
Tidak jauh berbeda dengan kondisi Arka di rumah ayahnya, di sini Viona juga sama menderitanya dengan putranya itu. Walaupun tidak ada ikatan darah dari keduanya yang terhubung mereka juga bisa merasakan perasaan antara seorang ibu dan anak yang terpisah oleh jarak.
Kontrakan yang sempit itu semakin buruk saat pemilik di dalamnya tidak lagi turun tangan membersihkan isi dalamnya. Lantai di biarkan berdebu, baju-baju kotor tergeletak di lantai dan juga cucian piring yang menumpuk, karena terlalu lama di biarkan piring-piring itu bahkan berjamur, ada juga sisa-sisa bungkusan mie instan berhamburan di lantai begitu saja.
Viona terbaring lemas di atas kasur lipatnya matanya tidak bisa terpejam karena terlalu banyak tidur, bagaimana bisa tidur jika selama seminggu ini pekerjaannya hanya berbaring saja? Makan pun dia hanya satu kali itupun hanya mie instan.
Hari demi hari waktu yang ia lewati terasa sangat menyakitkan, membayangkan hidupnya tidak bisa melihat Arka lagi membuat keinginan untuk hidupnya semakin meredup.
Ibu dari Arka itu bangun dari posisinya ketika suara ketukan pintu terdengar dari luar, suaranya seperti di pintu kamarnya tapi siapa yang datang? Tidak ingin peduli Viona kembali merebahkan tubuhnya di kasur, tidak menyerah sepertinya karena suara ketukan pintu itu semakin keras mengganggu kupingnya.
"Aku tidak ingat punya hutang ... uang sewa kontrakan juga sudah aku bayar lunas kemarin, lalu siapa yang datang?" Gadis itu tidak langsung bangun dari tidurnya, karena dia perlu memikirkan siapa orang di balik pintu itu.
Dug! Dug!
"Astaga!" Viona langsung beranjak begitu suara ketukan pintunya semakin kuat, bisa di pastikan pintunya kana roboh jika dia tidak cepat-cepat membuka pintunya.
Klek!
Tubuhnya membeku begitu tau siapa yang datang bertamu ke kontrakannya, dua orang yang menjadi alasan Viona kehilangan tujuan hidupnya berdiri di hadapannya.
"K-kalian?"
James tersenyum lembut berbeda dengan Dave yang sejak tadi tidak berhenti menatap tubuh kurus Viona yang tidak terawat.
"Lama tidak bertemu Viona," James menyapa dengan ramah wanita di depannya.
Raut wajah Viona berubah, ekspresinya mengeras saat sadar siapa yang mengganggu hari tenangnya.
"Kalian! Kenapa kalian kemari!" Tubuh kurusnya berusaha mendorong James dan Dave menjauh dari depan kontrakan nya. Karena tidak siapa dengan serangan Viona yang tiba-tiba keduanya terdorong mundur, untung saja mereka bisa menahan tubuh agar tidak terjengkang kebelakang.
"Viona tenanglah, ku mohon," Dave merengsek mendekat tapi gadis itu berjalan mundur dan bersiap masuk ke dalam kontrakan.
"Tunggu!"
Untung saja Dave dengan cepat menahan pintu kayu itu agar tidak tertutup saat Viona berusaha menutupnya, tidak ingin kehilangan kesempatan Dave langsung menerobos masuk ke dalam.
Melihat hal itu Viona mendelik kesal.
"Sialan! Keluar dari kamarku!" Viona memukul tubuh kekar Dave dengan tangan kurusnya yang jelas saja tidak berasa apa pun untuk pria itu, dorongan kasar gadis itu berikan agar Dave keluar dari dalam kamarnya tapi sayangnya pria itu tidak bergerak sedikit pun.
Nafasnya tidak beraturan, tubuhnya yang selama seminggu tidak di isi oleh makanan apa pun selain mie instan tidak kuat melawan tubuh besar mantan atasannya itu.
"Sudah?"
Viona membuang muka enggan bertatapan dengan pria brengsek di depannya ini.
Dave menghela nafas ia maju mendekat pada Viona, saat gadis itu akan menghindar Dave langsung menahan tubuh kecilnya dengan cengkeraman lembut di bahu kurus itu.
"Arka merindukan mu." Dave bisa merasakan tubuh Viona menegang saat dirinya menyelesaikan ucapan barusan, tubuh Viona bereaksi saat dia menyebutkan nama Arka.
