Not My Baby

Not My Baby
11. Demam



Siang ini Viona kembali bekerja seperti jadwal biasanya, setelah membersihkan kontrakan gadis yang sekarang berusia dua puluh tahun itu pergi menuju tempat ibu panti untuk menitipkan Arka di sana. Namun sejak pagi dia sudah merasa jika Arka rewel entah apa penyebabnya ada rasa tidak tega meninggalkan putranya begitu saja tapi tidak ada yang bisa ia lakukan.


"Ibu hubungi aku jika terjadi sesuatu pada Arka ya?" Kekhawatiran nya begitu besar saat ini jika terjadi sesuatu pada Arka dia tidak sanggup membayangkannya.


"Tidak apa-apa nak, Arka baik-baik saja," ujar ibu panti menenangkan Viona


"Semoga saja." Viona mengusap lembut wajah Arka bayinya tidak seceria biasanya, sejak tadi Arka tertidur dan bergerak gelisah tidak seperti Arka yang aktif seperti biasanya.


"Cepat berangkat nak."


"Tolong jaga Arka bu."


Ibu panti melambaikan tangannya melepas kepergian Viona dari gerbang panti.


.


.


"Hey ada apa?" Arin sejak tadi memperhatikan bagaimana Viona terus melamun sambil bekerja wanita itu juga terlihat tidak bersemangat.


"Tidak ada." jawab Viona tersenyum canggung, pikirannya masih tertuju pada Arka di rumah sana apakah putranya itu baik-baik saja?


Arin hanya mengangguk tidak ingin bertanya lagi. Restoran mulai ramai setelah jam pulang pukul empat sore tidak hanya para pekerja kantoran kali ini anak-anak sekolah juga datang ke restoran mereka.


"Aku heran bagaimana bocah-bocah itu bisa membayar makanan mereka?" Viona dan Arin yang mendengar perkataan Rere sontak mengangguk setuju. restoran ini termasuk ke dalam jajaran restoran ternama biaya untuk makan di sini paling murah menghabiskan satu juta untuk sekali makan dari mana anak-anak itu mendapatkan uang?


"Mungkin dari uang saku mereka?" jawaban logis Viona berikan


"Atau hasil jual diri."


Plak!


"Argh!"


"Jaga bicara mu! bagaimana jika pelanggan mendengar?" Kesialan Arin saat gadis itu berbicara ternyata pak Anton berada di belakangnya.


"Manajer! aku akan mengadukan mu atas kekerasan dalam dunia kerja!"


Mereka tertawa kemudian pria paruh baya itu menatap Viona, karena Arin dia sampai lupa jika ada perlu dengan karyawan barunya itu.


"Oiya, Viona ponsel mu berdering tadi sepertinya ada telepon masuk," ujarnya pada Viona


"Terima kasih pak, saya akan kembali dalam lima menit."


Viona berjalan keluar melewati pintu belakang jika mengangkat telepon di dalam rasanya sangat tidak enak takut mengganggu yang lainnya.


Perasaannya tidak enak saat melihat Ibu panti lah yang meneleponnya, apa putranya baik-baik saja?


Menekan panggilan Viona menunggu beberapa detik sampai akhirnya sambungannya terhubung


"Hallo? Ibu apa semua baik-baik saja?"


"....."


"Apa! baik ibu tunggu di sana aku akan segera pergi!"


.


Viona tidak bisa duduk dengan tenang saat ini dia berada di klinik mengantar Arka ber-obat.Tadi ibu panti meneleponnya dan mengatakan jika Arka demam bayi itu tidak berhenti merengek, karena khawatir ibu panti menyuruh Viona mengantar putranya ke rumah sakit tapi sayangnya uang sakunya hanya cukup untuk membawa Arka ke klinik 24 jam.


"Putra anda mengalami gejala demam berdarah nyonya, saya akan membuat surat rujukan untuk putra anda ke rumah sakit untuk perawatan yang lebih intensif," ucap Dokter yang memeriksa Arka.


Viona menoleh pada Arka yang sudah tenang karena di berikan obat penenang oleh Dokter, putranya itu mengalami demam berdarah bagaimana bisa dia tidak tau akan hal itu?


"Terima kasih Dokter."


"Jangan khawatir putra anda akan baik-baik saja setelah mendapatkan perawatan di rumah sakit."


Anggukan samar Viona berikan sebagai respon, dia tidak memiliki uang banyak untuk membiayai rumah sakit Arka salah satu cara dia harus terpaksa menggunakan uang yang Aruna berikan padanya, hanya itu jalan satu-satunya.


