Not My Baby

Not My Baby
27. Berkunjung ke rumah calon mertua



Bingkisan serba mewah dari brand kenamaan D*or berjejer rapi di ruang tamu keluarga Adamson dan juga Lalita. Mulai dari tas, sepatu, baju-baju branded semua lengkap ada di sana.


Kedatangan pewaris Darmawangsa yang tiba-tiba membuat satu rumah panik, tidak ada alasan yang membuat Davendra harus menginjakkan kakinya ke rumah Mereka ini.


Adam menegang, apakah kedatangan Dave karena keributan yang di buat kedua putrinya di pesta seminggu yang lalu?


"Tuan Dave, kami tidak menyangka jika anda akan datang ke rumah kami." Tuan rumah membuka suara memecah keheningan yang sejak tadi menyelimuti mereka di sana.


Lalita sama gugupnya dengan sang suami, apalagi dia teringat kelakuan putrinya di pesta ulang tahun putra dari pria di depannya ini.


"Aku juga tidak menyangka," Gumamnya begitu lirih. Suaranya tidak terdengar sampai ke telinga dua orang yang duduk di seberangnya itu.


"Ayah, ibu! ... eh? Ada tamu?" Bianca, gadis remaja yang sudah menginjak semester 5 universitas itu turun dari lantai atas dengan pakaian yang begitu rapi, terlihat sekali jika dia berniat pergi keluar.


Bianca terpana dengan ketampanan pria dewasa yang bertamu ke rumahnya saat ini, tubuh kokohnya terbalut kemeja berwarna hitam yang begitu membentuk lekukan tubuh pria itu, sungguh menggoda.


"H-halo." Sapanya pada Dave. Sayangnya sapaannya itu hanya di anggap angin lalu oleh pria itu.


Lalita memanggil Bianca untuk duduk di antara dirinya dan sang suami, begitu gadis itu duduk Dave baru mulai membuka suaranya.


"Aku ingin melamar putri kalian," ucapnya di hadapan keluarga Viona langsung.


Semua orang terkejut, ternyata kedatangan Dave kemari bukanlah menuntut pertanggung jawaban mereka akibat ulah dari Naura saat di pesta. Adam menoleh pada putri bungsunya, siapa yang menyangka jika pengusaha sukses seperti Davendra tertarik dengan putrinya ini?


Bianca sendiri sudah tersenyum begitu lebar karena ucapan pria di depannya yang katanya ingin melamar dirinya, sapaannya tadi di abaikan mungkin karena pria di hadapannya ini malu-malu padanya.


Adam mengusap lembut kepala sang putri, "tuan Dave, putri saya memang sangat cantik, dia juga penurut dan baik hati. Tapi Bianca terlalu kecil untuk menikah saat ini." Ujarnya dengan bangga,


Dave mengangkat sebelah alisnya, apa yang pria tua ini katakan sebenarnya?


"Biarkan Bianca menyelesaikan kuliahnya dulu tuan," kali ini Lalita lah yang menanggapi lamaran yang Dave ajukan barusan.


"Bianca, -


"Siapa Bianca? Bukan dia yang aku lamar." Sungut Dave kesal, lagi pula siapa yang suka dengan gadis kecil yang hanya bisa menghabiskan uang orang tuanya.


Lihat ekspresinya itu, saat tau bukan dia yang akan ia nikahi wajahnya langsung berubah seakan bersiap untuk meledak-ledak. Terlihat sekali jika Bianca tidak biasa di tolak oleh siapa pun dalam hidupnya.


Adam dan Lalita saling berpandangan, lalu siapa yang pria ini lamar?


"Lalu siapa tuan? Jika maksud anda Naura, putri sulung kami itu sudah menikah. Anda bahkan mengutus orang untuk hadirkan?"


"Kau hanya punya dua putri?"


Adam tersentak, sekarang dia mengerti jika yang pria ini maksud adalah putri yang sudah lama ia buang. Viona.


"Viona?" tanyanya memastikan.


Dave mengangguk


"Ya! Aku ingin mengambil Viona menjadi istriku." Tegasnya.


"Kau tidak bisa menikah dengannya!" Bianca berteriak begitu keras, sampai-sampai Dave merasa terganggu dengan suara cempreng gadis itu.


Lalita berusaha memperingati putrinya, tapi sayangnya Bianca tidak mau mendengarkan ucapannya.


"Kenapa?"