Mata gadis itu mulai berkaca-kaca, tapi dia berusaha menahan air mata yang sebentar lagi akan keluar dari bola matanya.
"Kau tidak merindukannya?" Viona mengangkat wajahnya ia menatap Dave marah dengan air mata yang siap meluncur kapan saja.
"Anda masih bertanya?"
Ok sepertinya Dave kembali salah bicara, seharusnya dia tidak perlu bertanya lagi ketika melihat betapa frustasinya wajah Viona tanpa Arka.
"Kembalilah, kau bisa kembali merawat Arka seperti sebelumnya," ujar Dave tulus.
Viona terkekeh, apa katanya? Kembali? Lalu setelah Arka tidak perlu bantuannya lagi pria ini akan kembali mengusirnya seperti sampah kan?
"Aku merindukan Arka, tapi bukan berarti aku akan kembali ke rumah itu hanya karena merindukannya Tuan." Viona tersenyum getir.
Wanita itulah yang nantinya akan menjadi ibu dari putranya .
"Kau tidak akan pergi ke mana-mana,"
"Mungkin sekarang anda bisa berbicara seperti itu, di masa depan Arka akan memiliki ibu sambung untuknya, dan saat itu saya tidak akan di perlukan lagi." Viona menundukkan kepalanya, tidak bisa di bayangkan jika Arka nanti akan memanggil orang lain dengan sebutan ibu.
Viona merasa iri ...
"Tidak ada istri," Dave menyangkal perkataan Viona yang menyinggung istri di masa depan.
Viona mendengus, omongan pria yang tidak bisa di percaya. Mana bisa seorang lelaki hidup tanpa wanita di hidupnya? Termasuk Dave, pria ini suka bermain wanita terbukti dengan kehadiran Arka di dunia ini. Bagaimana mungkin pria di depannya ini bisa hidup tanpa seorang istri?
"Omong kosong." Celuk Viona tanpa sadar.
"Kau tidak percaya?"
Gadis itu menggeleng, "Anda perlu istri untuk mengurus anda, termasuk mengurus Arka nantinya."
Dave terdiam, pria itu tidak bersuara beberapa detik sebelum melanjutkan ucapannya, "Kalau begitu, kau saja yang menjadi istriku."
Viona mendongak menatap Dave memicing
"Apa?"
"Mau menjadi istriku?"
Hah?!
Viona mendorong tubuh Dave kencang berharap pria itu mundur barang selangkah darinya, tapi ternyata usahanya sia-sia tenaganya tidak cukup kuat untuk mendorong Dave mundur ke belakang.
"Menjauh! Dasar gila!"
"Hey tenanglah, aku serius dengan ucapanku," Dave mencekal kedua tangan kecil Viona agar berhenti memukul tubuhnya, dengan tangan sekecil itu pukulan Viona sama sekali tidak berasa.
"Kau bisa menjadi ibu sah Arka, dan aku akan menjadi ayahnya, sesimpel itu kan?"
Kepala Viona yang sebelumnya sudah terasa pening semakin sakit saat mendengar omong kosong yang keluar dari mulut pria ini. Tiba-tiba saja pandangan Viona mengabur tubuhnya limbung ke depan untung saja ada Dave yang menahan agar tubuhnya tidak terjatuh ke lantai.
"Viona?" Dave menepuk pipi tirus calon istrinya pelan, tapi tidak ada tanda-tanda gadis itu akan bangun.
"James!" Panggilnya
Brak!
"Ya Tuan!" Pria yang sedari tadi menunggu di luar itu menerobos masuk ke dalam saat Bos nya berteriak memanggil namanya.
"Siapkan Mobil sekarang!"
"Apa yang terjadi pada Viona?" James baru akan mendekat, tapi Dave malah melototi nya dengan tajam alhasil pria berkaca mata itu tidak jadi mendekat ke arah mereka berdua.
"B-baik!"
Dave sangat panik, bagaimana bisa Viona pingsan saat dirinya melamar gadis itu? Jika di luar sana gadis-gadis akan berteriak kegirangan saat di lamar maka berbeda dengan Viona. Gadis itu malah pingsan hanya karena
lamaran darinya.
"Apa lamaranku terlalu mengerikan sampai dia pingsan seperti ini?"
TBC ...