
Davendra Darmawangsa tidak bisa melepaskan pandangannya dari seorang wanita cantik dengan gaun pengantin yang membalut tubuhnya di depan sana, Viona Calista berjalan perlahan dengan sang ayah yang mengantarnya menuju altar.
Gadis itu tersenyum walaupun hatinya terasa sakit saat ayah yang selama ini membuangnya mengantarnya menuju altar pernikahan.
"Kau hebat bisa menarik perhatian seorang Darmawangsa nak, kehidupan mu akan terjamin di masa depan." Adam mencoba mengajak putri kandungnya berbicara, sejak tadi gadis kecilnya itu hanya tersenyum seolah-olah bahagia bersamanya.
Padahal dia tau jika Viona menahan amarah di hatinya, makanya gadis itu sama sekali tidak mau mengajaknya berbicara sedikit pun.
Sampai mereka tiba di altar pun Viona sama sekali tidak membuka mulutnya untuk berbicara pada sang ayah.
"Tuan Davendra, aku titipkan putriku ... satu-satunya padamu." Adam meletakkan tangan putrinya di atas tangan Dave, pria paruh baya itu menggenggam tangan keduanya dengan erat sebelum melepaskan mereka.
Kenapa dia baru sadar jika selain putri tirinya di rumah dia juga punya putri kandung yang terlunta-lunta sejak kecil tanpa perhatian darinya? Baru saat gadis kecilnya itu akan melepas masa lajangnya dia baru menyadari keberadaan putrinya itu.
"Aku akan menjaganya lebih baik dari anda, tuan Adam."
Viona tidak melepaskan senyuman di bibirnya, orang-orang yang melihat mungkin mengira jika Viona sangat bahagia di antar oleh ayahnya ke pelaminan padahal aslinya gadis itu menahan diri untuk tidak mencaci maki sanga ayah di depan umum.
Dave menggandeng Viona menuju pendeta yang sedang menunggu mereka di altar, sedangkan Adam kembali ke tempat duduk di mana istri dan putrinya tengah menunggu.
"Tuan Adam, saya tidak menyangka anda punya putri lain selain Bianca dan Naura?" Seorang rekan kerja yang mengenal Adam mencoba menggali informasi dari pria itu.
"Viona memang tidak suka menjadi pusat perhatian, makanya saya menyembunyikannya." Jawab pria itu berdusta, bagaimana bisa dia menjawab jujur jika Viona sudah ia usir dari rumah?
"Benarkah begitu? Seorang kenalan ku pernah melihat Viona bekerja di restoran milik Darmawangsa, apakah itu benar?"
"Permisi?"
Mereka yang tadinya berusaha memojokkan Adam tidak bisa berkutik saat Winata datang menghampiri mereka.
"Jangan coba-coba membuat rumor yang aneh-aneh untuk menantuku." Wanita itu berbicara dengan ramah, namun orang-orang tentu tau jika yang Winata ucapkan itu bukan hanya perkataan biasa, melainkan sebuah ancaman yang bisa saja menghancurkan karir mereka semua.
"Hahaha, maafkan kami nyonya. Kami hanya bertanya saja," mereka tertawa canggung. Adam yang merasa tertolong bisa bernafas lega. ada untungnya menjalin hubungan dengan keluarga Darmawangsa, tidak ada siapa pun yang berani mengganggu mereka.
"Nikmati waktu kalian, saya permisi dulu." Winata berjalan melewati mereka yang hampir saja membuat keributan di pesta pernikahan putranya.
Kedua matanya memicing saat melewati Lalita dan juga kedua putrinya. Keduanya memberi salam pada Winata tapi sayangnya wanita paruh baya itu hanya melengos.
"Sombong sekali wanita tua itu," ucap Naura begitu ibu dari Davendra itu berlalu dari hadapan mereka.
Lalita menyenggol lengan putrinya, "jaga bicaramu nak, banyak telinga yang bisa saja mendengar ucapan mu itu." Lalita berbisik lirih pada putri sulungnya.
Semua orang kembali fokus kepada sepasang pengantin di depan sana, Davendra menggenggam kedua tangan istrinya yang beberapa menit yang lalu ia sematkan cincin ke jari manisnya.
"Tuhan memberkati pernikahan kalian berdua."
Viona tidak tau harus bersikap bagaimana, ia ingin berbahagia namun pernikahan ini bukanlah keinginannya. Bersedih pun dia tidak merasa seperti itu, karena pernikahan ini membuatnya akan terikat dengan Arka untuk selamanya.
"Ada apa?" Dave menyadari kegelisahan yang istrinya itu rasakan sejak mereka mengucapkan janji suci beberapa saat lalu.
Viona mendongak kemudian menggeleng untuk menjawab pertanyaan Davendra.
Jari panjang Dave mengangkat dagu milik sang istri, "ada apa hm?"
Viona tidak bisa mengalihkan matanya dari pria yang sudah menjadi suaminya itu, kenapa Dave tampan sekali hari ini?
"Tidak ada ciuman?" Entah kenapa pikiran konyol itu terlintas begitu saja di benak Viona, karena biasanya dia menyaksikan sepasang pengantin akan berciuman setelah mengucapkan janji.