Bibir tipis gadis itu tersenyum miring, "tentu saja karena dia sudah punya anak haram!"


"Hentikan Bianca!" Adam panik, ia khawatir jika putrinya ini akan menyinggung Dave nantinya.


"Anak haram?"


"Ya! Dia merawat anak dari teman pelacurnya, sudah pasti anak itu adalah anak haram!"


Rahang Davendra mengeras, jika saja kedatangan nya kemari bukan berniat baik maka dia akan merobek bibir tipis gadis itu.


"Kau tau siapa yang kau sebut anak haram itu?"


"A-aku,-


Tatapan tajam Dave beralih pada Adam dan istrinya,


"Tuan Adam, tolong jaga mulut putrimu ini jika tidak ingin aku merobek mulutnya!" Desisnya begitu menusuk, Dave bangun dari kursi yang sejak tadi ia duduki. Di ikuti dengan kedua orang tua Viona yang turut bangun dari duduk mereka.


"Sekali lagi kau menghina putraku, aku pastikan akan membunuh putrimu itu." Tanpa menunggu Adam bersuara, Dave langsung meninggalkan kediaman itu begitu saja.


Mereka bertiga terkejut, terlebih lagi sang kepala rumah tangga. Ternyata anak yang di bawa putrinya saat itu adalah darah daging Davendra? Bagiamana bisa?


"Suamiku!" Lalita membantu Adam duduk dengan benar di sofa saat melihat suaminya itu hampir saja limbung ke lantai.


"Bagaimana bisa anak yang Viona bawa adalah anak Davendra?" Pria paruh baya itu memijit pelipisnya yang terasa pusing.


"Ayah! Anak itu mungkin saja bukan putra tuan Davendra! Viona bisa saja mengada-ngada kan?" Gadis sembilan belas tahun itu masih belum terima jika pria se hebat Davendra lah yang menjadi suami Viona.


Bagaimana bisa Viona selalu mendapat keberuntungan dalam hidupnya? Yang lebih pantas untuk Davendra adalah dirinya!


"Cukup Bianca! Jangan mencari gara-gara dengan pria itu!"


"Ayah aku menyukai nya! Aku tidak rela jika Viona yang mendapatkan nya!"


"Bianca hentikan itu!" Lalita mendekati putri bungsunya.


"Jangan membuat masalah," kedua mata itu saling bertatapan, Lalita memberi peringatan kepada putrinya untuk tidak membuat masalah yang nantinya akan menyulitkan mereka semua.


"Ibumu benar nak, tidak ada kesempatan untuk mengambil hati pria itu."


Pemenangnya adalah Viona, putri kandungnya dari mendiang istrinya itulah yang memenangkan hati seorang Davendra. Dalam hati dia senang karena Viona mendapatkan pria baik-baik yang memiliki masa depan cerah seperti putra tunggal Darmawangsa itu.


Sekali lagi Viona membuktikan bahwa keputusannya pergi dari rumah ini adalah benar, putrinya itu bisa hidup lebih bahagia daripada saat terkurung di rumah besar ini.


Adama menghela nafas lega, setidaknya salah satu putrinya lah yang mendapatkan seorang Davendra.


.


.


Viona mengajak Arka bermain di atas ranjang yang dia tempati saat ini, kondisinya yang masih terlalu lemah membuatnya tidak bisa berjalan-jalan jauh.


Arka tertawa begitu bahagia begitupun dengan Viona. Kesedihan yang mendera mereka selama seminggu ini hilang begitu saja saat mereka bersama seperti ini.


"Arka rindu mama?"


Bocah itu tidak menjawab, dia malah asik bermain dengan boneka karet di tangannya.


Karena gemas Viona langsung membawa bayi tampan itu untuk ia peluk.


"Jangan cepat besar ya? Mama tidak bisa meluk kamu lagi nanti," ucapnya di sela-sela pelukan mereka yang tertaut.


"Kalau besar, buat saja lagi yang kecil."


Viona tersentak kaget dia melepaskan pelukannya dari Arka, begitu tersadar ternyata selain mereka berdua ada makhluk asing yang mengganggu.


"Anda?"


Dave menggeleng kan kepalanya.


"Bicara santai saja," ucapnya sambil duduk di depan Arka dan Viona.


"Kenapa anda kemari?" Viona bertanya penuh selidik.


"Tentu saja membahas pernikahan kita." Jawabnya santai


"Pernikahan, kita?"


TBC....