Not My Baby

Not My Baby
23. Sejak kapan Arka menjadi putramu?



Hari ini adalah waktu yang sudah semua orang tunggu-tunggu, Pewaris Darmawangsa yang akan melanjutkan perusahaan ayahnya di masa depan kini berusia genap satu tahun. Seluruh rumah sibuk dengan persiapan pesta ulang tahun Arka nanti malam.


Waktu berjalan dengan sangat cepat, bayi yang dulu masih menyusahkan ibunya di dalam kandungan kini sudah tumbuh semakin dewasa.


Pesta yang di adakan di kediaman putra tunggal Darmawangsa sudah siap hampir 90%. Hanya tinggal menunggu para tamu yang akan datang untuk memberikan ucapan selamat pada balita tampan Arka.


"Cucu nenek sangat senang ya?" Winata yang datang Dua hari sebelum pesta ulang tahun cucunya itu tidak henti-hentinya menggendong cucunya ke sana-kemari.


Viona yang juga mengikuti ke mana pun Winata pergi dengan Arka yang berada di gendongannya.


"Nyonya, sudah waktunya Arka mandi." Tidak ada pilihan lagi selain menyudahi kebersamaan cucu dan nenek itu, karena jika di biarkan bisa-bisa Arka tidak mandi di pesta ulang tahunya sendiri.


"Benar juga, aku sampai lupa waktu karena bermain dengan cucuku." Winata tertawa begitu pun dengan Viona yang juga ikut tertawa melihat ekspresi ibu dari Davendra itu.


Winata bangun dari tempatnya duduk kemudian menyerahkan Arka pada Viona, "Mandikan dia, buat cucuku terlihat sangat taman malam ini," pesannya ada Viona.


"Tenang saja, Arka adalah pemeran utamanya malam ini." Balas gadis itu sedikit geli dengan ucapannya barusan.


"Ngomong-ngomong di mana Dave?" Viona menggelengkan kepalanya, tidak tau keberadaan pria itu sejak pagi.


Winata mendengus, "dasar anak itu!"


Karena tidak ingin ikut terkena omelan Winata, Viona memilih lekas pergi dari sana. Lebih baik dia memandikan Arka dan mendandani putranya itu agar semakin tampan nantinya.


.


.


Acara berjalan dengan sempurna persiapan yang mereka semua lakukan sejak awal tidak mengecewakan, terbukti dengan para tamu yang terlihat sangat menikmati pesta yang di buat untuk anak-anak. Acara tiup lilin sudah berakhir sejak lima menit yang lalu, dan Viona hanya bisa bersyukur menyaksikan kebahagiaan putranya dari bawah podium.


Tamu undangan yang hadir adalah para kolega yang bekerja sama dengan Darmawangsa Group, dan siapa yang menyangka kehadiran orang-orang tidak terduga membuat pesta yang tadinya aman damai berubah menjadi mencengkam.


"Selain menjadi pengasuh dari anak teman mu, ternyata kau juga merangka sebagai pelayan?"


Malam itu sangat ramai para pelayan kewalahan melayani para tamu undangan, karena tidak ada kesibukan lain Viona turut membantu yang lainnya mengambil gelas, dan piring kotor yang ada di meja. Tapi siapa yang menyangka jika kegiatannya itu menarik seseorang datang menghampirinya?


"Apa yang kau bicarakan?" Viona menatap malas orang yang ternyata adalah saudara tirinya itu. Naura tiba-tiba saja datang dan berbicara kasar padanya.


Senyum meremehkan tersungging di bibir merah darah saudara tiri Viona, wanita itu maju mendekat pada saudarinya kemudian meletakkan gelas kosong di atas piring yang Viona bawa.


"Cocok sekali,"


Tidak ada perlawanan Viona hanya diam tanpa mau menanggapi saudari gilanya itu, ia meletakkan kembali piring yang akan dia bawa ke atas meja kemudian mengambil minuman baru untuk dia bawakan kepada Winata di yang berdiri tidak jauh dari tempatnya saat ini.


"Kau tidak ada bedanya dengan pe*acur itu."


Tap! Viona berhenti melangkah saat Naura kembali bersuara, kali ini wanita itu tidak hanya berbicara untuk Viona sendiri tapi juga orang lain dan sudah jelas siapa yang di sebut pe*acur itu.


"Mulutmu sangat kotor." Sumpah Viona merutuki ketidakhadiran Joan yang membiarkan istrinya berjalan-jalan dengan bebas seperti ini.


Wajah Naura tidak sebanding dengan mulutnya yang kotor itu.


"Memang benarkan? Teman mu itu pe*acur?


Kyaaa!


Jeritan Naura yang begitu keras membuat semua orang yang tadinya sibuk dengan kegiatan masing-masing kini memperhatikan pertengkaran mereka berdua di sana.


