
Pertemuan kedua antara Davendra dan juga pemilik tanah diadakan di Dreaming Restoran yang juga adalah cabang milik Dave.
Dave duduk bersama dengan Bianca dan juga James yang berada di kanan-kiri nya, tidak adalagi ketegangan di antara mereka karena adik tiri Viona itu ternyata pintar mencairkan suasana. Keakraban gadis itu dengan calon mitra bisnisnya terjalin begitu saja saat mereka bertemu.
"Aku jadi merindukan putriku," pria paruh baya itu terlihat menatap Bianca dengan senyum merekah.
"Jika anda bisa bekerja sama dengan kami, saya dengan senang hati akan menjadi putri anda paman," candaan yang Bianca lontarkan sejak tadi mengandung ajakan-ajakan yang membuat Dave dan James kagum.
Bukan seperti kolega tapi keduanya malah seperti anak yang meminta ayahnya membelikan dirinya mainan, tidak canggung sama sekali.
"Kau benar-benar ya! Tuan Dave anda beruntung memiliki karyawan seperti Bianca." Puji pemilik tanah pada Dave, Bianca sendiri tentu saja sangat bangga di puji seperti itu.
Dave mengangguk, "saya juga tidak menyangka." Ujarnya
"Anda sudah membaca proposal nya? Lalu bagaimana pendapat anda sekarang?"
Bianca menegakkan tubuhnya menunggu persetujuan yang akan pemilik tanah ucapkan.
"Tawaran yang sangat bagus, saya menyukai pembagian keuntungan yang ada di dalam proposal ini."
Pria paruh baya itu kemudian mengambil pulpen di sakunya, goresan tinta berharga jutaan dollar itu tertulis rapi di atas kontrak kerja sama yang berada di bagian belakang proposal.
Davendra begitu senang begitupun dengan Bianca, James sendiri sampai membuka kacamatanya tidak percaya jika pemilik tanah yang selama berminggu-minggu ini menolak tawaran dari pihak mereka sekarang membubuhkan tandatangannya di atas materai.
Pria paruh baya itu mengulurkan tangannya pada Davendra, yang tentu saja langsung di sambut antusias oleh pria itu.
"Senang bekerja sama dengan anda tuan Davendra."
"Terimakasih banyak tuan, kami tidak akan mengecewakan anda," Dave membalas tidak kalah ramah.
Proses negosiasi mereka berakhir dengan keberhasilan yang sempurna, tidak sia-sia kerja keras mereka selama beberapa Minggu ini.
.
.
Viona menepuk-nepuk punggung Arka yang tengah tertidur pulas dalam gendongannya, sekarang pukul satu malam tapi saat mendengar tangisan Arka tadi Viona terbangun dan langsung menemui putranya. Sepertinya balita tampan itu bermimpi buruk karena itu Arka yang biasanya tidak menangis sekarang malah menangis kencang.
Baru setelah Viona menggendongnya setengah jam lebih anak itu baru tenang dan akhirnya kembali terlelap dalam tidurnya.
Saat Viona menenangkan Arka di ruang tamu suaminya datang sambil mengusap matanya. Davendra terbangun saat tidak ada Viona di sampingnya.
Pria itu ikut memeluk Viona dan Arka dari belakang, posisinya kepala Arka jatuh di pundak kiri Viona sedangkan kepala Dave jatuh di bahu kanannya. Dave meletakkan tangannya di bawah pantat Arka agar beban Viona yang tengah menggendong balita itu berkurang.
"Kenapa?" Bisik pria itu saat melihat wajah sembab putranya.
Viona mengusap bekas air mata putranya dengan lembut.
"Sepertinya mimpi buruk," jawabnya
"Lalu bagaimana dengan mu? Kenapa bangun?" lanjut Viona bertanya pada suaminya.
Besok bukan weekend sudah pasti pria ini akan berangkat pagi kekantor seperti biasa, tadi saja Dave pulang hampir tengah malam tapi sekarang pria ini malah bangun dan menyusulnya kemari.
