidak berniat menanggapi, lagipula adiknya itu hanya berandai-andai. Toh yang menjadi istri putranya adalah Viona.


"Itu menurut pendapat bibi kan?" Davendra baru saja tiba di rumah setelah acara sarapan bersama berkahir.


Pria itu menatap dingin adik ipar ibunya yang dengan berani membandingkan istrinya dengan wanita lain.


Tanpa aba-aba pria itu berjalan mendekati Viona yang baru saja keluar dari dapur.


Cup!


"Dave!"


Viona mendelik ketika suaminya menciumnya di hadapan semua orang. Dia yang tidak tau apa-apa tentu saja terkejut dengan perlakuan Dave yang terkesan tiba-tiba.


"Honey aku pulang."


TBC.....