Viona kehilangan kesabaran alhasil untuk membungkam mulut Naura dia menyiramkan gelas berisi jus di tangannya ke wajah saudari tirinya itu.


"Naura!" Joan langsung berlari menghampiri sang istri yang kini tubuhnya sudah basah oleh jus yang Viona siram.


"Kau!"


Plak!


Kericuhan kembali terdengar saat setelah Joan melayangkan tamparan ke wajah Viona, pria itu tidak segan mengangkat tangannya bahkan ketika mereka berada di tempat umum.


"Lancang sekali pelayan sepertimu menyentuh istriku!"


Viona tersenyum sinis, tidak peduli dengan rasa sakit akibat tamparan yang Joan berikan kepadanya.


"Jaga mulut istrimu itu agar tidak berbicara buruk mengenai sahabat ku!"


"Aku mengatakan yang sejujurnya! Kenapa kau tidak terima?"


Joan memakaikan jasnya ke tubuh sang istri, "Lagipula sedang apa kau di sini? Seharusnya kau jaga anak Pe*acur di rumah mu yang jelek itu!"


Mulut Naura memang tidak bisa di filter, bahkan keadaan seperti ini wanita itu masih sanggup mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas untuk orang yang bahkan sudah tidak ada di dunia ini.


"Arka adalah putraku! Jangan berbicara sembarangan!"


"Apa?"


Bukan hanya Naura atau Joan yang terkejut, semua tamu undangan juga turut mendengar ucapan Viona yang mengatakan jika Arka adalah putranya.


"Kau bahkan mengaku-ngaku ibu dari putra tuan Dave?"


Viona terdiam dia baru saja tersadar dengan apa yang ia ucapkan barusan, bagaimana dia bisa lupa jika di sana bukan hanya mereka saja? Tapi banyak tamu yang lain.


"Apa maksudmu Viona?" Dave awalnya tidak peduli dengan pertengkaran keluarga antara Viona dan saudari wanita itu, tapi dirinya terusik saat Viona dengan enteng mengatakan jika dia adalah ibu dari Arka.


Wajah Viona sembab, air mata terus mengalir melewati pipinya. Rasa sakit akibat tamparan tidak terasa karena pandangan semua orang yang terarah padanya.


"Sejak kapan Arka menjadi putramu? Jangan bermimpi."


Ucapan Dave di hadapan semua orang semakin mempermalukan Viona, pria itu semakin menjelaskan perkataan Naura jika dia hanya mengaku-ngaku sebagai ibu dari Arka. Lebih parahnya lagi sebagian tamu tertawa mendengar ucapan Dave itu.


Apa yang salah dengan ucapannya? Arka memang benar putranya. Tapi kenapa semua orang tertawa? Dia tidak ingin menjadi siapa pun dalam keluarga Darmawangsa, yang ia inginkan adalah terus bersama Arka sampai putranya itu tumbuh besar dan sehat.


Viona tersenyum getir di sela tangisnya, seharusnya dari awal dia tidak berharap dengan keluarga ini. Hanya karena tinggal sebagai pengasuh Arka dan mendapat kebahagiaan semua dari para pekerja, bukan berarti dia bisa berharap lebih.


Lagi pula Arka sudah cukup besar untuk hidup tanpa ibunya kan? Putranya itu pasti akan mengerti.


"Anda benar, Arka memang bukan putra saya." Yah memang itulah kenyataannya Arka bukanlah bayinya.


Viona menatap wajah Dave dengan ekspresi terluka, pria yang dia kira sudah mulai menganggapnya sebagai ibu dari Arka ternyata sama dengan Naura.


Viona menghapus air mata di pipinya dengan tangan kosong, kemudian dia berjalan melewati Davendra menuju tempat putranya berada.


Di sana, Arka sudah tertidur lelap di pelukan sang nenek. Nyonya Winata, apa dia tidak menganggapnya juga? Selama ini?


"Nyonya."


Wina tidak berkata apa-apa yang di lakukan wanita itu hanya diam sambil menatap Viona. dia menyaksikan semuanya tapi tidak menyangka jika Dave bisa mengatakan perkataan seperti itu pada Viona.


"Tolong jaga Arka, Aruna menitipkannya pada ku tapi aku tidak bisa menjaganya dengan baik, hanya anda yang bisa menjaga Arka."


Viona mengusap wajah Arka lembut, wajah ini akan semakin berubah saat dia dewasa. Dan saat itu tiba Viona tidak yakin bisa mengenali wajah putranya lagi.


"Jangan nakal ya, kamu harus menjadi anak baik seperti ibumu."


Cup...


Kecupan terakhir yang Viona berikan sebelum dia tidak tau kapan lagi bisa melihat wajah putranya nanti, bahkan setelah ini Viona tidak tau dia akan hidup atau tidak.


TBC.....