Dave tersenyum tipis, pria itu melepaskan kedua tangannya dari genggaman mereka kemudian ia menjatuhkan tangannya untuk memeluk pinggiran pinggang Viona. Pria itu menarik tubuh Viona mendekat merapatkan tubuh mereka berdua dengan intim.
"Tanpa ciuman pun pernikahan kita sudah sempurna," bisiknya lirih di samping telinga sang istri. Ciuman adalah penyempurnaan pernikahan yang biasanya di lakukan setelah mengucapkan janji suci, tapi tidak semua orang melakukannya di depan umum seperti ini. Termasuk juga dirinya Dave tidak suka mengumbar kemesraan di hadapan semua orang.
Dave mengangkat dagu Viona agar gadis itu menatap fokus padanya, saat kedua mata mereka saling bertautan Viona tidak sanggup menatap wajah Dave sedekat ini. Karena itulah gadis itu mengalihkan wajahnya ke samping sialnya dia baru sadar ternyata mata semua orang tertuju padanya dan juga Dave.
Bagaimana bisa dia lupa jika dirinya dan Dave berada di altar? Sudah pasti semua orang menatap ke arah mereka berdua di atas sana.
"D-dave menjauh," Viona mendorong tubuh besar Dave agar memberi jarak tubuh mereka, tapi bukannya menjauh Dave malah menangkup wajah Viona dengan tangan yang semula bertengger di pinggang gadis itu.
Cup! Ciuman manis yang begitu lembut Dave berikan di dahi sang istri, pria itu tidak ingin di hari pernikahannya Viona banyak memikirkan hal tidak berguna seperti ciuman yang tidak ia berikan sebelumnya.
Gemuruh tepuk tangan yang memenuhi ruangan terdengar di telinga sepasang pengantin di atas sana, Viona memejamkan kedua matanya begitu erat menahan malu dan juga bahagia yang tidak bisa di jelaskan oleh kata-kata.
Samar-sama dia juga mendengar teriakan ibu mertuanya di bawah sana, sepertinya nenek dari Arka itu malu melihat putra dan menantunya berciuman di atas sana.
"Sudah aku bilang jangan berciuman di depan semua orang! Dasar anak itu!" Gerutu Winata kesal karena Dave tidak mendengar perkataannya untuk tidak melakukan hal itu di sana.
"Arka sayang, jangan tiru kelakuan ayahmu itu ya?" Winata mencoba berbicara dengan cucunya, tapi sayangnya cucunya itu juga tertawa begitu senang melihat ayah dan ibunya bersatu di atas sana.
.
.
"Selamat untuk pernikahan kalian berdua Tuan Davendra dan Nona Viona," seorang kolega dekat Dave datang menghampiri mereka berdua, saat keduanya berada di stand makanan.
Dave menemani istrinya mengambil makanan di sana, Viona sudah kelaparan sejak pagi tapi semua orang melarangnya untuk makan karena khawatir perutnya akan kembung dan sakit nanti saat upacara pernikahan.
Viona tidak mengenal siapa yang menyapa nya dan juga Dave, tapi gadis itu tetap tersenyum ramah untuk menghormati tamu suaminya itu.
"Terima kasih tuan Vero, selamat juga untuk kehamilan istrimu." Dave memang mendengar jika istri dari Vero, Pita tengah hamil anak pertama mereka.
Pria itu tertawa
"Nona, jika tidak sibuk anda bisa main ke rumah kami. Istriku sering kesepian di rumah sendiri,"
"Akan aku usahakan." jawab Viona tidak yakin
Dave sendiri terlihat tidak suka, "anda salah mengundang pengantin wanita untuk ke rumah di saat masa pengantin baru tuan."
Vero meneguk ludahnya susah payah, sepertinya dia melakukan kesalahan yang membuat Dave berekspresi keras seperti itu.
Viona menggenggam tangan suaminya lembut, pria itu menoleh pada sang istri dan langsung di sambut senyuman manis dari Viona.
"Kalau begitu saya permisi, tuan dan nona."
Vero pergi dari sana terburu-buru, tidak ingin kembali menyinggung sepasang pengantin yang sedang di mabuk asmara di sana.
"Kenapa anda berbicara seperti itu?" Viona berbicara pada Dave setelah pria bernama Vero pergi dari sana.
"Bicara seperti apa?" Dave mengangkat alisnya tidak mengerti, sepertinya dia tidak mengatakan perkataan yang menyinggung.
Viona mendengus tidak ada gunanya berbicara dengan pria yang tidak pernah salah seperti Davendra. Viona tidak menjawab pertanyaan suaminya, gadis itu lebih memilih menyibukkan dirinya dengan aneka makanan di atas meja.
"Kita bertemu lagi tuan Dave!"
Sepasang suami istri itu menolehkan kepalanya ke arah sumber suara, bukan lagi Dave yang tidak mood menghadapi lawan bicaranya maka sekarang Viona juga merasakan hal yang sama.
Bianca, kenapa gadis itu ada di sini?
TBC....