"Kau meninggalkan ku sendiri, aku tidak bisa tidur." Dave semakin mengeratkan pelukannya, sebenarnya dia sedikit terkejut karena Viona tidak berada di sampingnya saat dia tertidur.
Viona tersenyum tipis kemudian dengan tangannya yang bebas wanita itu mengusap rambut lebat suaminya.
"Ayo kembali ke kamar," ajaknya pada Dave. Pria itu menurut mengekori Viona dari saat membawa Arka ke kamarnya dan sampai di kamar mereka sendiri.
Sungguh dia sangat merindukan memeluk istrinya seperti ini, dia juga rindu bisa berbicara seperti pasangan suami-istri di hari-hari biasa.
"Maaf," ucap Dave di sela-sela kecupannya.
Viona yang belum tertidur bisa mendengar permintaan maaf dari Dave, wanita itu menjawab dengan pelukan yang tidak kalah erat untuk suaminya. Jika di tanya apakah Viona rindu? Tentu saja jawabannya, sangat! Ia sangat merindukan Davendra, tapi sebagai istri dari seorang pebisnis dia sudah tau jika hari-hari ini nantinya akan sering ia rasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Seperti biasa dia tidak akan menuntut apapun dari suaminya, yang perlu dia fokuskan adalah Dave bisa membagi waktunya dengan Arka itu saja.
...****************...
Pagi harinya Viona membantu Dave bersiap-siap setelah menyelesaikan urusan dapur bersama dengan Nyonya Gee.
"Hari ini lembur lagi?" Dave memberikan dasi untuk di pasangkan oleh istrinya.
"Tidak, semua sudah beres."
"Berarti hari ini pulang cepat?"
Dave tersenyum miring, "kenapa? Kau ingin mengajakku berkencan?" Goda pria itu membuat wajah Viona memerah karena malu.
"M-mana ada!" Sangkalnya cepat, "aku hanya ingin mengajak mu menemui ibu." Lanjut Viona menjelaskan.
Mendengar alasan yang di buat istrinya Dave mendengus, belum lama mereka bertemu ibu tapi istrinya itu masih ingin menghabiskan waktu bersama ibu mertuanya?
Dave menyentuh pundak Viona
"Tidak bisa Honey, malam ini James akan menjemput mu."
"Untuk apa?" Tanya Viona bingung
"Kantor mengadakan acara untuk keberhasilan proyek kita, jadi sebagai Nyonya muda Darmawangsa istri ku ini harus hadirkan?" Jelas Davendra
Viona terkejut, dia tidak pernah membayangkan akan hadir di acara kantor suaminya, berdiri berdampingan dengan Davendra di ruang umum saja dia masih merasa tidak pantas apalagi berdiri sebagai istri dari direktur?
Terlihat jelas di wajah Viona akan rasa tidak percaya diri yang wanita itu alami, sebagai seorang suami tentu saja Dave menyadari hal itu.
"Tidak perlu takut sayang, semua akan baik-baik saja." Di tariknya Viona kedalam pelukannya, mencoba memberikan kepercayaan diri jika istrinya ini sangat layak berdiri berdampingan dengannya.
"Bagaimana jika keberadaan ku malah membuat mu di tertawakan?"
"Siapa yang berani melakukan itu? Aku akan membunuhnya jika berani menjelek-jelekkan istriku."
Benarkah? Viona masih tidak yakin jika semua akan baik-baik saja dengan adanya keberadaan dirinya di sana.
.
.
Awalnya Viona bertanya-tanya acara apa yang di buat oleh perusahaan? Sebelumnya Davendra tidak menjelaskan apa-apa tentang acara di kantornya. James datang seperti yang di jadwalkan Dave untuk menjemputnya, di perjalanan pria berkacamata itu mengatakan sesuatu tentang pekerjaan dan urusan pribadi yang tidak boleh di campur aduk.
Viona tidak mengerti kenapa James mengatakan hal itu, tapi setibanya mereka di lokasi tujuan Viona akhirnya mengerti kenapa James mengatakan hal itu.
Di depan sana sepanduk berukuran besar bertuliskan ucapan selamat untuk Orang yang sangat Viona kenal.
Bianca ...
TBC.....