"Nak?"


Ibu panti menarik Viona duduk di kursi tunggu, wajah wanita muda itu terlihat sangat pucat saat ini. "Semua baik-baik saja kan?"


Viona menggeleng tidak ada yang baik-baik saja, sebagai seorang ibu dia merasa gagal karena Arka bisa sakit sampai seperti ini.


"Arka harus di rujuk ke rumah sakit bu."


Ibu panti menutup mulutnya terkejut, berarti sakit Arka lumayan serius


.


.


Malamnya Arka langsung di rujuk ke rumah sakit pusat untuk mendapatkan perawatan intensif, di perjalanan demam bayi laki-laki itu lumayan tinggi sampai membuatnya kejang-kejang dalam perjalanan rumah sakit.


Viona sangat panik di tambah lagi demam sang putra tidak juga turun, dia pergi seorang diri tanpa ibu panti karena wanita paruh baya itu khawatir meninggalkan panti begitu lama.


Untungnya setelah sampai di rumah sakit Arka langsung di tangani demam yang di alami bayi itu mulai turun walaupun masih tinggi.


Klek


Viona memandang sendu Arka yang sudah tenang dalam tidurnya, Dokter mengatakan bayi itu perlu di rawat setidaknya 5-10 hari untuk memantau kondisinya. sudah di pastikan biaya rawat inapnya terus berjalan dan semoga saja uang yang Aruna berikan cukup.


"Sayang maafkan mama ya? seharusnya mama tidak meninggalkan mu bekerja tadi." Wajah Arka masih terasa panas saat Viona menyentuhnya. Dokter mengatakan demamnya perlahan akan turun setelah infusnya habis nanti.


"Ukh!"


Viona bangun dari tempatnya duduk wanita itu merasa tidak nyaman berada di rumah sakit terlalu lama seperti ini, semuanya mengingatkan kembali tentang bagaimana Aruna kehilangan nyawanya di rumah sakit ini.


Keluar sebentar mungkin tidak masalah, toh Arka masih tidur dia hanya perlu kembali saat infusnya habis nanti.


Kakinya membawa Viona menuju kursi tunggu tepat di depan ruang inap Arka, awalnya semua baik-baik saja sampai suara seorang pria menyapa dirinya.


"Viona?"


Merasa terpanggil wajahnya yang semula tertunduk itu mendongak untuk melihat siapa yang memanggil namanya


"T-tuan!"


Viona berdiri dari kursinya terkejut dengan kehadiran Bosnya di rumah sakit.


"Siapa yang sakit?" tanya pria itu heran dengan keberadaan pegawainya.


Wanita itu gugup bagaimana bisa bertemu dengan Davendra di sini?


"Arka tuan." jawabnya lirih


Dave menaikkan alisnya nama yang terdengar tidak asing


"Arka?"


Viona lupa jika Davendra tentu saja tidak mengenal putranya, wanita itu tersenyum malu sebelum menjelaskan kembali siapa itu Arka.


"Putra saya," jawabnya


Ah!


Davendra melirik sekilas pintu ruangan Arka yang tertutup sebelum kemudian kembali memusatkan perhatiannya pada Viona.


"Boleh aku melihatnya?"


"T-tapi.." Viona ingin menolak tapi takut jika sampai pria itu tersinggung dan malah memecatnya nanti.


"Silahkan."


Viona membukakan pintu kamar Arka agar Dave bisa masuk ke dalam


Davendra tertegun melihat bayi yang tengah tidur pulas di ranjang, hanya perasaannya saja atau bayi itu mirip sekali dengan wajah kecilnya dulu?


"Berapa umurnya?"


Bibir Viona kelu apakah dia wajib menjawab pertanyaan bosnya ini?


"D-dua puluh minggu" jawab Viona terbata


Davendra tidak tau harus bereaksi apa yang pasti ada hal yang harus ia lakukan demi menghilangkan rasa tidak wajar di hatinya.


"Semoga putramu lekas sembuh."


Pria itu langsung pergi begitu saja tepat setelah mendoakan Arka cepat sembuh, Viona merasa ada yang aneh dengan perilaku Davendra saat melihat Arka tadi.


"Sepertinya dia menyadari jika Arka sedikit mirip dengannya," gumam Viona mulai merasa tidak nyaman. Apa yang akan terjadi jika Arka benar-benar putra dari Davendra?


Tapi bisa saja kan apa yang dia pikirkan tidak benar? Lagipula jika Dave adalah ayah Arka, kenapa tidak dari dulu pria itu mencari putra nya?


TBC...